
Bulan dan Chelsea pun mencoba makan sambal setan buatan Tere keduanya langsung megap-megap karena kepedesan.
" Kau sudah punya suami ya rupanya." ujar Tere.
" Iya, Ma ... Aku sudah menikah dengan pria yang aku inginkan sejak aku kecil." ujar Bulan.
" Oh ya?" Tere seakan tak percaya.
" Iya, dulu aku mengikutinya terus sampai dia muak dan marah-marah, tapi aku adalah orang yang pantang menyerah aku mengekornya terus menerus, sampai pada akhirnya dia membiarkanku terus di sisinya, tapi na'asnya kami mengalami kecelakaan kami terpisah puluhan tahun, saat dipertemukan lagi aku dijodohkan dengannya, dia masih tetap kaku dan tidak menyenangkan, sampai akhirnya kami jatuh cinta karena perjodohan itu, dan rupanya dia adalah pria yang aku ingin nikahi sejak kecil, ingatanku kembali saat aku sudah menjadi istrinya Ma, aku sangat bahagia memiliki dia." Bulan bercerita penuh dengan kebahagiaan.
Tere pun ikut berbahagia untuk Bulan.
" Andaikan Mama juga mengalami hal sama, sayang sekali Moses tidak pernah mencintaiku." ujar Tere.
" Mama ... " Bulan jadi merasa tidak enak hati pada Tere.
" Mama tidak masalah, mama dijodohkan pada Moses juga belum jatuh cinta pada Moses." ujar Tere.
" Apa Mama bahagia?" tanya Bulan.
" Ya, bahagia ... Moses memperlakukanku dengan baik, meskipun dia tidak pernah mengucapkan kata cinta padaku, dengan perlakuannya yang baik itu sudah cukup membuatku merasa di hargai, sampai akhirnya aku punya Silya." ujar Tere.
" Ayah punya wanita banyak bagaimana bisa kau bahagia!" ujar Sanny.
" Sebenarnya Ayahmu tidak mementingkan gander anaknya, tapi nenek kalian itu yang terlalu banyak aturan, jika aku tidak bisa melahirkan anak laki-laki, maka posisi ayahmu akan diganti oleh saudaranya, aku tidak mau melahirkan anak laki-laki dengan alasan yang sudah mama jelaskan, dan akhirnya Ayahmu mengambil banyak wanita untuk melahirkan putranya, tapi sampai saat ini tidak ada dari wanita mereka yang hamil." Tere terkekeh.
" Hahahah, jangan - jangan ayah Moses sudah tidak prima lagi Ma." ujar Bulan tertawa.
" Aku mengira seperti itu, tapi setelah aku selidiki itu adalah ulah saudara ayahmu, yang memberikan uang pada wanita ayahmu untuk menggugurkan bayinya, wanita itu sangat serakah tapi pasti juga di ancam." ujar Tere.
" Abang, kau harus hati-hati." Bulan langsung mengkhawatirkan abangnya itu.
__ADS_1
" Aku akan membantu menjaganya, kau tenang saja." ujar Tere pada Bulan.
" Terimakasih Ma, lalu di mana nenek itu?, apa dia masih hidup." ujar Bulan bertanya.
" Ayahmu belum mengumumkan secara resmi di keluarga Zenta, tentu nenekmu belum tahu jika dia memiliki cucu laki-laki, dilihat dari wajah saja, mama yakin nenekmu tidak akan melakukan tes DNA." jawab Tere.
" Abang, semangat...!" ujar Bulan menyemangati abangnya.
" Aku ingin kalian bisa saling menyayangi dengan Silya, aku harap anak itu tidak terlalu lama keras kepalanya." ujar Tere.
" Ma, kalau gitu ajak kita makan malam bersama untuk mengenal satu sama lain." pinta Bulan.
" Baiklah nanti mama aturkan." ujar Tere menyetujuinya.
Setelah berbincang dengan puas dan sudah akrab satu sama lain, Tere dan Sanny pun berpamitan pulang.
Di kota H.
Di kediaman Rio.
Karena kini kehamilan Farah sudah memasuki trimester 3 awal.
" Aku bosan Rio, aku ingin melakukan sesuatu, jika diam saja aku malah capek." ujar Farah.
" Aku rindu dengan kak Bulan, bawa aku bertemu dengannya." ujar Farah.
" Tunggu, tunggu Abang longgar, kita akan ikut ke kota B." Ujar Rio.
Rio juga sangat rindu dengan kakak' iparnya tapi, James tidak memberi tahu di mana Bulan intership, dan lagi Rio sudah 3 kali pindah rumah karena Ibunya selalu datang untuk menyakiti Farah.
Kali ini urusan pekerjaan di serahkan pada James, dia menjaga Farah dengan baik di rumah dan tidak diperbolehkan keluar jika tidak terlalu perlu, takutnya Lala mengetahui tempat tinggal mereka lagi.
__ADS_1
Terakhir kali Lala mendorong Farah hampir tersungkur, untunglah saat itu ada Lindam yang menangkap Farah tepat waktu.
Jika tidak entah apa yang akan terjadi pada anak dan istrinya.
" Hidup kita ini seperti buronan, maafkan aku Farah, aku menyadari aku membawa derita dalam hidupku, jika kau ingin pergi dan lepas dari penderitaan ini aku akan melepaskanmu, kau tidak perlu khawatir untuk biaya hidupmu dan anak kita, aku akan bertanggung jawab." ujar Rio.
Farah memeluk Rio dengan erat, Farah sudah jatuh cinta dengan Rio, karena selama mereka hidup terpisah dari orang tuanya, Rio sangat baik padanya.
" Apa kau akan membuang kami Rio?" tanya Farah.
" Bukan, aku hanya merasa gagal untuk melindungimu dan anak kita." ujar Rio.
Farah meraih wajah Rio untuk menatap dirinya.
" Rio, aku tidak mau berpisah denganmu, aku hanya punya kau di sini, aku dan anakku hanya punya kau untuk aku andalkan, bagaimana bisa kau ingin kami meninggalkanmu?" Ujar Farah.
Rio langsung meraih tengkuk Farah dan mencium bibir Farah penuh dengan gairah, semenjak ada Farah, dia tidak tertarik lagi dengan wanita - wanita liat diluar sana, Rio hanya ingin melakukannya dengan Farah, entah apa mungkin karena sudah halal, rasa itu lebih nikmat dari pada dia memakai wanita bayarannya.
Rasanya luar biasa saat melakukannya dengan istrinya yang dia menikah pun karena tragedi di luar BMKG.
" Pelanlah, bukankah dokter memintaku untuk tidak capek-capek?" protes Farah.
Karena perut Farah sudah agak besar, tentu dia sangat sulit untuk bergerak bebas.
" Kata dokter aku harus bekerja keras untuk membuat jalan mudah untuk anakku keluar nanti." ujar Rio bersemangat.
Memang begitulah kelakuan Rio, setelah hubungannya dengan Rio semakin dekat, Rio sudah tidak pernah menyebutkan nama Luna lagi saat mereka berhubungan, sekarang nama Farah lah yang disebut Rio dengan syahdu.
Tapi Farah tidak mau mengartikan sembarangan, dia tetap hati-hati dengan prasangkanya agar dia tidak terluka, meskipun Farah sudah jatuh cinta pada Rio, tapi Rio belum pernah mengatakan perasaannya pada Farah, perlakuan baik itu juga tidak Farah artikan bahwa Rio juga jatuh cinta padanya.
Bisa saja itu semua demi anak yang ada dalam kandungannya, tapi Farah akan pelan-pelan meraih hati Rio, agar dia dan anaknya bisa terus hidup bersama dengan Rio sampai akhir hayat.
__ADS_1
Dia selalu mengingat kata-kata Bulan untuk tidak menyerah mendapatkan hati suami kita sendiri meskipun mereka menikah tidak berdasarkan cinta, tapi Rio adalah orang yang harus dia perjuangan karena sudah menjadi miliknya.
Memang sulit tapi Farah yakin, suatu saat nanti Rio juga akan mencintainya, Farah berharap cinta Rio hadir bersama hadirnya anak mereka nanti.