
"Abang aku pulang ... " ujar Rio.
Setelah membuat kegaduhan, Rio langsung pamit pulang dengan Lindam.
" Anak itu benar - benar sama menyebalkan dengan ibunya, tapi masih di batas wajar!" James menggerutu.
Sekarang dia harus bagaimana?, istrinya mengunci pintu kamar. James pun menyalakan televisi agar tidak hening, karena ponsel dan laptopnya di dalam kamar.
Selang satu jam terdengar suara membuka pintu, rupanya itu Bulan keluar dari kamar dan segera menghampiri suaminya.
" Moon ada apa?, apa sudah tidak marah?" tanya James.
" Huaaaa, maafkan aku suamiku, aku istri durhaka menguncimu di luar tanpa perasaan, hiks hiks hiks ... Maaf!" ujar Bulan merasa bersalah.
James sampai tak bisa berkata - kata, bagaimana bisa ada istri seperti ini di dunia, bahkan kemarin James mengunci dari dalam kamar saja, yang tidak bisa tidur Bulan, sekarang sudah berkebalikan, dia sendiri yang juga merasa bersalah.
" Moon, ... " James menarik istrinya duduk dipangkuannya, memeluk dan menggigit pundak Bulan dengan gemas, karena memang sangat menggemaskan sekali istrinya ini.
" Agh, ... sakit, tapi tidak apa-apa, tapi jangan sampai dihatimu mengutukku menjadi istri durhaka suamiku." Ujar Bulan dengan lugunya.
" Hahahah ... anak nakal ini tidak pernah berubah." James terlihat tertawa tapi matanya berkaca-kaca.
" Suamiku, kau mengutukku menjadi anak nakal?, tapi aku tidak pernah nakal." ujar Bulan.
"Aku sangat bahagia memilikimu, bagaimana bisa aku mengutukmu menjadi istri durhaka, apa kau tidak bisa membedakan ekspresi di wajahku?" tanya James.
" Tidak, wajahmu tidak berubah sama sekali, bagaimana bisa aku membedakannya?" ujar Bulan, karena memang ekspresi James selalu datar.
" Hah?, masak?" aku merasa aku sudah tersenyum padamu." James menunjukkan senyumnya pada Bulan lebih jelas.
" Hahahahah, tapi bohong ... Aku tentu bisa membedakannya, saat bersamaku kau selalu menampakkan gigimu, terimakasih karena kau sangat peduli padaku, tapi tidak dengan wanita lain." ujar Bulan tertawa.
" Dasar nakal!" James mencapit pipi Bulan dengan gemas sampai bibirnya seperti ikan koi.
" Hmmmm, istriku Sayang ... " James memeluk kembali Istrinya. Karena sementara ini juga baru bisa mode pacaran anak SMA, karena keterbatasan James.
" Ayo tidur, kau masih dalam masa pemulihan, jangan begadang." ujar Bulan.
" Iya ... " James menurut.
Bulan segera membawa suaminya kembali ke kamar dan mereka pun segera tidur, karena besok masih harus berjuang lagi untuk sembuh.
Keesokan paginya seperti biasa, sebelum melakukan terapi pada suaminya, Bulan merendam kaki suaminya dengan air hangat terlebih dahulu selama sepuluh menit, kemudian baru melakukan terapi lanjutan selama 15 menit, setelah itu istirahat, dan meminum resep yang di racik oleh Bulan sendiri.
__ADS_1
Setelah selesai Bulan akan memijat kaki suaminya, tentu hal itu sangat menguras tenaga, Bulan sampai keringatan, James mengambil tisu dan mengusap keringat istrinya dengan lembut.
"Aku akan membayar setiap tetes keringatmu ini dengan kebahagiaan." ujar James pada istrinya.
" Suiiit, suiiit, suamiku bisa menggombal rupanya." ujar Bulan senyum - senyum.
" Aku sungguh-sungguh, kau kira bercanda." James mencium hidung mungil isterinya.
" Yea ... " Bulan langsung merangkul suaminya dengan erat.
" Baik, tolong dicatat baik-baik, berapa tetes keringat ku yang menetes suamiku aku akan menagihnya." tambah Bulan.
James hanya tertawa.
Sudah 2 bulan berlalu, James masih tidak ada kemajuan sama sekali. Sebenarnya Bulan sudah putus asa dengan hal itu, tapi dia selalu mengatakan pada James, sabar, dan sabar jangan menyerah.
Setelah James tertidur pulas, Bulan keluar dari kamar dan pergi ke balkon, Bulan menangis di atas Balkon, dia merasa gagal karena tidak bisa membuat suaminya mengalami perubahan.
Padahal James sangat percaya padanya, tapi kini Bulan sendiri yang hampir putus asa dengan dirinya, semua metode modern dan tradisional sudah dia terapkan tapi masih tidak ada kemajuan sedikit pun.
" Hiks hiks hiks ... " Bulan menangis terisak-isak.
" Bulan, ... ada apa?" tanya Sanny yang pasti mendengar tangisnya karena kamarnya di belakang.
" Abang ... " Bulan memeluk Sanny dan menangis tak karuan.
" Pasti soal suamimu." ujar Sanny.
" Ehmm, ... Aku gagal , aku gagal Abang, padahal James sangat percaya padaku." ujar Bulan.
" Kakak ipar kenapa?" Eh tiba-tiba ada Rio dan Lindam juga datang, karena saat kembali dari bawah melihat Bulan menangis segera menyusul ke balkon.
" Tuan muda, kenapa kau sekarang muncul dimana-mana?" ujar Sanny.
" Oh jelas aku, tapi tenang saja, aku ini bisa menjaga aib orang lain, kau tidak perlu khawatir!" ujar Rio.
Lindam menyenggol - nyenggol tuannya agar tidak keceplosan.
Sanny merasa aneh dengan Rio yang tidak jelas itu.
" Kakak ipar apa kau sakit?" tanya Rio lagi.
Tapi Bulan tidak menjawab, karena sangat malas dengan Rio itu, bawaanya sangat kesal dan kesal.
__ADS_1
" Hei, Sanny ada apa dengan kakak ipar?" tanya Rio gemas.
" Dia sedih karena tidak ada kemajuan pada tuan James semua metode sudah di terapkan tapi tidak ada kemajuan." jawab Sanny setengah malas.
" Ah, itu ... Ya pelan-pelan saja kau kira mengobati orang lumpuh itu segampang membalikkan telapak tangan, baru berapa bulan?, kenapa sudah seputus asa ini?" ujar Rio bermaksud menghibur.
" Diamlah, kau tidak bisa menghibur!" sahut Bulan kesal.
" Hah, kakak ... Kenapa kau tidak mencoba cara ini, aku pernah dengar dari temanku yang lumpuh, dia melakukan terapi di amerika, apa kau mau coba?" tanya Rio.
Bulan langsung bersemangat, mungkin juga bisa dengan cara yang dimaksud Rio.
" Apa katakan!" ujar Bulan.
" Dengan rangsangan!" ujar Rio.
" Rangsangan apa?" tanya Bulan serius.
" Jadi, seperti temanku itu di rangsang oleh wanita yang telanjang, dan bergoyang-goyang sexy di depan temanku, coba Kakak ipar lakukan itu di depan Abang James!"
Bookkk..
Seketika bogem mentah mendarat di wajah Rio.
" Aku hanya memberi saran, kenapa malah kau pukul, kalau tidak sependapat, ya sudah." ujar Rio.
" Pergi!" ujar Bulan kesal.
"Ya, iya, iya ... Lindam ayo pergi." Rio pun segera pergi diikuti Lindam.
"Tapi memang ada metode seperti itu kan Bulan?" tanya Sanny.
" Ada, itu mungkin tidak akan berpengaruh untuk James, dia mungkin akan tertawa bukannya terangsang. " ujar Bulan.
" Ya sudah, kita coba healing dulu sejenak, ajak suamimu keluar untuk menikmati udara luar dan tempat yang nyaman, agar kau bisa berpikir jernih, dan kalian memiliki semangat lagi untuk berjuang dan tidak menyerah." ujar Sanny.
" Iya, benar Bang, ... Kalau begitu senin saja Bang, kita ajak James keluar ." Ujar Bulan.
Memang sepertinya Bulan harus melihat keluar untuk mengumpulkan semangatnya yang sudah hilang itu.
" Ayo sekarang kembali tidur, jangan bersedih lagi, takutnya suamimu bangun dan mencarimu!" ujar Sanny.
" Ya Bang, terimakasih... Oh ya Bang, di mana Kak Betran kenapa sudah lama sekali dia tidak kembali, urusan apa yang dia urus?" tanya Bulan penasaran.
__ADS_1
" Ada, nanti akan kembali jika semuanya sudah selesai." jawab Sanny.
Karena memang Bulan masih belum boleh tahu soal identitas dirinya, karena Betran sedang mengorek tentang kecelakaan yang menimpa James dan juga adiknya itu.