
" Kau harus memperlakukan baik menantimu!" tegas Matriks.
" Dia bukan menantuku, aku bahkan tidak menyaksikan dengan mata kepala ku sendiri jika mereka sudah menikah!" tegas Lala membantah.
" Terserahlah, tapi jangan sekali-kali kau menyakiti dia, kami memiliki perjanjian antara 2 negara, kau tidak bisa seenaknya dengan Farah!" Matriks mengingatkan istrinya.
" Aaghhhh ... kalian semua jahat, tidak menganggapku ada!" teriak Lala.
" Nyonya, tolong tenanglah ... " Rumiya menenangkan Nyonya nya.
" Lihat mereka sangat tidak menganggapku, aku dianggap sebagai lelucon untuk mereka!" ujar Lala kesal setengah mati.
" Rumiya, tolong kau siapkan makanan sehat setiap hari untuk Farah, dia harus makan makanan yang bergizi, tanya padanya ingin makan apa." tegas Matriks dari lantai 2.
" Baik Tuan." jawab Rumiya.
" Siapa dia, kenapa kita harus memperlakukan dia dengan baik?" Lala sangat tidak terima.
"Nyonya, saya juga tidak bisa melawan perintah Tuan besar maafkan saya." ujar Rumiya.
Lala tidak mau tahu, dia segera masuk ke kamarnya.
Rumiya pun segera menanyakan pada Farah dia ingin makan apa.
Tapi makanan Farah tentu berbeda dengan makanan di negara ini, karena Rumiya tidak bisa memasakkan makanan untuk Farah, dia pun meminta supir membelikan makanan untuk Farah dengan uang bulanan yang dia kelola untuk urusan dapur setiap harinya.
Di kamar Rio.
" Kau mau tidur seranjang denganku atau di lantai, kalau seranjang denganku kau harus melayaniku saat aku butuh." ujar Rio.
" Rio, sepertinya ibumu tidak suka padaku!" ujar Farah.
" Benar sekali, ibuku punya pilihan sendiri untuk calon istriku, tapi kau menempatinya, tentu saja dia marah dan membencimu!" Rio bicara apa adanya.
Karena Rio tidak bisa menghargai seorang wanita.
__ADS_1
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, dan rupanya itu adalah Lindam.
Lindam memberikan kartu identitas dan semua surat-surat nikah yang sudah diurusnya.
" Ini kartu untuk Nyonya Farah dari Tuan besar, dan ada supir di bawah bernama Pak Bondan jika nyonya ingin berpergian, sandinya ada di sana, Tuan mengatakan pakai saja sesuai kebutuhan." ujar Lindam memberikan pada Farah.
Farah tentu menerimanya, meskipun Rio dan ibunya tidak menyukainya, tapi ayah mertuanya sangat memperlakukannya dengan baik.
" Terimakasih Lindam." ujar Farah menerima semuanya.
" Baik saya permisi." Lindam pun segera pergi.
"Aku tidak mau tahu urusanmu di sini, terserah kau mau berbuat apa, jika kau tidak mau melayaniku, kau bebas, tapi aku tidak tanggung jawab dengan apapun yang terjadi padamu, tapi kalau kau mau melayaniku, aku akan menjamin keamananmu, dari pada aku jajan di luar, rasanya juga sama saja, aku akan memberikan uang bulanan tambahan untukmu, sebulan 70 juta saja." ujar Rio.
Farah sangat tersinggung dengan ucapan Rio, tapi dia di sini sendirian, jika tidak ada yang menjamin keamanannya, bagaimana dia berlangsung hidup dengan baik, dia tidak tahu sifat-sifat orang di negara ini.
" Ya, aku mau melayanimu." jawab Farah.
" Yah, kau sangat body goals ... yah tidak rugi untukku, kau juga tidak memalukan di bawa kemana-mana, okelah aku bisa menggunakanmu untuk menyingkirkan wanita - wanita yang sangat ingin tidur denganku tapi aku tidak ingin, meskipun aku ini sangat suka **** tapi aku juga tidak murahan." ujar Rio percaya diri.
Dalam hati Farah.
di negaranya bebas, tapi pemikiran Farah masih sangat kuno, dia tidak mengikuti pergaulan bebas di negaranya.
" Meskipun wanita itu sangat cantik, dan juga sexy tapi kalau aku tidak mau, mau dia telanjang di depanku aku juga tidak akan menidurinya!" tegas Rio.
" Tapi kau membayar wanita dan mendapatkan secara acak, bukankah itu kau sembarangan berhubungan?" tanya Farah.
" Tentu Lindam akan memberikan konfirmasi dulu padaku, lalu harus cek kesehatan dulu di rumah sakit, tidak semua orang bisa tidur denganku, jadi kau itu beruntung!" ujar Rio.
Rio memang sangat tampan, tubuhnya sempurna karena rajin berolah raga, Farah juga masih teringat jelas dengan rasa yang diberikan pada Rio, Meskipun Rio sangat pedas berbicara, namun saat di atas ranjang Rio benar-benar memperlakukannya dengan lembut sampai dia yang terus memberontak menjadi terbuai oleh sentuhan yang tidak pernah dia rasakan.
" Bolehkan aku bertanya, siapakah Luna?" tanya Farah.
Rio terkejut, karena setiap kali dia melakukan hubungan dia terpengaruh alkohol, tentu dia tidak ingat nama siapa saja yang dia panggil karena setelah kelelahan wanita bokingannya pasti sudah pergi, Rio tidak tahu apakah dia selalu memanggil nama Luna setiap berhubungan dengan para wanita itu.
__ADS_1
" Kau terus memanggilku Luna, apa dia kekasihmu?" tanya Farah.
Rio masih terdiam, apakah selama berhubungan dia selalu memikirkan Luna, padahal Luna diingatannya masih kecil, apakah dirinya ini kelainan?, Rio masih berpikir karena baru kali ini Rio mendapatkan pertanyaan yang Rio tidak bisa menjawabnya.
" Cukup, jangan ikut campur urusanku, Luna sudah lama tiada, jangan menyebutnya lagi!" tegas Rio segera pergi, suasana hati Rio langsung buruk.
Tiba-tiba Farah merasa bersalah, mungkin Luna adalah wanita yang tidak bisa digantikan oleh wanita mana pun di hati Rio,
Jadi sebenarnya dia itu pria kesepian karena wanita yang dicintainya sudah tiada.
Farah tidak mau memikirkan hal itu lagi, karena Farah juga tidak mencintai Rio, kali ini dia harus memikirkan dirinya sendiri, jika dia hamil setidaknya anaknya ada ayahnya, tapi jika tidak dia harus bersiap untuk perceraian, tapi Rio memintanya juga melayaninya, berarti kemungkinan dia hamil juga 90%, lalu apakah dia harus hidup dengan orang yang tidak bisa mencintainya seumur hidup?
" Haduh aku pusing sekali!" gumam Farah.
" Nyonya, ... makanan anda sudah siap ayo makan, mau makan di ruang makan atau saya bawakan ke sini?" tanya Rumiya.
Farah sangat terkejut karena semua orang di kediaman ini sepertinya menguasai beberapa bahasa asing, jadi dia juga tidak terkendala bahasa.
" Terimakasih Bibi, bisakah bawakan makanannya ke sini, saya masih tidak terbiasa." ujar Farah.
" Iya, tunggu sebentar!" Rumiya segera mengambilkan makanannya dan membawanya ke atas.
Saat turun, Lala marah pada Rumiya, karena tidak ijin dulu padanya untuk mengurus makanan Farah.
" Rumiya, kau ini lancang tidak mau bicara padaku soal makanan orang itu, dia tinggal di sini harus membiasakan lidahnya dengan makanan di sini!" tegas Lala.
" Tapi itu perintah tuan besar nyonya!" jawab Rumiya.
" Dia hanya memintamu memberikan makanan bergizi, tidak harus makanan orang timur tengah, dia menikahi putraku dia harus mengikuti selera putraku, kau bilang padanya mulai besok dia harus memakan makanan yang sama dengan putraku!" ujar Lala.
" Tapi Tuan Rio tidak pernah makan di rumah nyonya, bagaimana ?" tanya Rumiya.
" Oh, kalau begitu tolong beritahu makanan kesukaan Tuan Rio saya akan masakan dan memberikan pada Nyonya Farah." ujar Rumiya.
Lala bingung saat ditanya makanan kesukaan Rio apa, karena Lala tidak pernah memperhatikan Rio makan sejak kecil, yang Lala tahu Rio dulu patuh-patuh saja dengan makanan yang ada dia tetap akan makan.
__ADS_1