
" Ya sudah kalau begitu buat terus sampai jadi!" ujar James yang tidak sabaran.
James bermanja pada istrinya, yang sekarang sudah mulai galak.
" Aku mau ketemu Abang Sanny dan Kak Betran." ujar Bulan.
" Ya sudah kita temui dia!" James segera berdiri dan menghubungi Sanny.
" Ayo ganti pakaianmu Sayang, Sanny dan Betran akan menjemput kita!" ujar James.
James pun juga segera siap-siap, setelah mereka siap, mereka pun menunggu di depan halaman.
30 menit kemudian datanglah Sanny denga. Betran.
Betran tentu sangat terkejut karena tuanya bisa berdiri lagi, kenapa tidak ada yang memberitahunya jika tuannya sudah bisa berdiri.
" Kakak, ... " Panggil Bulan sambil menunjukkan kalungnya pada Betran.
" Lunaku!" Betran langsung memeluk Bulan dan mengangkat tubuh Bulan sangking bahagianya karena adiknya masih hidup dan sekarang sudah tumbuh besar.
" Luna, apa kau mengingat semuanya?" tanya Betran.
" Ingat, kakak adalah kakak yang sangat memanjakan ku sejak kecil, Kakak selalu membelikan Luna coklat dan es cream setiap hari, kakak paling tidak suka jika aku diganggu!" ujar Bulan.
Betran sangat bahagia karena James sudah bisa berdiri lagi dan dia juga menemukan adiknya yang telah lama hilang.
Mereka pun segera mengadakan pesta untuk kebahagiaan mereka.
Mereka menikmati waktu mereka berempat dengan baik dan bahagia.
"Oh tidak, Rio sudah sampai di bandara!" ujar Sanny.
" Kalau begitu kalian urus Rio dan Lindam, Kami mau pindah negara saja!" ujar James.
" Pindah negara?" ujar Sanny.
" Aku malas dengan anak itu, tapi jangan katakan jika aku tidak di Dubai." ujar James.
" Memang mau kemana kita?" tanya Bulan.
" Ke Swiss saja yuk!" ajak James.
" Baiklah!" Bulan juga malas jika harus bertemu dengan Rio.
Akhirnya hari itu juga James dan Bulan pergi ke Swiss saat Sanny dan Betran menjemput Rio ke Bandara.
__ADS_1
" Tuan, apa mereka sedang double date?" tanya Lindam.
" Maksudnya?" Rio tidak paham.
" Tuan James dengan Nyonya, mereka berdua juga rupanya ada di sini, aku kira hanya Sanny." ujar Lindam.
" Sudah diamlah, kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk keduanya!" ujar Rio.
" San,Betran, dimana Abang dan kakak ipar?" tanya Rio.
" Kami juga tidak tahu, mereka tidak mau diganggu makanya tidak bisa dihubungi!" ujar Betran.
" Kalian santai saja mereka tidak bisa dihubungi?, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan mereka?" ujar Rio.
" Tenang saja, kalian mau pergi sendiri atau ikut kami?" tanya Betran.
" Ikutlah, di mana kalian tinggal?" tanya Rio.
" Kami pindah ke penginapan, dekat bandara ayo kalau mau ikut!" ajak Betran.
Betran dan Sanny mengajak kedua orang itu ke tempat penginapan yang mereka tinggali, Betran meminta mereka untuk memasan kamar.
" Kamar kalian di mana?" tanya Rio.
Rio dan Lindam Langsung saling memandang.
" Ada apa dengan kalian?, kalian juga mau satu kamar dengan kami?" tanya Sanny.
" Tidak kami tidak ingin mengganggu, kami pesan kamar sendiri sekarang!" Rio dan Lindam langsung pergi begitu saja untuk memesan kamar, mereka masih waras dan tidak mungkin satu kamar dengan mereka yang sedang kasmaran.
" Tuan, pantas mereka berpisah dengan Tuan dan Nyonya, mereka pasti masih ingin menyembunyikan hubungan mereka." ujar Lindam.
" Hah, kenapa ini Abang dan kakak ipar tidak ada yang bisa di hubungi sama sekali, kenapa cuma centang satu?" Rio mengomel tak karuan.
Tapi ya sudahlah karena sudah berada di Dubai mereka harus memanfaatkan waktu berlibur sebaik mungkin, menghilangkan penat yang sudah menumpuk, karena waktu mereka hanya 3 hari itu pun terpotong oleh waktu perjalanan.
" Hidup lagi capek-capeknya malah menemui Sanny dan Betran ujarnya." Gumam Rio.
" Bukankah Tuan besar di Dubai?, kenapa tidak mengunjunginya?" ujar Lindam.
"Ya, ayo kita kunjungi Ayah, minta Sanny antar nanti malam." ujar Rio.
Malam harinya, Sanny mengantar Rio ke tempat Matriks.
" Ayah aku juga datang." ujar Rio menyapa Ayahnya yang sibuk membuat box bayi dari katu.
__ADS_1
" Ayah malam-malam kau sibuk apa?" tanya Rio heran.
" Rio?, kau datang ke sini lalu bagaimana dengan perusahaan?" tanya Matriks segera meletakkan peralatannya dan menghampiri Rio.
" Aku tinggalkan saja, aku masak mau bawa perusahaan ke sini!" jawab Rio.
" Hah, kau pasti menyusul James." ujar Matriks.
" Iyalah, dia bisa santai masak aku tidak?, mana boleh tidak adil, hidup harus sama rata!" tegas Rio.
" Apa ini box bayi?" tanya Rio pada ayahnya.
" Ya, Abangmu sedang berusaha memberikan ayah cucu, lalu bagaimana dengan kau ini, kau juga sudah bisa menikah!" ujar Matriks.
" Kau tahu istrimu memiliki segudang kriteria untuk menjadi menantunya, makanya aku malas memikirkan pernikahan, lagian tidak ada wanita yang secantik Luna." ujar Rio.
" Luna sudah tiada, lagian itu teman kecilmu, apa tidak bisa melupakannya dan membuka hati untuk orang lain?" tanya Matriks.
" Tidak bisa Ayah, kalau pun Ayah memaksa ku memberikan cucu, aku bisa memberikannya tanpa pernikahan, wanita itu suka uang, jadi pinjam saja rahimnya untuk melahirkan anakku!" ujar Rio dengan entengnya.
Matriks hanya menggeleng kepala, memang putranya yang satu ini agak lain sendiri pemikirannya.
Tapi memang Lala memberikan tekanan yang berat sejak Rio masih kecil, sekarang Rio sudah mampu melawan dan membuat Lala kualahan sendiri dengan Rio ini.
" Ayah, wanita di sini cantik-cantik, kenapa ayah tidak bermain dengan wanita di sini agar tidak sepi?" ujar Rio.
" Kau kira semua pria pemikirannya seperti dirimu?, Ayah tidak akan main-main dengan penyakit seperti kau ini!" ujar Matriks.
"Iya iya, Ayah bersih, Ayah aku lapar!" ujar Rio memegangi perutnya.
" Sudah sebesar ini, kau masih mengadu lapar seperti anak kecil, kapan kau ini dewasanya Rio?, tunggulah kalian dengan baik, aku akan membuat makanan." Matriks segera pergi ke dapur dan membuat makanan untuk 3 orang yang datang malam-malam ke rumahnya itu.
" Ayah, kenapa tidak pulang?, ibu jadi keluyuran terus!" ujar Rio.
" Ayah hanya ingin hidup damai dan tenang saja, biarkan saja Ibumu menjadi seperti apa yang dia mau." ujar Matriks yang sudah tidak mau tahu lagi dengan istrinya.
" Ceraikan saja kalau begitu Ayah, aku juga malas mendengarnya ceramah tiap hari." ujar Rio.
Matriks menjitak kepala putranya itu.
" Ayah bertahan untuk membiarkanmu memiliki keluarga utuh, kau malah menyuruh ayah bercerai, biar bagaimanapun dia ibu yang telah melahirkan mu, hargai dia meskipun cukup menyebalkan." tegas Matriks.
" Tidak perlu Ayah, Rio sudah besar, Rio akan berada di pihak Ayah, okey ... pasti Ayah selama ini tertekan memiliki istri secerewet Ibuku, iyakan?" ujar Rio tanpa beban.
Matriks tersenyum, kadang-kadang anak keduanya ini juga lucu saat berbicara tentang yang ibunya sendiri.
__ADS_1