Istri Kesayangan Si Tuan Lumpuh

Istri Kesayangan Si Tuan Lumpuh
53. Mertua vs menantu


__ADS_3

Dari situ Farah pun memasakan Rio 3 kali sehari.


Setiap hari Farah berada di dapur, makan siang Rio pun dia antarkan ke perusahaan, James mengijinkan istri Rio itu setiap hari datang ke perusahaan.


Pagi sekali Farah seperti biasa dia sudah harus selesai masak untuk suaminya yang doyan makan.


" Kamu itu kenapa aku lihat akhir - akhir ini masak terus?" ujar Lala.


" Iya Bu ... " Jawab Lala singkat.


" Semenjak ada kamu, pengeluaran semakin tidak teratur, kamu masak 3x sehari gasnya ya boroslah, masih pakai bahan-bahan premium lagi yang ada di dapur, kamu kan di kasih suami saya uang, sengaja di hemat ya?, biar uang kamu utuh!" ujar Lala terlihat sangat kesal.


" Iya, ... " Jawab Farah singkat lagi.


Karena sangat kesal dengan jawaban Farah, Lala langsung menarik rambut Farah lalu melempar masakan Farah ke lantai.


" Wanita ****** sepertimu bisa menikah dengan putraku adalah suatu keberuntunganmu, tapi sayangnya kau tidak beruntung karena aku tidak menyukaimu!" ujar Lala.


" Agh ... Agh ... " Farah kesakitan karena ditarik begitu kencang.


Mendengar keributan di bawah Rio segera turun.


" Ibu!" bentak Rio.


Rio segera melepaskan tangan ibunya dari rambut Farah.


" Hiks hiks hiks..." Farah menangis terisak-isak.


" Kau menikahi wanita seperti ini, membuat kita bangkrut!, dia sekarang sering memasak dan menggunakan bahan dapur seenaknya sendiri, pengeluaran semakin membengkak!" ujar Lala.


Rio mengangguk mengerti,


" Apa maksudmu dengan mengangguk?" tanya Lala pada Rio.


" Bu, dia ini anak orang, dia juga punya orang tua, dia rela meninggalkan keluarganya yang jauh, yang selalu memanjakannya untuk menikah dengan anak brengsekmu ini, dia di rumahnya tidak pernah memegang pekerjaan rumah begitu juga memasak, tapi dia mau belajar dan memasakkan anak brengsekmu ini setiap hari, dia tidak ada hubungan darah denganku tapi dia mau lelah untuk mengenyangkan perutku Bu, jika kau tidak menyukainya diam saja, kenapa ibu sangat kasar, kemana ibu saat aku lapar?, adakah ibu memasakan sendiri makanan untukku makan?, apakah ibu tahu makanan kesukaanku?" ujar Rio bertanya pada ibunya.


Lala terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan putranya itu.


" Mulai hari ini aku akan pergi dengan istriku, tidak akan ada lagi yang mengurangi takaran beras dan makanan di kediaman ini!" tegas Rio.


" Tunggu Rio, tunggu maafkan Ibu, Ibu tidak tahu jika dia memasakkan untukmu, maaf jika Ibu tahu, ibu tidak akan marah!" Lala mencoba membujuk putranya itu.


Rio menghentikan langkahnya.


" Ibu, kita ini bukan orang susah, dia istriku, dia juga berhak untuk makan di rumah ini, kenapa kau terlihat sangat kikir jika dengan orang yang kau tidak sukai, memang salah Farah apa pada Ibu?" tanya Rio.

__ADS_1


" Dia wanita ******, dia tidak pantas untukmu!" tegas Lala.


" Bukan dia yang ******, anakmu ini yang berengsek!" Rio langsung menarik tangan Farah dan membawanya pergi begitu saja dengan mobilnya entah kenapa.


Farah tidak menyangka jika Rio benar - benar membelanya, dia juga memusuhi Ibunya dengan terang-terangan.


" Kita tidur di hotel dulu, besok aku minta Lindam mencari rumah atau apartemen!" ujar Rio.


Mereka segera turun memasuki hotel, namun pandangan orang - orang melihat ke arah Farah dengan pandangan aneh.


" Kenapa semua orang melihatmu?" Rio melihat ke arah Farah.


Farah hanya menggeleng kepala, karena dia juga tidak tahu kenapa semua orang melihatnya heran.


Rio mencari tahu apa yang di lihat orang - orang pada istrinya, saat melihat ke tubuh istrinya, rupanya istrinya masih mengenakan apron, atau celemek untuk memasak dan lagi, Farah tidak memakai sandal.


" Farah, okey tidak masalah kau masih pakai Apron di tubuhmu, tapi bagaimana kau bisa tidak sadar berjalan sampai sini tanpa alas kaki?" Rio menepuk jidatnya.


" Tadi aku masih pakai sebelah kok, tapi saat kau mendorongku masuk mobil, sebelahnya mungkin ikut terlepas, aku lupa mau bilang, tapi kau menyetir dengan kecepatan tinggi sampai aku lupa jika aku tidak pakai sandal." ujar Farah tampak masih agak tegang.


Rio pun segera memesan kamar, setelah mendapatkan kamar Rio segera menggendong Farah menuju ke kamar yang di pesannya.


" Rio, aku tidak apa-apa, turunkan saja aku!" Ujar Farah malu-malu, jantungnya berdegup kencang.


"Iya." jawab Farah.


Pokoknya dia menurut saja dulu untuk bertahan hidup.


Setelah sampai depan pintu Rio menurunkan Farah lalu membuka pintu dan mengajak Farah masuk.


" Istirahatlah, aku akan pesan makanan untukmu!" ujar Rio.


Rio pun segera memesan makanan untuk mereka berdua dan meminta Lindam membelikan baju untuknya dan juga Farah.


" Aku mandi dulu!" ujar Rio segera masuk kamar mandi.


Tak lama Lindam tiba membawa pakaian ganti untuk keduanya, Farah segera memberikan pada Rio, setelah Rio selesai Farah bergantian mandi dan berganti pakaian.


" Makanlah, makanannya sudah siap, ini ada kerang lada hitam, cobalah ini enak!" ujar Rio membuka penutup makanan itu.


Namun tiba-tiba Farah berlari ke dalam kamar mandi dan muntah - muntah.


Rio langsung menyusul Farah.


" Ada apa kau ini? Apa kau sakit?" tanya Rio.

__ADS_1


" Tidak tahu, hueeeek ..." Farah terus mual-mual.


Rio langsung menarik tangan Farah dan membawanya keluar, lagi-lagi lupa pakai sandal karena terburu-buru.


" Sandalnya Rio." ujar Farah.


" Lupakan, kita ke dokter!" ajak Rio


Mereka pun ke klinik terdekat, setelah mendaftar Farah di periksa di temani Rio.


" Apa yang di keluhkan Nona?" tanya Dokter.


" Dia ini sudah bersuami kenapa kau panggil Nona?" protes Rio.


" Oh maaf Tuan, Nyonya ... " ujar dokter meralat.


" Saya tidak ada keluhan apa-apa Dok, saya baik-baik saja tadi, tapi saat suami saya membuka tutup makanan dan baunya langsung menusuk hidung saya, saya langsung mual dan merasa sangat tidak nyaman." ujar Farah.


" Apa anda terlambat datang bulan?"


tanya Dokter.


" Aduh, sepertinya iya dok tapi saya biasa terlambat kalau lagi stress, itu biasa dok." jawab Farah.


" Jadi kamu stress selama ini?" tanya Rio.


"Bukan begitu, aduh ..." Farah bingung menjelaskan pada Rio.


" Ini tentu berbeda karena anda sudah menikah, saya beri rujukan pada dokter spesialis kandungan saja ya, yang lebih ahlinya!" Dokter itu pun memberikan surat rujukan pada Rio.


" Jadi bisa jadi dia hamil dok?" tanya Rio.


" Sepertinya Tuan, lebih jelasnya langsung saja pada ahlinya." ujar dokter itu.


Mereka pun segera ke dokter spesialis kandungan yang letaknya berseberangan dengan klinik tadi.


" Rio, bagaimana jika aku hamil?" tanya Farah.


" Memangnya mau bagaimana lagi, ya kalau hamil, ya hamil saja." jawab Rio.


" Bukan itu, apa kau akan mengakuinya?, kalau ini anakmu." ujar Farah.


" Meskipun aku ini berengsek, aku juga bukan orang yang pengecut, aku akan bertanggung jawab, karena aku tahu itu anakku." tegas Rio.


Tidak menyangka jika Rio ini sangat keren, meskipun seenak jidatnya sendiri, dia selalu menepati ucapannya, selama Farah menurut dengannya, Rio tidak pernah mempersulitnya, Rio tidak menyembunyikan fakta jika dia adalah istrinya, dia juga membela dan melindunginya, meskipun dia sangat dingin dan ucapannya terkadang tidak enak di dengar, tapi dia tidak mengingkari janjinya.

__ADS_1


__ADS_2