
" Apa yang membuatmu diam?, kau tidak tahu makanan kesukaan Rio, tapi masih memaksanya melakukan semua apa yang kau mau!" sahut Matriks.
"Tentu saja aku tahu, tapi selera Rio berubah-ubah, saat menjadi dewasa!" Lala membuat Alibi sedapatnya.
Matriks pun pergi ke tempat James, karena sangat malas berhadapan dengan Lala, lebih baik dia mengobrol dengan menantu pertamanya.
" Kau mau kemana?, kau sudah pergi begitu lama, apa tidak rindu padaku?" tanya Lala.
Matriks mengabaikan Lala.
" Kau kira aku rindu padamu, aku sangat kesal jika buka. karena hartamu aku juga tidak mau menjadi istri pajangan!" ujar Lala kesal.
Matriks pun memasuki kediaman James, terlihat Bulan sedang menanam bibit di halaman depan, James menemani Bulan duduk di kursi roda sambil membaca koran.
Pemandangan di kediaman James sangat indah, manis dan menyenangkan, membuat hati tenang.
" Kalian sedang bercocok tanam?" tanya Matriks.
Keduanya dikejutan oleh suara matriks.
" Ayah, kau datang ?, apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Bulan.
" Di kediaman utama suasananya sangat panas, aku ingin berteduh di sini!" ujar Matriks.
" Sayangnya di sini bukan pohon yang rindang!" sahut James.
Bulan memukul lengan suaminya karena bicara tidak sopan dengan ayahnya sendiri.
" Apa Ayah tidak di terima?" tanya Matriks.
Bulan segera menghampiri Matriks lalu meraih lengan Matriks dengan manja, Bulan mengajak ayah mertuanya itu untuk bercocok tanam saja.
" Moon kau ini istriku, jangan sembarangan menggandeng lengan pria lain!" ujar James cemburu.
" Dia ayah mertuaku, kenapa kau tidak masuk akal suamiku?" Bulan sangat kesal pada suaminya.
" Haih, sudahlah Bulan, ayah kembali saja, James terganggu dengan kehadiran Ayah." Matriks pun berniat kembali.
" Ya sudah temani istriku menamam dengan benar aku mau menyelesaikan kerjaanku!" James mendorong kursi rodanya kembali masuk ke rumah.
Bulan yang meminta maaf pada Matriks karena perilaku James yang tidak sopan padanya.
" Maaf Ayah, James sangat kasar padamu!" ujar Bulan merasa sedih.
" Kenapa kau yang merasa bersalah, tidak apa-apa Nak, Ayah pernah melakukan kesalahan yang melukai hatinya, dan itu tidak bisa ditebus dengan apapun, aku senang James bisa menerimamu, James selalu mendengarkan ucapanmu, kau adalah istri yang baik, terimakasih karena sudah menerimanya dengan semua kekurangan yang dia miliki, Ayah doakan semoga kalian selalu bahagia." Matriks mengusap kepala Bulan dengan penuh kasih sayang.
" Aamiin, terimakasih Ayah atas doa dan restumu." ujar Bulan.
Keduanya pun melanjutkan untuk bercocok tanam, sambil bercanda ria, Bulan adalah anak yang menyenangkan dan tidak membosankan sama sekali, semua orang mudah menyayanginya.
" Wah, Paman ... kau juga bisa bercocok tanam?" Paul dan Lula yang baru tiba.
Bulan terkejut dengan kedatangan Lula dan Paul tanpa pemberitahuan.
__ADS_1
" Eh, keponakanku datang apa ada urusan?" tanya Matriks.
" Aku dengar Rio menikah di Manama, aku membawakan hadiah untuknya Paman, tapi sepertinya Rio tidak ada di rumah." ujar Paul.
Bulan pun melanjutkan menanamnya.
" Ya, dia sedang keluar tapi istrinya di rumah Paul, jika kau ingin mengunjunginya Paman antarkan menemuinya." ujar Matriks.
" Boleh Paman, hallo kakak ipar, bagaimana honeymoon kalian?, apa berjalan lancar." sapa Paul pada Bulan.
" Tentu saja." jawab Bulan singkat sambil menyirami tanamannya.
" Kalau mau mengenal saudara ipar keduamu ayo Paman antar Paul." ujar Matriks.
" Paul titip saja ya, kalau tidak ada Rio tidak enaklah Paman." ujar Paul.
" Kalau begitu coba kau hubungi Rio Bulan, dia sangat patuh padamu kan?" ujar Matriks.
Bulan pun segera mengambil ponselnya dan menelpon Rio.
" Iya Kak?" jawab Rio.
" Pulang sekarang!" tegas Bulan langsung menutup telponnya.
Matriks, Paul dan Lula sangat terkejut dengan sikap Bulan pada Rio.
Dan dalam waktu singkat Rio langsung datang, itu lebih mengejutkan lagi, bagaimana bisa anak yang susah di atur ibunya itu begitu penurut pada ucapan Bulan yang hanya beberapa kata saja.
" Paul?, ada apa?" tanya Rio.
Lula pun memberikan hadiahnya pada Lindam.
" Apa itu?" tanya Rio.
" Hadiah pernikahan!" jawab Paul.
" Karena sedang berkumpul, Lindam kau berikan hadiah itu pada Farah dan ajak dia ke sini, Bulan ... Ayah pinjam kediamanmu ya, untuk menjamu Paul." ujar Matriks meminta ijin pada menantunya.
" Ya sebentar, Bulan tanya pada James dulu!" Bulan langsung berlari masuk dan meminta ijin pada James.
" Apa?, Paul datang?" tanya James terkejut.
" Ya, dia datang karena ingin memberikan hadiah pada Rio dan istrinya.
" Wah, informasi nya cepat sekali datang padanya, dia memang tidak bisa di remehkan, kebetulan aku juga ingin berbicara padanya!" ujar James.
" Kalau boleh, biar aku yang masak ya Sayang?" tanya Bulan.
" Kau nanti kelelahan sayang, setiap malam kan kau masih harus dinas malam denganku." Goda James.
" Dasar mesum, kau ini ternyata sangat mesum!" protes Bulan.
" Padahal aku sangat suka istriku yang patuh, kemana hilangnya istriku yang patuh?" tanya James sambil mencubit pipi Bulan dengan gemas.
__ADS_1
" Boleh masak tidak?" tanya Bulan.
" Boleh, asalkan pak tua membantumu!" ujar James.
"Aku bilang ayah dulu!" Bulan pun segera mempersilahkan semuanya masuk.
Tak lama Lindam pun datang dengan Farah.
" Kakak ipar, mau masak apa?" tanya Farah.
" Kita lihat, ada bahan apa saja dulu di dapur, kau mau membantuku?" tanya Bulan.
" Tentu saja." jawab Farah senang.
" Kakak ipar, di mana Betran dan Sanny?" tanya Rio yang tak melihat keduanya.
" Oh tidak tahu, mereka akhir-akhir ini sering berpergian bersama, ada apa?" tanya Bulan balik.
" Tidak hehe." jawab Rio dengan gelagat aneh.
" Sudah kalian mengobrol saja, aku dan Farah akan memasak untuk kalian semua!" ujar Bulan segera menarik Farah ke dapur.
Saat Matriks ingin ikut ke dapur, Bulan menghentikannya dan meminta ayah mertuanya duduk mengobrol dengan yang lain, karena sudah ada Farah yang membantu.
" Farah, apa Ibu Rio berulah padamu?" tanya Bulan.
" Iya, aku sampai takut mau keluar kamar!" jawab Farah.
" Lawan, kau jangan pernah takut pada wanita gila itu!" ujar Bulan.
" Tapi dia ibu mertuaku Kak!" ujar Farah terkejut.
" Jangan lemah, Rio tidak akan memihak ibunya, kau tidak boleh kalah dengan Lala dan Rumiya." Bulan memberikan wejangan pada Farah untuk bertahan hidup, dia juga menceritakan beberapa kali bertangkar dengan Lala.
" Tapi aku tidak enak dengan Ayah mertua dia sangat baik padaku!" ujar Farah.
" Dia juga tidak akan memihak Lala, pokoknya kau harus bisa melindungi dirimu sendiri!" tegas Bulan.
" Katanya Rio mau menjamin keamananku, asalkan aku patuh padanya." ujar Farah.
" Patuhlah, tapi kau juga harus tahu patuh itu juga harus diimbangi dengan kecerdasan, apa kau mengerti maksudnya?, jika Rio mempersulitmu, beritahu aku!" ujar Bulan.
" Kak, saat kami berhubungan malam itu Rio kan dalam keadaan mabuk, dia selalu memanggil ku Luna." ujar Farah memberitahu Bulan.
Bulan terkejut sampai tangannya tak sengaja teriris.
" Ah ..." Bulan langsung berlari ke wastafel mengguyuri lukanya dengan air mengalir.
" Kakak tidak apa-apa kan?, aku ambil obat dulu!" Farah terlihat panik tapi juga merasa aneh dengan respon Bulan.
" Sudah tenang saja, aku ini punya ilmu kedokteran, jangan panik nanti suamiku ikut panik!" ujar Bulan tersenyum.
" Maafkan aku ya Kak." ujar Farah merasa bersalah.
__ADS_1
Sebenarnya Luna itu siapa?, kenapa yang mendengar nama Luna pasti terkejut.
Dalam hati Farah.