
Sementara James dan Rudy mengobrol, Bulan dan Sanny memasuki klinik kecil milik neneknya dulu.
" Apa kau ingin mencari sesuatu?" tanya Sanny.
" Iya, aku ingat nenek pernah menyembuhkan orang lumpuh beberapa kali dalam waktu 3 bulan, apakah masih ada buku catatan nenek yang bisa membantuku menyembuhkan suamiku." Bulan membuka satu persatu lemari milik neneknya.
Sanny pun membantu, Sanny juga ingat hal itu.
" Ini jarum emas milik nenek, apa kau perlu ini?" tanya Sanny.
" Oh boleh, jarum jaman dulu lebih bagus dari yang sekarang, nanti di sterilkan lagi." ujar Bulan.
" Kalau ini kau pakai?" tanya Sanny menunjukkan alat tumbuk dari keramik yang biasa di buat untuk meracik obat.
Setelah lama mencari akhirnya Bukan menemukan beberapa catatan milik neneknya yang dirasa bisa membantunya.
" Aku sudah menemukannya Bang, Abang sedang apa?" tanya Bulan
Sanny terlihat berusaha membuka kotak yang di simpan neneknya.
" Apa itu?" tanya Bulan.
Saat dibuka kotak itu berisi kalung bulan sabit.
" Milik siapa itu Bang?" tanya Bulan.
" Mana aku tahu." ujar Sanny.
" Tapi ini kan Bulan, dan ada inisial L mungkinkah milikmu?" tanya Sanny.
" Tidak begitu juga Bang, tanyakan ayah saja Bang, bisa saja punya Kak Lena." Ujar Bulan.
" Ya sudah kita tanya Ayah, apa kau masih ada yang perlu kau cari?" tanya Sanny.
" Tidak, ayo kembali ... Suamiku pasti juga sudah menunggu." ujar Bulan.
Mereka pun segera kembali ke ruang tamu, rupanya James dan Rudy sudah tampak dekat.
" Kalian sudah kembali?" tanya James.
" Iya, aku sudah menemukan apa yang aku cari." Jawab Bulan.
" Ayah, apa Ayah tahu ini kalung milik siapa?" tanya Sanny memperlihatkan kalung itu di depan Ayahnya.
" Ayah tidak tahu." ujar Rudy.
Karna memang Rudy tidak tahu tentang kalung itu.
Saat James melihat kalung yang berada di tangan Sanny, James terbelalak, karena James mengenali kalung itu.
" Dari mana kau dapat kalung itu?" tanya James dengan tegas.
Sanny , Rudy dan Bulan sampai terkejut.
" Ini ada di klinik nenek." jawab Sanny.
__ADS_1
James mendorong kursinya mendekati Sanny lalu meraih kalung itu, mata James langsung berkunang-kunang melihat kalung itu.
" Ada apa suamiku?" Bulan tampak khawatir dengan suaminya.
"Ini adalah milik Luna, karna aku yang memberikannya, ini hanya ada satu, bagaimana ini bisa ada pada keluargamu?" tanya James.
Ketiganya menggeleng kepala, karena tidak tahu apa-apa.
" Mungkin, bisa milik pasien ibuku, saat berada di kota, kadang mereka membayar dengan benda berharga mereka." ujar Rudy.
Tapi James melihat ke arah Bulan, Luna itu juga artinya Bulan, dan Bulan itu masih tidak tahu anak dari Rudy atau bukan, karena saat itu tiba-tiba istri dan ibunya membawa 2 anak perempuan pulang tapi sudah agak besar.
Ibunya mengatakan mereka adalah anak Rudy.
Begitu tadi yang diobrolkan olehnya bersama Rudy, jadi Luna itu bisa jadi Bulan atau Lena.
" Suamiku?, kenapa kau melihatku begitu?" tanya Bulan pada James.
" Tidak apa-apa, Moon kita pulang ya." Ajak James.
James masih belum bisa lega dulu, karena jika itu Lena adalah Luna itu pasti agak rumit.
Sanny sekarang mulai mengerti alurnya, kenapa Betran meminta membantunya mengambil sempel untu tes DNA antara ibunya, Bulan dan Lena.
Rupanya Betran menemukan kejanggalan dalam keluarganya, tapi Luna itu siapa mereka, Sanny tidak tahu.
Begitu juga Bulan, Bulan masih bertanya - tanya siapa Luna itu?, apakah itu kekasih masalalunya James.
Hati Bulan mulai tidak tenang, bagaimana jika itu kekasih masalalunya James, apakah James akan kembali padanya.
Akhirnya mereka pun segera kembali pulang, dalam perjalan itu James terus diam dan memegangi kalung itu terus-menerus.
Sesampainya di rumah, James langsung masuk kamar dan mengatakan pada Bulan ingin sendiri dulu.
Bulan merasa sedih, hanya karena sebuah kalung membuat suaminya langsung berubah, membuat moodnya tidak baik seperti semula.
" Itu hanya kalung, dia langsung berubah 360°, bagaimana dengan orangnya nanti?" gumam Bulan.
Bulan duduk di balkon atas untuk menenangkan hatinya, dia juga menangis karena takut jika James akan berubah, padahal hubungannya dengan James bisa dibilang lagi bucin-bucinnya.
" huk huk huk, apa nasibku nanti sama dengan Abang ditinggalkan?" Bulan menangis sesenggukan di atas balkon sendirian.
Dia sudah jatuh cinta dengan suaminya, bahkan Bulan ingin memberikan semua hal yang baik untuk suaminya.
Sekarang kenapa begini,
" Siapa itu Luna, sepertinya aku juga tidak asing dengan nama itu?" Ujar Bulan, hati dan pikirannya sedang tak karuan.
" Bulan, kenapa?" Sanny yang mencari Bulan kemana-mana karena sudah jam makan malam.
" Kau menangis?" Sanny langsung memeluk adiknya, dia tahu pasti ini masalah kalung yang membuat James tidak mood.
"Abang akan membelamu, kau akan mendapatkan keadilan jika nanti James menyakitimu!" ujar Sanny.
Jika sampai James membuat Bulan menderita Sanny akan menghajarnya sampai bonyok, masuk penjara juga tidak masalah yang penting adiknya mendapatkan keadilan.
__ADS_1
" Abang, Bulan khawatir." ujar Bulan.
" Jangan khawatir, Abang tidak akan meninggalkanmu!" tegas James.
" Huaaaaaa ... Terimakasih Abang. " Ujar Bulan merasa lega karena ada Sanny yang selalu baik padanya.
" Sekarang waktunya makan, kau mau makan apa, biar Abang beli keluar!" ujar Sanny.
" Nanti saja Abang, suamiku juga tidak selera.makan, aku juga sama." ujar Bulan.
" Kalau begitu, kau istirahat di kamar Abang dulu, Abang akan tidur di ruang tamu." ujar Sanny.
Bulan pun menurut, karena suaminya masih ingin sendiri dan tidak mau diganggu Bulan pun sementara tidur di kamar Sanny.
Sanny terduduk di ruang tamu, pikirannya juga kemana-mana karena kalung itu kenapa bisa sekebetulan itu, dan itu milik siapa juga membuat Sanny bertanya-tanya.
" Sann?, kenapa?" tanya Betran yang datang.
" Betran akhirnya kau datang, bagaimana hasilnya?" tanya Sanny.
" Ada kendala, jadi masih proses." jawab Betran.
" Oh begitu, ...". Ujar Sanny.
" Kok sepi kemana?" tanya Betran.
" Tadi ada something, lalu tuan James ingin sendiri dan tidak mau diganggu, aku meminta Bulan istirahat di kamarku!" ujar Sanny.
" Oh begitu, memang benar itu Bulan, jika Tuan ingin sendiri maka berikan waktu, dan jangan di tanya, nanti kalau sudah baikan dia juga akan kembali seperti semula." Ujar Betran.
" Makan-makan lapar ... " Rio datang dengan Lindam.
" Tidak ada makan malam pulanglah!" ujar Sanny.
" Hah?, kenapa?" tanya Rio.
" Tuan James dalam mood tidak baik!, Tuan Rio pulang dulu!" ujar Betran.
" Kon bisa?, kenapa?" tanya Rio bingung.
" Kan sudah ku bilang tidak dalam mood baik, jangan tanya kenapa, sudah Sanny ayo kau tidur di kamarku dulu!" Ajak Betran.
" Bolehkah?" tanya Sanny.
" Ayo!" Betran merangkul Sanny dan menggiringnya ke kamarnya.
Seperti biasa otak Lindam dan Rio mulai berhamburan kemana-mana.
" Ini, ini apa mereka sudah mulai terang-terangan dengan hubungan mereka?" tanya Rio.
" Aku rasa begitu, Tuan perlukah kita membelikan obat ambeien?, untuk pasangan ini ." ujar Lindam.
" Astaga, kita ini nanti di azab Tuhan jika tidak menyadarkan mereka, aku takut Lindam, bagaimana jika Tuhan ingin mengazab mereka tapi kita ada didekat mereka pasti kita juga kena azab." ujar Rio agak takut.
" Tuan, anda juga suka main apem, kenapa Tuan tidak takut kena Azab sendiri?" ujar Lindam.
__ADS_1
" Brengsek, kau mengutukku Lindam!" Rio kesal di buat oleh Lindam dengan mulutnya.