
Tere langsung meminta pelayan menyiapkan kamar dan makan malam untuk Sanny.
Sanny benar - benar di sambut seperti tamu yang agung oleh Tere.
" Istriku baik, kau tenang saja, aku lelah mau istirahat!" ujar Moses segera masuk ke kamarnya.
" Bibi, ... Maaf merepotkan Bibi!" ujar Sanny.
" Jangan panggil aku Bibi, Bibi di sini adalah sebutan dari ibu-ibu yang bekerja di sini!" ujar Tere.
" Mama, ... " Panggil Sanny.
" Bagus anakku, ... " Tere mengusap kepala Sanny dengan lembut.
Sanny sangat nyaman dengan sentuhan Tere.
" Nyonya, kamarnya sudah siap!" ujar Bibi yang membersihkan kamar untuk Sanny.
Tere meminta Sanny untuk segera mandi dan siap-siap untuk makan malam.
Sanny pun menurut dengan Tere, dia masuk ke kamarnya dan segera membersihkan diri, setelah itu Sanny ke ruang makan untuk makan.
" Nak, makan yang banyak!" ujar Tere mengambilkan beberapa lauk untuk Sanny.
" Mama, terimakasih." ujar Sanny.
Dia tidak pernah diperhatikan seperti itu oleh ibu kandungnya, orang yang memperhatikannya hanya neneknya, ayahnya Rudy dan juga Bulan saja.
"Apa hal seperti ini kau harus mengucapkan terimakasih?" ujar Tere.
Tere tersenyum melihat wajah Sanny yang terlihat terkejut.
Moses pun ikut bergabung dengan Tere dan juga Sanny, Silya tidak ikut karena sedang ngambek, jadi tidak tahu dia kapan kembali.
Tere segera mengambilkan makan untuk Moses, mereka terlihat seperti tidak ada masalah apapun.
Sanny sangat bingung, kenapa ada wanita sehebat dan selembut Tere ini, andaikan dia ibu kandungnya, betapa bahagianya Sanny.
Tapi kenyataannya memang dia anak dari Ririn bukan Tere.
" Setelah adikmu selesai magang aku akan membawanya tinggal bersama di sini." ujar Moses.
" Loh, kau masih punya anak lain selain Sanny?" tanya Tere.
" Mama, dia adalah adikku, keluargaku sangat rumit, tapi bagaimana pun dia tetap adikku." ujar Sanny.
Sanny tidak tahu dia harus menjelaskannya dari mana tentang Bulan.
" Itu adik apa namanya?, gadis itu bukan anak Ririn, tapi di besarkan oleh Ririn, jadi apa itu namanya?" ujar Moses juga bingung.
Karna silsilah keluarga mereka sama berantakannya.
" Adik angkat ya?" ujar Tere.
" Tidak, aku tidak suka dia dikatakan adik angkatku Ma, dia pokoknya saudara kandungku!" ujar Sanny.
__ADS_1
Tere pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Aku akan mengangkatnya menjadi putriku!" tegas Moses.
" Boleh saja. " jawab Tere.
" Tapi Ayah, dia tidak bisa tinggal bersama kita, karena dia sudah menikah!" ujar Sanny.
" Bukankah, kau ingin selalu bersama adikmu?" tanya Moses.
" Adikmu sudah menikah Sanny?, dia sekarang berusia berapa?" tanya Tere.
" 20 tahun sekarang." jawab Sanny.
" Masih muda, memang magang di mana?" tanya Tere.
" Di rumah sakit Ma, dia seorang dokter." jawab Sanny tersenyum.
" Hebat sekali, adikmu sangat hebat Sanny, bawa dia kemari Ibu mau bertemu dengan adikmu itu!" ujar Tere.
Tere terlihat sangat antusias dan sangat ingin sekali segera bertemu dengan Bulan.
" Apa Mama mau menerimanya?" tanya Sanny.
" Aku akan menerimanya itu juga tergantung dengan anak itu, mau atau tidak menjadi keluarga Zenta, tapi mungkin Silya yang akan sulit menerima adikmu itu!" jawab Tere.
" Anak itu tidak akan mengancam warisan Silya, jika Silya tidak mau menerima anak itu sebagai saudaranya, suruh cari keluarga lain saja." tegas Moses.
" Ayah, kenapa kau tega sekali." sahut Sanny.
" Itu pasti ayah sudah mengecewakan Silya, jadi Silya begitu pada Ayah." Ujar Sanny.
" Kau berani mengkritikku?" tegas Moses kesal.
Tapi memang benar jika Moses mungkin telah mengecewakan Silya karena hampir setiap hari dia sibuk dengan para wanita tidak jelasnya itu, dan sebagai seorang anak perempuan melihat ibunya dikhianati di depan mata dan secara terang-terangan sudah pasti mendendam.
Moses berharap pada Sanny bisa merubah keadaan keluarganya yang sangat berantakan itu.
Setelah makan mereka mengobrol sebentar, Sanny pun keluar untuk berjalan-jalan menghirup udara segar.
Rasanya sangat tidak nyata, tiba - tiba dia menjadi seorang pewaris keluarga ternama, Zenta.
Sanny dulu hanya pernah dengar jika Zenta adalah perusahaan terbesar ke dua di negaranya, sementara Yomana berada di urutan ke 7, agak jauh.
" Biarkan aku masuk, aku ini wanita Tuan Moses, berani sekali kau menghadang ku!" terdengar suara teriakan dari gerbang luar.
" Nyonya, Tuan Moses sudah tidak menginginkan anda lagi." Ujar penjaga itu menghalangi wanita itu masuk.
Sanny memegangi keningnya, padahal dari luar Zenta terlihat luar biasa, begitu dia masuk ke dalam, rupanya bobrok sekali.
" Nyonya anda jangan masuk!" teriak penjaga.
Penjaga itu mengejar wanita itu yang menerobos masuk ke dalam, wanita itu menghampiri Sanny dan malah bersembunyi di belakang tubuh Sanny.
" Aku baru masuk, aku belum mendapat giliran, masak aku sudah mau di buang. " Ujar wanita itu.
__ADS_1
" Nyonya, kau tidak boleh menyentuh Tuan Muda." Para penjaga itu segera menarik wanita itu dan menjauhkannya dari Sanny.
Sesuai titah Tuan Mosesnya jika Pewarisnya tidak boleh tergores sedikit pun.
" Jadi dia pewaris Tuan Moses?" tanya wanita itu.
" Benar." jawab penjaga itu.
" Kalau Tuan Moses tidak mau denganku, bagaimana denganmu Tuan." Ujar wanita itu bertanya pada Sanny.
Sanny mengerutkan dahinya, dengan pertanyaan wanita di depannya itu, dia masih sangat muda mungkin lebih tua sedikit dari Bulan.
" Apa yang kau katakan, sembarangan!" tegas penjaga itu.
" Tuan, aku masih ting-ting loh, aku masih perawan, sumpah ... Aku butuh uang 200 juta untuk mengambil sertifikat rumah yang digadaikan kakak perempuanku." ujar wanita itu.
" Kau mau menjual keperawananmu hanya dengan 200 juta?" Sanny sangat terkejut.
" Iya, karena rumah itu adalah yang paling berharga untukku, jika aku kehilangan rumah itu, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, kenapa kau kembali di saat yang tidak tepat, jika kau kembali sedikit terlambat, mungkin aku sudah mendapatkan uang dari Tuan Moses." Ujar wanita itu menyalahkan Sanny.
" Iya, ... kalau begitu aku yang akan menebus sertifikat rumah itu, sebagai kompensasi telah membuatmu gagal menjadi wanita ayahku." ujar Sanny.
" Sungguh?" Wanita itu seakan tak percaya.
" Ya, dengan syarat jangan pernah ganggu ayahku lagi, apa kau tidak kasihan dengan istrinya?" tanya Sanny.
" Maaf tapi aku terpaksa, jadi kapan kau akan menebus sertifikat rumahku?" tanya wanita itu.
" Besok pagi, datanglah jam 7 pagi ... jika terlambat kau tidak akan mendapatkan sertifikat itu kembali!' tegas Sanny.
Sanny pun segera masuk ke dalam.
Keesokan paginya wanita itu sudah berdiri di depan gerbang pukul 7 pagi, Sanny pun segera menyuruhnya masuk ke dalam mobilnya.
Mereka segera pergi ke tempat pegadaian dan Sanny segera menebuskan sertifikat itu.
" Sudah selesai, apalagi yang kau inginkan?" tanya Sanny.
" Aku boleh minta uang 5 juta Tuan?" tanya wanita itu.
Sanny memberikan uang cash 10 juta, tapi wanita itu mengembalikan 5 jutanya.
" Antarkan saya pulang Tuan, setelah ini saya tidak akan mengganggu lagi." ujar wanita itu.
Sanny pun mengantarnya ke kediamannya, kediaman itu hanya rumah petak kecil, tapi terlihat sangat terawat.
" Ayo masuk dulu Tuan, saya akan buatkan minum." ujar wanita itu.
" Oh tidak terima kasih!" Sanny pun segera pamit, dia segera masuk ke dalam mobil.
Baru akan menjalankan mobilnya, tiba-tiba datang seorang wanita mengambil semua uang di tangan wanita itu.
Sanny segera keluar dan menghadang wanita itu.
Sanny langsung terkejut melihat rupa wanita yang mengambil uang dari wanita yang dibantunya.
__ADS_1
" Larisa ... " Rupanya wanita itu adalah mantan kekasihnya.