ISTRI KU 18 TAHUN

ISTRI KU 18 TAHUN
Ibu Meninggal


__ADS_3

Ttrrrrrrrrrnggggg.........tanda


bel sudah menandakan waktunya jam pelajaran usai. Para siswa pun bubar


meninggalkan kelas masing-masing. “Erliana kau mau ikut?” salah satu teman sekelasnya


mengajak dia.”Tidak terima kasih, aku akan langsung pulang karena ibuku sedang sakit”. “oh


ibumu sakit ya...kasihan, lekas sembuh ya untuk ibumu neng” ucap kristin. Reisya


dan kristin pun lebih dulu meninggalkan Erliana.


Sedangkan Erliana yang baru saja


turun dari kendaraan umum,  entah kenapa


perasaannya terasa tidak nyaman. “Perasaan jatung ku berdebar sekali, apa


karena hari ini aku kecapean tadikan pelajaran olahraga. Cuaca hari ini sangat


terik ya?” batinnya Erliana.


Erliana terus saja berjalan menuju


rumahya, kenapa banyak orang. “Ya ampun neng yang sabar ya sayang” ucap Bu Mira.


“Ada apa bu?” mata Erliana melotot dan teringat kepada sang ibu.


“Jangan-jangan”. Erliana langsung lari sekencang mungkin.


“ibu...ibu...kenapa?”. Dengan nafas yang teregah-engah...dia melihat ada


bendera kuning di depan pagar rumahya, kakinya lemas, air matanya tiba-tiba


mengalir dengan deras. “Ibu...ibu...Assalammu’alaikum aku pulang bu”. Istri


dari pamanku langsung memelukku sambil menangis. “Neng ibumu ...”ucap bibi ku.

__ADS_1


“tidak bi tidak mungkin bi, ibu tidak mungkin pergi meninggalkan aku sendiri.


Ibu kenapa bu...hiks....hiks....”. Kaki Erliana sangat lemas, dia merasa tidak


kuat menahan tubuhnya itu. “Sabar ya neng...” ucap tetangga ku.


Erliana masih merasa sangat


sedih, sekarang dia begitu kesepian, bagaimana dia tidak merasa kesepian,


karena dia sekarang menjadi anak yatim piatu. Dia adalah tunggal. Ayah nya telah lebih dulu


meniggalkannya saat Erliana masih duduk di bangku SMP. Dan sekarang dibangku


SMA dia harus kehilangan ibu nya. Dia tinggal di rumah itu sendirian. Rumah itu


jadi saksi bisu kebersamaan saat bersama keluarganya. Rumah itu menjadi


satu-satunya harta waris yang ditinggalkan orang tuanya. Dan beberapa barang


yang ada didalam rumah itu.


seakan mendemo minta diisi. “lapar”. Erliana bergegas menuju dapur. Tapi naas


disana tidak ada sedikitpun makanan. Uang bekal Erliana pun sudah menipis.


“Aduh bagaimana? “Aku coba pamanku”. Erliana menuju rumah adik ibunya itu.


“Erliana ayo makan”, ucap pamannya. “Paman bagaimana dengan aku sekarang?”  Erliana mulai memberanikan diri untuk


megugkapkan semua perasaannya. Bagaimana


dengan sekolahnya, uang bekalnya, biaya hidup sehari2. “Neng sekolah


saja kamu seperti biasa, ini uang jajan mu mudah-mudahan cukup. Biarlah paman


yang akan menjagamu mulai sekarang dan jangan merasa sungkan”. Karena bagaimanapun

__ADS_1


Erliana keponakannya. Erliana pun terseyum. “Terima kasih paman”.


Hanya saja bibinya itu kurang


setuju jika suaminya menanggug biaya hidup Erliana, karena suaminya itu hanya


supir taksi. Anaknya 3 dan bla-bla-bla...Pernah suatu saat Erliana medengar


paman dan bibinya bertengkar, masalah keuangan. “Tapi kalau bukan kita siapa


lagi mah, kita ini satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki. Aku ini adik


ibunya”. Kata Anton paman Erliana. “Iya sih kang, tapi bagaimanapun aku merasa


keberatan”. Asti bibi Erliana. “Jalanai saja dulu mah semoga kedepannya Allah


punya rencana yang lebih indah”.


Mereka sepakat. Tapi tetap saja


bagi Erliana itu membuat dia tidak enak hati. Erliana berpikir keras bagaimana


caranya dia bisa bertahan hidup. Ya setidaknya dia bisa meyelesaikan


sekolahnya. Tinggal setengah semester lagi dia menuju kelulusan. Peniggalan


harta orang tuanya tidak lah banyak tapi setidaknya itu bisa untuk biaya


sekolahnya. Erliana berusaha mencari pekerjaan paruh waktu jika ia mendapatkan


pekerjaan paruh waktu hasilnya akan dia gunakan untuk biaya sehari-hari nya dan


selebihnya ia tabung.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2