
Ttrrrrrrrrrnggggg.........tanda
bel sudah menandakan waktunya jam pelajaran usai. Para siswa pun bubar
meninggalkan kelas masing-masing. “Erliana kau mau ikut?” salah satu teman sekelasnya
mengajak dia.”Tidak terima kasih, aku akan langsung pulang karena ibuku sedang sakit”. “oh
ibumu sakit ya...kasihan, lekas sembuh ya untuk ibumu neng” ucap kristin. Reisya
dan kristin pun lebih dulu meninggalkan Erliana.
Sedangkan Erliana yang baru saja
turun dari kendaraan umum, entah kenapa
perasaannya terasa tidak nyaman. “Perasaan jatung ku berdebar sekali, apa
karena hari ini aku kecapean tadikan pelajaran olahraga. Cuaca hari ini sangat
terik ya?” batinnya Erliana.
Erliana terus saja berjalan menuju
rumahya, kenapa banyak orang. “Ya ampun neng yang sabar ya sayang” ucap Bu Mira.
“Ada apa bu?” mata Erliana melotot dan teringat kepada sang ibu.
“Jangan-jangan”. Erliana langsung lari sekencang mungkin.
“ibu...ibu...kenapa?”. Dengan nafas yang teregah-engah...dia melihat ada
bendera kuning di depan pagar rumahya, kakinya lemas, air matanya tiba-tiba
mengalir dengan deras. “Ibu...ibu...Assalammu’alaikum aku pulang bu”. Istri
dari pamanku langsung memelukku sambil menangis. “Neng ibumu ...”ucap bibi ku.
__ADS_1
“tidak bi tidak mungkin bi, ibu tidak mungkin pergi meninggalkan aku sendiri.
Ibu kenapa bu...hiks....hiks....”. Kaki Erliana sangat lemas, dia merasa tidak
kuat menahan tubuhnya itu. “Sabar ya neng...” ucap tetangga ku.
Erliana masih merasa sangat
sedih, sekarang dia begitu kesepian, bagaimana dia tidak merasa kesepian,
karena dia sekarang menjadi anak yatim piatu. Dia adalah tunggal. Ayah nya telah lebih dulu
meniggalkannya saat Erliana masih duduk di bangku SMP. Dan sekarang dibangku
SMA dia harus kehilangan ibu nya. Dia tinggal di rumah itu sendirian. Rumah itu
jadi saksi bisu kebersamaan saat bersama keluarganya. Rumah itu menjadi
satu-satunya harta waris yang ditinggalkan orang tuanya. Dan beberapa barang
yang ada didalam rumah itu.
seakan mendemo minta diisi. “lapar”. Erliana bergegas menuju dapur. Tapi naas
disana tidak ada sedikitpun makanan. Uang bekal Erliana pun sudah menipis.
“Aduh bagaimana? “Aku coba pamanku”. Erliana menuju rumah adik ibunya itu.
“Erliana ayo makan”, ucap pamannya. “Paman bagaimana dengan aku sekarang?” Erliana mulai memberanikan diri untuk
megugkapkan semua perasaannya. Bagaimana
dengan sekolahnya, uang bekalnya, biaya hidup sehari2. “Neng sekolah
saja kamu seperti biasa, ini uang jajan mu mudah-mudahan cukup. Biarlah paman
yang akan menjagamu mulai sekarang dan jangan merasa sungkan”. Karena bagaimanapun
__ADS_1
Erliana keponakannya. Erliana pun terseyum. “Terima kasih paman”.
Hanya saja bibinya itu kurang
setuju jika suaminya menanggug biaya hidup Erliana, karena suaminya itu hanya
supir taksi. Anaknya 3 dan bla-bla-bla...Pernah suatu saat Erliana medengar
paman dan bibinya bertengkar, masalah keuangan. “Tapi kalau bukan kita siapa
lagi mah, kita ini satu-satunya anggota keluarga yang dia miliki. Aku ini adik
ibunya”. Kata Anton paman Erliana. “Iya sih kang, tapi bagaimanapun aku merasa
keberatan”. Asti bibi Erliana. “Jalanai saja dulu mah semoga kedepannya Allah
punya rencana yang lebih indah”.
Mereka sepakat. Tapi tetap saja
bagi Erliana itu membuat dia tidak enak hati. Erliana berpikir keras bagaimana
caranya dia bisa bertahan hidup. Ya setidaknya dia bisa meyelesaikan
sekolahnya. Tinggal setengah semester lagi dia menuju kelulusan. Peniggalan
harta orang tuanya tidak lah banyak tapi setidaknya itu bisa untuk biaya
sekolahnya. Erliana berusaha mencari pekerjaan paruh waktu jika ia mendapatkan
pekerjaan paruh waktu hasilnya akan dia gunakan untuk biaya sehari-hari nya dan
selebihnya ia tabung.
__ADS_1