
Adit pamit pulang, sedangkan Dani
masih menemani Erliana. Gadis cantik nya kini dalam keadaan sangat sulit, Dani
merasa ikut sedih. Diumur yang sangat belia Erliana harus mengalami ini semua
tanpa orang tua, tanpa saudara. Danipun memutuskan untuk menjaganya.
“Bi tolong buatkan makan malam
ya, aku akan ikut makan malam disini bersama.” Perintah Dani
“Baik Tuan.” Bi Sari
Erliana terlihat sangat muram,
Dani mencoba mencairkan suasana dan mencoba menghibur nya. “Sayang jangan sedih
ada aku.” Dani menunjuk hidungnya dengan percaya diri. Lalu dia menyelipkan
rambut Erliana yang tergerai kebelakang telinga Erliana. Erliana memandangi
pria yang duduk disampingnya dengan lekat.
“Apakah benar dengan apa yang
kakak ucapkan? Karena aku takut terlalu banyak berharap pada mu kak, kalau
bukan ada kakak saat ini mungkin aku ....” Batin Erliana, Dani pun menatap
wajah gadis cantiknya itu, di lihat matanya yang hitam kecoklatan, dahi yang
penuh dengan rambut-rambut halus, hidungnya mancung, pipinya putih mulus tanpa
make up, bibirnya mungil berwarna merah muda. Dani benar tidak kuasa untuk
menahan kekaguman nya itu, dia mengecup dahi Erliana dan memeluknya sangat
erat. Seketika itu air mata Erliana jatuh membasahi pipinya dengan
terisak-isak. Tak kuasa untuk menahan kesedihannya.
“Sabar sayang, yakinlah kau akan
baik-baik saja.” Dani berulang kali mengecup rambut Erliana. Pelukan pria itu
sangat nyaman, hanya ini yang dia milikki saat ini. “Ya Allah lindungilah aku.”
Batin Erliana.
Sebelum Dani pulang dia
memutuskan untuk mampir ke rumah orang tuanya Erliana, Dia melihat bi Asti yang
sedang siap-siap meninggalkan rumah itu. Dani pun turun dari mobil nya, saat bi
Asti melihat Dani keluar dari mobil nya bi Asti menyuruh anak-anaknya untuk
masuk kedalam mobil.
“Mau apa kau?” Bi Asti dengan
tatapan tidak suka
“Harusnya bibi itu berterimakasih
padaku, karena rumah ini sudah aku tebus.” Dani
“Hemm...(tersenyum) Baiklah
terimakasih. Berkat kau anak sial itu beruntung. Tapi tak apalah aku tak peduli
lagi, aku akan pergi dari sini. Aku serahkan dia pada mu terserahlah kau mau
apakan dia, selamat tinggal.” Bi Asti pun pergi. “Andai saja tidak ada
laki-laki ini dia pasti sudah menderita” Batin bi Asti
“Ciihhh....sudah miskin, besar kepala.”
Kantor Dani
Adit melihat Dani sudah berada diruangannya.
“Selamat pagi Tuan Dani.” Sapa Adit
“Eh Dit,Sebelum pulang kemarin
__ADS_1
malam aku menemui bi Asti dirumahnya, Dia sudah bersiap-siap pergi meninggalkan
rumahnya. Aku mencurigai sesuatu, kau bisa selidiki ini?” Dani
“Baiklah aku akan suruh Rian untuk menyelidiki nya.” Adit
Singkat cerita, disaat Rian
menemui bi Asti. Rian mendapati rumah mewah disana, bi Asti juga mendaftarkan
anak-anaknya bersekolah. Selain rumah mewah dia juga memiliki toko sembako yang
cukup besar, ada kebun disamping rumahnya. “ Setelah dia ambil uang tunai dari
Lintah Darat, dia pergi ke kampung halamannya di kampung S, kemudian dia bangun
rumah mewah. Bi Asti sengaja tidak melunasi hutangnya itu agar rumah nona
Erliana disita, dan kehilangan semuanya. Disaat itulah dia meninggalkan nona
Erliana. Soal suaminya, bi Asti sudah berencana untuk membuatnya tertekan dan
stres karena dengan tidak sengaja aku
menemukan sekantong obat penenang dan obat untuk gangguan saraf dalam tong
sampah miliknya. Gerak gerik saat dia membuang kantong hitam itu membuat ku
curiga.” Lapor Rian pada atasannya.
“Dasar wanita licik, Buatlah
surat pernyataan bahwa rumah yang aku tebus resmi menjadi milikku. Tandatangani
olehnya diatas materai. Setelah selesai tugas cepatlah kembali aku akan
memproses nya. Dani “Lebih cepat lebih baik.” Batin Dani
“Baik pak.” Rian
Sepulang kerja Dani akan mampir
ke apartemennya. Erliana sedang menyiapkan makanan dimeja makan. Memperhatikan
Erliana seperti itu, Dani merasa memiliki istri, pulang kerja disiapkan makanan masakan istri
“Kak, ayo kita makan.” Ajak Erliana.
“Oke.” Dani mengecup pipi
Erliana. Erlian terkejut tubuh nya mematung. Dani berhasil membuat Erliana
gugup, tidak peduli Dani duduk dikursi makan. Merekapun duduk dan makan bersama
kebetulan bi Sari sedang pamit keluar saat itu. Setelah makan Erliana mengajak
Dani duduk disofa.
“Kak sampai kapan Erliana akan
tinggal dirumah ini?” Tanya Erliana
“Sampai semuanya membaik.” Dani
“Sekolah ku?” Erliana
“Berangkat dan pulang sekolah kau
akan di jemput oleh supir kakak, Pak Didin.” Dani
“Apa yang terjadi dengan rumah
orang tuaku?” Erliana
Sebelum Dani mulai bicara, Dani
mengeluskan tangannya dipuncak kepala Erliana. Lalu kedua tangannya menyentuh
wajah Erliana, dipandangi nya dengan lekat sebalik nya dengan Erliana.
“Sayang aku sungguh-sungguh
menyayangi mu, aku jatuh hati pada mu.” Dani
“Benarkah itu kak?” Erliana. Dani mengangguk
“Bagaimana dengan mu terhadap ku?”
__ADS_1
Dani. Erliana tersenyum dan tersipu malu menundukkan kepala. Lalu Erliana
menaggukkan kepalanya. Mereka kini saling memandangi dan tersenyum satu sama
lain. Perlahan wajah Dani mendekat, memiringkan kepalanya hidungnya kini
menempel pada hidung Erliana. Erliana pun memejamkan matanya, dengan lembut
Dani mengecup bibir Erliana sedetik, dua detik hingga sepuluh detik lamanya.
Kemudian di kecup dahi gadis cantiknya. Mereka pun saling berpelukan. Suasana
yang hangat saat itu, dunia ini serasa akan menjadi milik mereka.
“Terimakasih kak atas semuanya,
aku kira aku sudah serakah saat ini. Karena aku mendambakan ini, aku selalu
mengharapkan ini dari mu kak.” Erliana
“Jangan sungkan sayang, kau kini
milik ku. Begitu juga aku adalah milik mu.” Dani
“Kakak, belum jawab pertanyaan
ku, bagaimana dengan rumah orang tua ku?” Erliana
FLASHBACK ON
“Biar aku tebus, berapa semuanya?”
Dani. Rey pun bertepuk tangan
“Wah...hebat ada seorang pahlawan
rupanya. Baiklah aku tak peduli siapa kau, yang penting masalah ini terselesaikan. Aku ingin kau menebus
jaminan ini dengan 2x lipat beserta bunga nya dan juga dendanya.” Rey
“Oke.” Dani. Namun saat itu bi
Asti melarang nya untuk melakukan itu, karena alasan dia tidak ingin berhutang
budi pada siapa pun. Lebih baik dia kehilangan rumah itu. Tapi Dani tetap menebusnya,
ekspresi bi Asti saat itu terlihat tidak menyukainya.
“Kenapa dia? Seharusnya dia itu
senang karena rumah nya selamat.” Dani
FLASHBACK OFF
“Jadi rumah itu selamat dari
sitaan lintah darat kak, syukurlah. (Erliana tersenyum senang) Tapi aku rasa
kini rumah itu bukan milikku lagi, atau aku akan bekerja dan aku lunasi hutang
ku pada mu kak, dengan cara dicicil. Bagaimana?” tawar Erliana
“Ha ha ha ha...kau mau kerja,
(Erliana mengiyakan) tidak, lupakan saja
tentang pekerjaan. Kau cukup lah bersekolah, jangan banyak tingkah, menurut apa
kata-kataku. Itu sudah akan menyelamatkan hidup mu.” Dani
“Apakah rumah itu kosong
sekarang?” Erliana
“Iya, aku akan memberikan mu
kejutan nanti.” Dani
“Apa itu?” Erliana penasaran.
Bibirnya dikecup Dani sang kekasih
“Nanti kau juga akan tahu, jika
waktunya sudah tiba.” Dani mengangkat alis kiri nya. Erliana semakin penasaran.
Drrttt...drrttt...drrttt.....
__ADS_1
"Halo...iya ibu aku akan segera pulang." Dani mutup ponselnya