
Waktu sudah menunjukkan pukul 10
malam, Rian pun pamit pulang. Ditengah
perjalanan pulang, motor yang dia kendarai tidak terlalu kencang itu menabrak
seorang pria paruh baya. Sepertinya pria paruh baya itu sedang terburu-buru, disaat Rian turun dari motornya dengan maksud
untuk membantunya, pria itu lari dan menjauh.
“Kenapa orang itu, padahal aku
takut sekali jika dia terluka. Tapi syukurlah kalau dia tidak apa-apa.”
Gumam Rian.
“Tolong....tolong...copet...hiks...hiks...hiks...”
Teriak seorang gadis. Rian mencari asal suara itu, dan ternyata gadis itu
adalah Yulia.
“Bukankah itu Yulia?” Batin Rian.
Yulia menangis dan terlihat tangannya meremas perutnya sakit karena sudah
terlalu jauh berlari.
“Hei, kau ...” Rian
“Kak Rian kenapa kakak biarkan
copet itu pergi. Hiks...hiks...hiks...” Ucap Yulia sambil menangis
“Copet” Rian “Pantas saja dia
enggan aku tolong.” Batin Rian. “Maaf aku tidak tahu kalau dia itu copet.” Rian
“Hu hu hu hu hu...dia sudah mengambil tas dan ponselku” Yulia
menangis
Jalanan yang dilalui mereka
memang terllihat sudah sepi. Tapi karena tangis Yulia cukup keras, ada beberapa
orang menghampiri mereka dan beranggapan kalau Rian akan melakukan sesuatu
terhadap Yulia. Serempak beberapa orang itu menahan Rian.
“Hei apa-apaan ini, lepaskan.”
Rian
“Kau akan mencelakai gadis ini
kan?” Warga. Yulia menjelaskan dengan sesegukkan kepada mereka dan mereka
melepaskan Rian dan meminta maaf.
“Sudah berhentilah menangis.”
Pinta Rian
“Maaf kak.” Yulia
Rian menuntun motornya untuk
menepi ke pinggir jalan.
“Sudah berhentilah menangis.”
Pinta lagi Rian. Tapi Yulia masih saja menangis
“isshh...Aku antarkan kau
pulang.” Rian
“Benarkah? Tapi aku takut.” Yulia
ragu
“Kau ini untuk apa gadis seumurmu
berjalan sendiri ditempat seperti ini? Anak nakal.” Rian
“Aku ada urusan.” Yulia
“Urusan, kau punya keberanian
keluar rumah karena ada urusan, sekarang kau takut pulang kerumah.” Rian
“Bukan itu maksudku, tapi
bagaimana aku menjelaskan pada orang tua ku tentang tas dan ponsel ku.” Yulia
“Fuh...Anak nakal tetap saja anak
nakal. Sudahlah aku akan ikut menjelaskan ini pada orang tuamu. Ayo naik.”
Perintah Rian
“Benarkah, terima kasih
kak.” Yulia senang
Motor sport milik Rian cukup
tinggi, sepertinya Yulia sedikit kesulitan saat dia menaikinya. Tinggi badan
yulia hanya 155cm. Rian memperhatikan dari kaca spionnya cara Yulia menaiki motornya sangat lucu,
membuatnya tersenyum.
“Anak nakal ini memang imut
sekali.” Batin Rian. Sebenarnya semenjak Erliana mengatakan jika Yulia
menyukainya Rian pun diam-diam memperhatikan Yulia.
“Sudah?” Tanya Rian
“Hm...” Yulia
“Lama sekali naik nya.” Rian
menggoda Yulia
“Susah kak, motornya tinggi.”
Yulia
“Bukan motor yang tinggi, tapi
kakimu pendek.” Ejek Rian tersenyum lebar namun tak terlihat karena wajahnya
terhalang helm.
“Isshh...Kakak menyebalkan.”
Yulia
__ADS_1
“Ayo peluk aku.” Perintah Rian
“Kenapa harus peluk?” Tanya Yulia
malu. Rian menstater motornya yang suara
menggelegar mantap. BRUMM...
Suaranya membuat bulu kuduk Yulia
merinding
“Kak jangan ngebut aku
takut.” Yulia
“Kalau kau takut peluk aku.”
Pinta Rian
Yulia pun memeluknya dan mereka
pun pergi. Yulia memang selalu bersikap centil terhadap Rian, itu pun karena
ada Erliana dan Indri. Tapi jika berduaan seperti ini nyali Yulia menghilang.
Rasanya malu, jantungnya berdebar kencang. Dia lupa akan tas dan ponselnya,
yang dia pikirkan kali ini adalah bagaimana penampilannya sekarang. Sedari tadi
dia menangis bagaimana jika make-upnya hancur? (Meskipun make-upnya hanya sedikit polesan bedak tipis dan lipbalm pink) Mengingat itu membuat Yulia
tidak percaya diri.
Setibanya dirumah disanq Rian ikut
membantu Yulia menjelaskan permasalahan yang baru terjadi. Orang tua Yulia
sangat berterima kasih kepada Rian karena sudah mau mengantarkan yulia
pulang.
Keesokan harinya
Entah kenapa Rian ingin sekali
membawakan ponsel untuk Yulia. Pagi-pagi
sekali sebelum Rian menjemput Erliana ke sekolah. Rian pergi ke rumah Yulia untuk
memberikan ponsel. Saat itu Rian tidak masuk ke dalam r umah Yulia karena kebetulan Yulia sedang
membantu sang ibu membuang sampah. Saat Rian memberikan ponsel pada Yulia tanpa
turun dari motornya rupanya kakak Yulia memperhatikan mereka dari lantai 2
rumahnya. Setelah Yulia menerimanya Rian pun pergi.
“Bukankah itu nak Rian?” Tanya
ibu
“iya bu, lihat kak Rian
memberikan aku ini.” Yulia menunjukkan sebuah kotak yang berisi ponsen itu.
“Waah... baik sekali dia.” Timpah
kakanya yang baru saja menuruni tangga. “Siapa dia? Motornya keren juga, kerja diamana dia? Atau mahasiswa?”
Tanya nya memberondong. Yulia bingung harus jawab apa, “Ah...senyum saja
“Kenapa dia tidak masuk?” Ibu
“Kak Rian takut telat masuk kerja
bu, tapi kak Rian tadi titip salam untuk ibu.” Yulia sambil berlari untuk
bersiap-siap pergi ke sekolah. Senang rasanya, Yulia benar-benar tidak
menyangka jika Rian seperhatian ini padanya. Yulia dan Indri lebih dulu tiba
disekolah, seperti biasa mereka menunggu Erliana. Tin...tin...Mobil Erliana pun
tiba.
“Datang juga kak Rian.” Batin
Yulia. Setelah Erliana turun dari mobil
Rian pun segera pergi, namun kali ini Rian memperhatikan Yulia terlebih dahulu
Yulia pun sadar akan hal itu. Mereka saling tersenyum. Didalam mobil, Rian mengirimkan
pesan pada Yulia.
“Pukul 4 sore kita bertemu di
cafe MM” Rian
“Iya”
Jawab Yulia singkat. Yulia masih merahasiakan hal ini dari kedua temannya.
Dicafe MM
Yulia
sengaja datang lebih awal, dia tidak mau jika Rian harus menunggunya. Disana
Yulia hanya memesan minuman jus saja dan mengotak-ngetik ponsel barunya. Yulia
sedikit mencari info tentang Rian di beberapa akun sosial media, Yulia tidak
menemukan 1 potopun tentang Rian bersama wanita lain. Yulia berpikir mungkin
Rian tidak punya kekasih. Batinnya senang.
“Sudah
menunggu lama?” Rian tiba
“Kak
Rian. Tiba-tiba datang terkejut aku.” Yulia mengusap dadanya.
“Kenapa
kau senyum-senyum sendiri seperti itu?” Rian menarik kursinya dan duduk
berhadapan. Jantung Yulia berdebar kencang, Sedangkan Rian memanggil pelayan dan memesan makanan.
“Kenapa
dia diam? Apa dia sakit? Tidak seperti biasanya” Batin Rian “Kau kenapa
sakit?” Rian
“Tidak,
aku tidak sakit” Yulia. Rian tau Yulia gugup, Rian sengaja menggoda Yulia dengan menyentuh tangannya.
__ADS_1
“Tanganmu
dingin mungkin kau sakit.” Rian
“Aku tidak
sakit kak, aku hanya gugup tau.” Yulli menarik tangannya.
“Ha ha ha
ha Orang seperti mu tau rasanya gugup,
kau ini lucu sekali. Kau selalu bilang suka padaku tanpa rasa malu tapi lihat
sekarang.” Rian
“Kakak
jangan seperti itu aku malu.” Yulia. Sengaja Rian memperhatikan Yulia membuat
gadis didepannya ini salah tingkah.
“Anak
nakal.” Rian menjentikan tangannya tepat di hidungnya Yulia. Setelah mereka
selesai makan Rian mengajak Yulia menuju danau, dimana danau itu tempat para
remaja berkumpul. Jarang sekali terliha jam segini anak kecil ataupun orang
tua. Banyak pasangan muda memadu kasih disana, ada juga yang berkumpul bermain
musik, dan juga ada beberapa komunitas anak remaja seperti sepeda, sepatu roda,
skateboard, dan banyak lagi. Sudah lama juga Yulia tidak ke tempat itu, dulu
sebelum jam pelajaran ditambah Yulia dan kedua temannya suka bermain disini.
Karena Yulia tidak memperhatikan jalanan dia tersandung dan kakinya terkilir.
Yulia memekik kesakitan, kakinya tidak bisa digunakan untuk melangkah.
“Kau ini
kenapa tidak hati-hati.” Rian memapah Yulia agar Yulia duduk ditepian,
diluruskannya kaki Yulia dan sedikit dipijat oleh Rian. Rasa sakit yang
dirasakan Yulia masih saja belum hilang, Rian memutuskan untuk membawanya ke
panti pijat. Tukang pijat itu membalutkan kain Verban tensocrepe elastis
bandange pada kaki Yulia yang terkilir.
“Kau ini
ceroboh sekali.” Rian
“Maaf kak
aku selalu merpotkanmu” Yulia merasa tidak enak hati. Fuh...Rian menghembuskan
napasnya kasar.
“Ayolah
kita pulang.” Ajak Rian
Ditengah
perjalanan tiba-tiba hujan deras, Rian segera mencari tempat teduh dan dia
melihat ada sebuah kedai kopi. Dan Rian memutuskan untuk berteduh disana.
Mereka basah kuyup, Rian memapah Yulia masuk ke dalam dan mecari meja kosong.
Lalu Rian memesan kopi espresso dan latte untuk Yulia, sebenarnya Yulia tidak
minum kopi tapi disaat dingin seperti ini enak juga. Yulia meminum Lattenya
dengan polos, sehingga ada sisa latte diujung mulutnya. Melihat itu Rian segera
membersihkan mulut Yulia dengan jarinya. Tubuh Yulia seketika itu diam mematung
terpesona melihat pria yang ada dihadapannya tanpa sadar dia berkata.
“Kak Rian
aku sungguh jatuh cinta padamu” Yulia menutup mulutnya dan merasa malu. Rian
menggeserkan kursinya mendekati Yulia.
“Maaf,
kau jadi basah kuyup” Rian merasa tidak enak hati pada bocah ini.
“Tidak
apa-apa kak” Yulia tersenyum centil. Rian menatapa Yulia dan Yulia
memeberanikan diri untuk membalas tatapan itu, meskipun jantungnya kini terasa
ingin loncat. Rian mendekati wajah
Yulia, Yulia menutup matanya. Tapi Rian mencubit hidungnya.
“Aw
sakit...” Pekik Yulia. Dia mengira Rian akan menciumnya.
“Apa yang
kau pikirkan, dasar anak nakal. Otakmu mesum.” Rian
“Kakak
menyebalkan.” Yulia ceberut. Hujan masih saja turun tapi tak sederas tadi. Hingga menunggu reda habislah kopi mereka. Di tetes terakhir, latte itu terlihat lagi diujung bibir Yulia, namun kali ini Rian memilih
membersihkan bibir Yulia dengan mulutnya, Rian ******* bibir Yulia dengan
lembut. Yulia terkejut, ciuman itu
ciuman pertamanya, ciuman pertama Yulia rasanya semanis latte.
“Yakin
kau jatuh cinta padaku?” Rian. Yulia hanya tersenyum dan menganggukan kepala
dan mengecup bibir Rian singkat.
“Anak
nakal.” Rian mencubit hidungnya Yulia lembut.
“Aku juga
menyukaimu.” Rian yang asik menata rambut Yulia yang masih basah. Yulia
menggelayut mesra pada lengan Rian, cuaca masih terasa dingin tapi hati mereka
terasa panas menggebu-begu.
__ADS_1