ISTRI KU 18 TAHUN

ISTRI KU 18 TAHUN
Rian dan Yulia


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 10


malam, Rian pun pamit pulang.  Ditengah


perjalanan pulang, motor yang dia kendarai tidak terlalu kencang itu menabrak


seorang pria paruh baya. Sepertinya pria paruh baya itu sedang terburu-buru,  disaat Rian turun dari motornya dengan maksud


untuk membantunya, pria itu lari dan menjauh.


“Kenapa orang itu, padahal aku


takut sekali jika dia terluka. Tapi syukurlah kalau dia tidak apa-apa.”


Gumam Rian.


“Tolong....tolong...copet...hiks...hiks...hiks...”


Teriak seorang gadis. Rian mencari asal suara itu, dan ternyata gadis itu


adalah Yulia.


“Bukankah itu Yulia?” Batin Rian.


Yulia menangis dan terlihat tangannya meremas perutnya sakit karena sudah


terlalu jauh berlari.


“Hei, kau ...” Rian


“Kak Rian kenapa kakak biarkan


copet itu pergi. Hiks...hiks...hiks...” Ucap Yulia sambil menangis


“Copet” Rian “Pantas saja dia


enggan aku tolong.” Batin Rian. “Maaf aku tidak tahu kalau dia itu copet.” Rian


“Hu hu hu hu hu...dia sudah mengambil tas dan ponselku” Yulia


menangis


Jalanan yang dilalui mereka


memang terllihat sudah sepi. Tapi karena tangis Yulia cukup keras, ada beberapa


orang menghampiri mereka dan beranggapan kalau Rian akan melakukan sesuatu


terhadap Yulia. Serempak beberapa orang itu menahan Rian.


“Hei apa-apaan ini, lepaskan.”


Rian


“Kau akan mencelakai gadis ini


kan?” Warga. Yulia menjelaskan dengan sesegukkan kepada mereka dan mereka


melepaskan Rian dan meminta maaf.


“Sudah berhentilah menangis.”


Pinta Rian


“Maaf kak.” Yulia


Rian menuntun motornya untuk


menepi ke pinggir jalan.


“Sudah berhentilah menangis.”


Pinta lagi Rian. Tapi Yulia masih saja menangis


“isshh...Aku antarkan kau


pulang.” Rian


“Benarkah? Tapi aku takut.” Yulia


ragu


“Kau ini untuk apa gadis seumurmu


berjalan sendiri ditempat seperti ini? Anak nakal.” Rian


“Aku ada urusan.” Yulia


“Urusan, kau punya keberanian


keluar rumah karena ada urusan, sekarang kau takut pulang kerumah.” Rian


“Bukan itu maksudku, tapi


bagaimana aku menjelaskan pada orang tua ku tentang tas dan ponsel ku.” Yulia


“Fuh...Anak nakal tetap saja anak


nakal. Sudahlah aku akan ikut menjelaskan ini pada orang tuamu. Ayo naik.”


Perintah Rian


“Benarkah, terima kasih


kak.” Yulia senang


Motor sport milik Rian cukup


tinggi, sepertinya Yulia sedikit kesulitan saat dia menaikinya. Tinggi badan


yulia hanya 155cm. Rian memperhatikan dari kaca spionnya cara Yulia menaiki motornya sangat lucu,


membuatnya tersenyum.


“Anak nakal ini memang imut


sekali.” Batin Rian. Sebenarnya semenjak Erliana mengatakan jika Yulia


menyukainya Rian pun diam-diam memperhatikan Yulia.


“Sudah?” Tanya Rian


“Hm...” Yulia


“Lama sekali naik nya.” Rian


menggoda Yulia


“Susah kak, motornya tinggi.”


Yulia


“Bukan motor yang tinggi, tapi


kakimu pendek.” Ejek Rian tersenyum lebar namun tak terlihat karena wajahnya


terhalang helm.


“Isshh...Kakak menyebalkan.”


Yulia

__ADS_1


“Ayo peluk aku.” Perintah Rian


“Kenapa harus peluk?” Tanya Yulia


malu. Rian menstater  motornya yang suara


menggelegar mantap. BRUMM...


Suaranya membuat bulu kuduk Yulia


merinding


“Kak jangan ngebut aku


takut.”  Yulia


“Kalau kau takut peluk aku.”


Pinta Rian


Yulia pun memeluknya dan mereka


pun pergi. Yulia memang selalu bersikap centil terhadap Rian, itu pun karena


ada Erliana dan Indri. Tapi jika berduaan seperti ini nyali Yulia menghilang.


Rasanya malu, jantungnya berdebar kencang. Dia lupa akan tas dan ponselnya,


yang dia pikirkan kali ini adalah bagaimana penampilannya sekarang. Sedari tadi


dia menangis bagaimana jika make-upnya hancur? (Meskipun make-upnya hanya sedikit polesan bedak tipis dan lipbalm pink) Mengingat itu membuat Yulia


tidak percaya diri.


Setibanya dirumah disanq Rian ikut


membantu Yulia menjelaskan permasalahan yang baru terjadi. Orang tua Yulia


sangat berterima kasih kepada Rian karena sudah mau mengantarkan yulia


pulang.


Keesokan harinya


Entah kenapa Rian ingin sekali


membawakan ponsel untuk Yulia.  Pagi-pagi


sekali sebelum Rian menjemput Erliana ke sekolah. Rian pergi ke rumah Yulia untuk


memberikan ponsel. Saat itu Rian tidak masuk ke dalam r umah Yulia karena kebetulan Yulia sedang


membantu sang ibu membuang sampah. Saat Rian memberikan ponsel pada Yulia tanpa


turun dari motornya rupanya kakak Yulia memperhatikan mereka dari lantai 2


rumahnya. Setelah Yulia menerimanya Rian pun pergi.


“Bukankah itu nak Rian?” Tanya


ibu


“iya bu, lihat kak Rian


memberikan aku ini.” Yulia menunjukkan sebuah kotak yang berisi ponsen itu.


“Waah... baik sekali dia.” Timpah


kakanya yang baru saja menuruni tangga.  “Siapa dia? Motornya keren juga, kerja diamana dia? Atau mahasiswa?”


Tanya nya memberondong. Yulia bingung harus jawab apa, “Ah...senyum saja


“Kenapa dia tidak masuk?” Ibu


“Kak Rian takut telat masuk kerja


bu, tapi kak Rian tadi titip salam untuk ibu.” Yulia sambil berlari untuk


bersiap-siap pergi ke sekolah. Senang rasanya, Yulia benar-benar tidak


menyangka jika Rian seperhatian ini padanya. Yulia dan Indri lebih dulu tiba


disekolah, seperti biasa mereka menunggu Erliana. Tin...tin...Mobil Erliana pun


tiba.


“Datang juga kak Rian.” Batin


Yulia.  Setelah Erliana turun dari mobil


Rian pun segera pergi, namun kali ini Rian memperhatikan Yulia terlebih dahulu


Yulia pun sadar akan hal itu. Mereka saling tersenyum. Didalam mobil, Rian mengirimkan


pesan pada Yulia.


“Pukul 4 sore kita bertemu di


cafe MM” Rian


“Iya”


Jawab Yulia singkat. Yulia masih merahasiakan hal ini dari kedua temannya.


Dicafe MM


Yulia


sengaja datang lebih awal, dia tidak mau jika Rian harus menunggunya. Disana


Yulia hanya memesan minuman jus saja dan mengotak-ngetik ponsel barunya. Yulia


sedikit mencari info tentang Rian di beberapa akun sosial media, Yulia tidak


menemukan 1 potopun tentang Rian bersama wanita lain. Yulia berpikir mungkin


Rian tidak punya kekasih. Batinnya senang.


“Sudah


menunggu lama?” Rian tiba


“Kak


Rian. Tiba-tiba datang terkejut aku.” Yulia mengusap dadanya.


“Kenapa


kau senyum-senyum sendiri seperti itu?” Rian menarik kursinya dan duduk


berhadapan. Jantung Yulia berdebar kencang, Sedangkan  Rian memanggil pelayan dan memesan makanan.


“Kenapa


dia diam? Apa dia sakit? Tidak seperti biasanya” Batin Rian “Kau kenapa


sakit?”  Rian


“Tidak,


aku tidak sakit” Yulia. Rian tau Yulia gugup, Rian sengaja  menggoda Yulia dengan menyentuh tangannya.

__ADS_1


“Tanganmu


dingin mungkin kau sakit.” Rian


“Aku tidak


sakit kak, aku hanya gugup tau.” Yulli menarik tangannya.


“Ha ha ha


ha  Orang seperti mu tau rasanya gugup,


kau ini lucu sekali. Kau selalu bilang suka padaku tanpa rasa malu tapi lihat


sekarang.” Rian


“Kakak


jangan seperti itu aku malu.” Yulia. Sengaja Rian memperhatikan Yulia membuat


gadis didepannya ini salah tingkah.


“Anak


nakal.” Rian menjentikan tangannya tepat di hidungnya Yulia. Setelah mereka


selesai makan Rian mengajak Yulia menuju danau, dimana danau itu tempat para


remaja berkumpul. Jarang sekali terliha jam segini anak kecil ataupun orang


tua. Banyak pasangan muda memadu kasih disana, ada juga yang berkumpul bermain


musik, dan juga ada beberapa komunitas anak remaja seperti sepeda, sepatu roda,


skateboard, dan banyak lagi. Sudah lama juga Yulia tidak ke tempat itu, dulu


sebelum jam pelajaran ditambah Yulia dan kedua temannya suka bermain disini.


Karena Yulia tidak memperhatikan jalanan dia tersandung dan kakinya terkilir.


Yulia memekik kesakitan, kakinya tidak bisa digunakan untuk melangkah.


“Kau ini


kenapa tidak hati-hati.” Rian memapah Yulia agar Yulia duduk ditepian,


diluruskannya kaki Yulia dan sedikit dipijat oleh Rian. Rasa sakit yang


dirasakan Yulia masih saja belum hilang, Rian memutuskan untuk membawanya ke


panti pijat. Tukang pijat itu membalutkan kain Verban tensocrepe elastis


bandange pada kaki Yulia yang terkilir.


“Kau ini


ceroboh sekali.” Rian


“Maaf kak


aku selalu merpotkanmu” Yulia merasa tidak enak hati. Fuh...Rian menghembuskan


napasnya kasar.


“Ayolah


kita pulang.” Ajak Rian


Ditengah


perjalanan tiba-tiba hujan deras, Rian segera mencari tempat teduh dan dia


melihat ada sebuah kedai kopi. Dan Rian memutuskan untuk berteduh disana.


Mereka basah kuyup, Rian memapah Yulia masuk ke dalam dan mecari meja kosong.


Lalu Rian memesan kopi espresso dan latte untuk Yulia, sebenarnya Yulia tidak


minum kopi tapi disaat dingin seperti ini enak juga. Yulia meminum Lattenya


dengan polos, sehingga ada sisa latte diujung mulutnya. Melihat itu Rian segera


membersihkan mulut Yulia dengan jarinya. Tubuh Yulia seketika itu diam mematung


terpesona melihat pria yang ada dihadapannya tanpa sadar dia berkata.


“Kak Rian


aku sungguh jatuh cinta padamu” Yulia menutup mulutnya dan merasa malu. Rian


menggeserkan kursinya mendekati Yulia.


“Maaf,


kau jadi basah kuyup” Rian merasa tidak enak hati pada bocah ini.


“Tidak


apa-apa kak” Yulia tersenyum centil. Rian menatapa Yulia dan Yulia


memeberanikan diri untuk membalas tatapan itu, meskipun jantungnya kini terasa


ingin loncat.  Rian mendekati wajah


Yulia, Yulia menutup matanya. Tapi Rian mencubit hidungnya.


“Aw


sakit...” Pekik Yulia. Dia mengira Rian akan menciumnya.


“Apa yang


kau pikirkan, dasar anak nakal. Otakmu mesum.” Rian


“Kakak


menyebalkan.” Yulia ceberut. Hujan masih saja turun tapi tak sederas tadi. Hingga  menunggu reda habislah kopi mereka.  Di tetes terakhir,  latte itu terlihat lagi diujung  bibir Yulia, namun kali ini Rian memilih


membersihkan bibir Yulia dengan mulutnya, Rian ******* bibir Yulia dengan


lembut.  Yulia terkejut, ciuman itu


ciuman pertamanya, ciuman pertama Yulia rasanya semanis latte.


“Yakin


kau jatuh cinta padaku?” Rian. Yulia hanya tersenyum dan menganggukan kepala


dan mengecup bibir Rian singkat.


“Anak


nakal.” Rian mencubit hidungnya Yulia lembut.


“Aku juga


menyukaimu.” Rian yang asik menata rambut Yulia yang masih basah. Yulia


menggelayut mesra pada lengan Rian, cuaca masih terasa dingin tapi hati mereka


terasa panas menggebu-begu.

__ADS_1


__ADS_2