
Pesta pernikahan Dani dan Erliana
ternyata sampai ke telinga Renata. Mendengar kabar tersebut membuat Renata naik
pitam, Renata sangat tidak rela jika wanita yang dinikahi Dani adalah Erliana.
Ada perasaan menyesal yang amat sangat, dalam hati Renata.
Andai saja waktu itu dia tidak
meremehkan perasaan Dani
Andai saja waktu itu dia tidak
menyia-nyiakan cinta Dani
Andai saja...
Hanya kata-kata itu yang selalu
muncul dalam pikirannya. Renata merasa sangat sedih. Diapun memutuskan untuk
keluar rumah mencari angin segar. Sudah berkeliling kota dia tak memiliki arah
tujuan, dia hanya berputar-putar saja. Tapi saat dia melintas didepan klub
malam dia memutuskan untuk pergi kesana. Dia memarkirkan kendaraannya dan menikmati
suasana disana. Dia membebaskan pikirannya disana, dia menari semau hati dia
juga minum-minum. Kala itu saat Renata sedang asik menari dan sudah mulai
mabuk, ada seseorang yang menghampirinya. Dia adalah seorang pria. Pria itu
sangat tampan dan mengajak Renata berkenalan.
“Hai aku Antoni.” Antoni
menjulurkan tangannya mengajak salaman
“Hai Renata.” Renata membalasnya dengan genit
“Apa?” Antoni bertanya ulang
karena suara Renata tidak terdengar terhalang oleh lantunan musik Remix yang
keras.
“Re-na-ta...” Renata berteriak
juga.
Oh oke, Kau sendirian?” Antoni
sambil menemani Renata menari
“Ya” Renata
“Kalau begiu aku temani, boleh?”
Antoni menawarkan diri
“Tentu saja boleh.” Renata
Mereka berdua terlihat sangat
asik dan larut dibawah lampu gemerlapan. Pakaian Renata saat itu sangat terbuka
membuat Antoni merasa air salivanya akan menetes. GLUK
Antoni membawakan minuman
beralkohol dengan kadar tinggi dan dia memasukan obat perangsang dan diberikanlah
minuman itu pada Renata. Tanpa berpikir panjang Renata yang saat itu sudah
mulai kehausan,, dia minum air yang diberikan Antoni sampai habis. Antoni pun
merasa sangat senang “malam ini aku akan berseneang-senang” Batin Antoni.
Saat Renata sedang asik menari,
Antoni memiliki kesempatan untuk menari lebih dekat dan sedikit
menggesek-gesekan badannya dan Renata ternyata menyambutnya. “WOW ini diluar
dugaan ku, rupanya dia sudah terangsang.” Batin Antoni. Wajah Renata sudah
sangat menggiurkan. Antoni mencoba mengecup bibir Renata untuk memancing
nafsunya. Renata pun merespon nya dengan sangat penuh nafsu. Antonipun tidak
__ADS_1
menyia-nyiakan waktunya, dia membawa Renata ke hotel terdekat dan menikmatinya
disana. 4 jam berakhir Renata tertidur pulas, namun sepertinya Antoni belum
puas menikmati Renata. Baru kali ini dia merasakan seorang wanita yang sangat
mempesona dan lekuk tubuhnya sangat indah. Diapun menghubungi beberapa temannya
untuk sama-sama menikmati tubuhnya Renata.
Teman-teman Antoni pun tiba,
salah satu dari mereka memasukan obat perangsang lagi pada minuman Renata.
Disaat Renata dipaksa untuk bangun, dia terkejut. “Kenapa banyak laki-laki
disini" Batin Renata setengah sadar. Rupanya pengaruh alkoholnya masih ada.
Renata juga dipaksa untuk minum minuman yang sudah disiapkan. Renata merasa
sangat geli dibagian bawahnya ingin rasanya dia merasakan seperti tadi lagi.
Singkat cerita saat dia tersadar
kepalanya terasa berat dia melihat keadaanya sangat kacau dia mencium bau amis
dimana-mana, rambutnya berantakan dia merasakan tubuhnya sangat sakit apalagi
dibagian bawahnya depan dan belakangnya juga. Ada rasa perih. Dia tidak
langsung beranjak dari tempat tidurnya, dia merenungkan nasibnya.
“Kenapa aku begini?” Hiks...hiks...hiks...Renata merasa hidupnya sangat buruk
dan terpuruk. Dalam keadaan tak berbusana dia berdiri didepan cermin di kamar
mandi dia melihat disekujur tubuhnya banyak tanda kissmark dan juga memar. Dia
sangat meratapi hidupnya kini. Dia merasa hidupnya hancur dan tidak berguna.
Dia sangat prustasi saat dia mencoba untuk mengingat kejadian semalam, berapa
banyak laki-laki yang sudah menikmati tubuhnya.
Semenjak hari itu kehidupan
Renata semakin tak terarah, dia selalu menghabiskan waktunya di klub malam mabuk-mabukan,
sex bebas dan menggunakan obat-obatan terlarang.
Erliana bersama teman-teman
sedang merayakan kelulusannya. Seperti biasa mereka mencoret seragamnya didalam
kelas. Saat semua temannya akan pergi ke Danau kota dimana semua anak SMU
merayakan kelulusannya disana dan berkumpul bersama. Erliana lebih memilih
untuk pulang karena dia sadar dia tidak mungkin ikut, dia ingat anak dalam
perutnya. Erlianapun pulang terlebih dahulu setelah berpamitan ke semua
temannya, namun Erliana tidak langsung pulang ke rumah dia lebih memilih mampir
ke kantor suaminya.
Dikantor
“Selamat siang Bu Erliana.” Sapa
Friska
“Kak Friska.” Erliana. Mereka
saling menyapa senang, Friska pun membimbing Erliana ke dalam kantor atasannya
yang kebetulan saat itu sedang tidak banyak pekerjaan.
“Hai sayang, Kenapa kesini?” Dani
“Kenapa, aku tidak boleh ya
mengunjungi suamiku dikantor?” Erliana
“Tentu saja boleh, bukankah hari
ini hari kelulusan mana seragammu?” Dani terheran karena istrinya itu tidak
berseragam sekolah.
“Seragamnya ku ganti, aku malu kalau harus menemui suamiku dikantor
__ADS_1
dengan seragam sekolah.” Erliana menghampiri suaminya dan duduk dipangkuan
suaminya dan merangkulnya dengan manja.
“Ah ya ampun, kau ini.” Dani menyambut
istrinya hangat
“Sayang sekarang kau terasa
berat, lihat juga pipi mu mulai cabi” Dani
“Apa, benarkah?” Erliana
celingukan meencari cermin.Melihat sikap istrinya itu, Dani tertawa dan
menjentikan jarinya ke kening Erliana. Dani menaikkan Erliana ke atas meja
kerjanya, dia menyentuh kedua pipi istrinya dan mengecupnya mesra. Erliana pun
membalasnya sehingga mereka saling berpagut mesra. Namun tiba-tiba Adit datang
.
Ceklek
“Uups maaf.” Adit menutupi
wajahnya dengan berkas-berkas yang dia bawa.
“Kau ini, harusnya kau ketuk
dulu.” Dani
“Salah sendiri pintunya tidak
dikunci.” Adit masa bodoh. Dan dia masuk untuk menyimpan berkas-berkas itu
dimeja. Dan keluar.
“Hei, kunci pintunya.” Adit
mengingatkan dan pergi sambil terkekeh.
Danipun cepat-cepat mengunci
pintunya dan membawa Erliana ke ruangan lain. Ternyata disana terdapat sebuah kamar, kamar itu diperuntukan Dani istirahat
jika dia kerja lembur. Setelah 1 jam berseling,
mereka pun keluar ruangan untuk makan siang.
Adit terkekeh memperhatikan
kelakuan bosnya itu. Semua orang kantor tertunduk hormat kepada Dani dan
Erliana.
“Sayang aku ingin mempercepat
pernikahan kita.” Adit
“Kenapa tiba-tiba.” Friska
“Aku iri pada mereka, aku sudah
tidak sabar ingin seperti mereka.” Adit menggoda wanitanya.
Baru kali ini Erliana tertarik
lagi makan nasi, Dani sangat bersyukur melihat Erliana makan dengan lahap.
“Makan yang banyak sayang, agar
anak kita juga sehat.” Dani mengelus perut Erliana
“Sayang mulai sekarang hindari
pakaian seperti ini, melihatnya terasa sesak. Kasihan kan anak kita...” Dani
“Iya” Erliana
Sebelum mengantarkan istrinya
pulang Dani mampir terlebih dahulu ke suatu butik dan membelikan Erliana
beberapa pakaian ibu hamil dan keperluan lainnya.
Ditempat parkir Renata melihat
Dani sedang membukakan pintu mobil dan membawa banyak sekali belanjaan.
__ADS_1
Pemandangan itu membuat Renata cemburu. Dalam pengaruh obat-obatan terlarang
Renata sempat berpikir bagaimana caranya untuk menyingkirkan Erliana dari kehidupannya.