
Rumah Renata
Renata masih ingat kejadian
semalam, betapa kesalnya dia.
“Bocah itu berani menantangku
rupanya.” Gumam Renata tersenyum mengancam. Dia ingat saat Erliana melihat
dirinya tersenyum seakan menunjukan Erliana sudah menang. Tangannya mengepal,
emosinya memuncak. Tanpa pikir panjang Renata memukul dinding dihadapannya.
BUK
“Aw...sakit...” Renata kesakitan
sampai dia menitikan air mata. Ditiupnya dan dikibaskan berulang kali
tangannya itu, ada rasa sesal dalam hatinya kenapa juga harus memukul dinding.
Lalu Renata pergi menuju dapur bermaksud untuk mengambil es dan mengompreskan
tangannya. Saat itu lantai masih basah karena ART dirumah Renata sedang
mengepel lantai. Renata berlari terburu-buru dan dia pun terpeleset dan terjatuh.
BRUK
“Aahh...bibi...kenapa lantainya
licin.” Renata merengek
“Maaf nona, saya baru saja
mengepel lantai ini.” ART menunduk
“Jangan diam saja bantu aku
berdiri.” Renata mengangkatkan tangannya. ART itu cepat-cepat meraih tangannya
Renata untuk membantunya berdiri. Namun naas lantai yang dipijak ART itu licin,
dia terpeleset dan terjatuh menimpa Renata.
BRUK
“Ah...bibi...sakit...” Renata
berteriak membuat gempar seisi rumah. Teriakan Renata pun terdengar telinga
sang ayah yang sedang menikmati secangkir kopi panas dihalaman belakang.
UHUK-UHUK ayah terbatuk sehingga kopinya sedikit tumpah dan mengenai kaki sang
ayah. “Panas-panas..” kakinya kepanasan.
Hari ini begitu menyebalkan bagi
Renata. Diapun memutuskan untuk pergi ke salon favoritnya, ingin rasanya
memanjakan dirinya disana. Renata ke salon bersama ku dua temannya. Saat itu
suasana salon sedang ramai. Setibanya di salon seperti biasa karyawan E-salon dengan
ramah menyambut pelanggannya. Mata Renata membelalak ketika dia melihat cover
disalon telah tergantikan, gambar yang dulu memamerkan gambar dirinya kini tergantikan
oleh gambar seseorang yang dia benci. Dalam gambar itu Erliana terlihat jelas
sebagai gadis belia yang imut dan cantik. Renata mendengar dari salah satu
pengunjung salon sedang memuji pada gambar Erliana. Emosi Renata seakan tak bisa
terbendungkan, Renata pun merencanakan untuk mencelakakan Erliana. Renata
mengajak kedua temannya itu, awalnya mereka menolak namun tawaran Renata
lumayan cukup menggiurkan akhirnya temannya itu mau membantunya.
Sebelum menjemput nonanya, Rian
memutuskan untuk mampir mengisi bahan bakar. Dan dia terjebak antrian cukup
panjang. Saat dia tiba di depan gerbang sekolah sesuai pesan Erliana tadi. Dia
tidak mendapat Erlianan disana, Rian pun turun dan mencari Erliana.
“Ada yang ketinggalan pak?”
Petugas keamanan sekolah. Rian bingung apa maksud yang dikatakan petugas
keamanan ini.
“Biasa pak saya menjemput
Erliana.” Jawab Rian akrab karena sering bertemu
“Maaf pak, bukan kah baru saja
bapak sudah menjemputnya!” Petugas keamanan sekolah
“Maksud bapak?” Rian panik,
“Mobil siapa yang sudah menjemput Erliana.” Batin Rian. Tidak mau menghabiskan waktu Rian pun pergi
“Oke, terima kasih pak.” Rian pun
masuk ke dalam mobil. Rian mencoba menghubungi atasannya, mungkin atasannya
sendiri yang menjemput nonanya itu.
Drrttt...drrttt...drrttt...
“Hallo maaf pak, apakah nona
Erliana bersama anda?’’ Tanya nya
“Tentu saja tidak, itu tugas mu, kenapa?
__ADS_1
Ada apa?” Suara Dani keras
“Maaf pak, saya sedikit terlambat
menjemput nona Erliana karena saya mengisi bahan bakar dulu, saya sempat di
hubungi oleh nona beberapa saat tadi, lalu nona mengatakan akan menunggu saya di depan gerbang. Tapi petugas
keamanan sekolah berkata jika nona sudah dijemput seseorang. Saya pikir Pak Dani
yang jemput.” Rian
“Kau sebenarnya becus kerja
tidak.” Lantang nya suara Dani. Dani mematikan ponselnya, dan mencoba
menghubungi no ponsel kekasihnya. Namun
tidak ada jawaban. Dani tak menyerah sampai 5 kali dia coba tapi tetap saja tak
ada jawaban. Dani mulai panik, dia longgarkan dasinya , berkacak pinggang dan
berpikir. Tiba-tiba dia ingat sesuatu, Dani mencoba melacak keberadaan Erliana
lewat GPS. Dan akhirnya dia menemukan keberadaan Erliana. Dia geser untuk memperbesar lokasi. Lokasi
itu menunjukan bahwa Erliana berada disebuah perkebunan sayuran. Dan Dani tahu
tempat itu. Segera Dani memanggil Adit untuk menemaninya kemudian mereka pergi
untuk mencari Erliana, tidak lupa Dani juga menghubungi Rian dan memberitahukan
lokasi tersebut.
Erliana
Setelah beberapa saat kemudian
dan selesai merapihkan diri. Erliana melihat sekelilingnya, hiks hiks “Dimana
ini?.....” Erliana masih terlihat bingung tapi dia mulai sadar dan lebih
tenang sepertinya Erliana tahu tempat
itu. Dia mencoba mencari ponselnya, dia terkejut ada panggilan tak terjawab dari kekasihnya.
Lalu Erliana menghubungi nya.
Drrttt...drrttt...drrttt...
“Erliana” Batin Dani
“Halloo...sayang.” Dani.
Mendengar itu Adit terkejut dan memperhatikan Dani dari kaca spion.
“Kak.” Erliana serak
“Apa yang terjadi? Kau pergi
dengan siapa?” Dani
“Nanti aku ceritakan, aku tahu
Aku tak menemukan kendaraan satu pun disini.” Suara nya terdengar
sedang menahan tangis.
“Sayang aku dan Rian sedang
menuju dimana kau berada, kau diamlah disana jangan mengubah posisimu.” Dani
“Kak.....hiks hiks hiks...”
Erliana mulai menangis lagi karena tak kuat menahannya. Dilihatnya dari kaca
depan awan sudah mulai gelap tanda akan turun hujan, Aditpun menancap kan gas.
Mobil yang dikendarai Rian ternyata lebih dulu
sampai, karena saat itu posisi Rian lebih dekat dibandingkan Dani. Setelah Rian
menemukan keberadaan Erlliana barulah mobil yang dikendarai Dani tiba. Saat
Dani turun dari mobilnya, Dani mellihat kondisi Erliana yang cukup berantakan.
“Erliana.” Teriak Dani
“Kakak...” Balas Erliana dia
berlari kearah kekasihnya. Suaranya sangat serak karena sedari tadi dia
menangis. Dani memeluk erat kekasihnya itu dan menenangkannya. Dani tersadar
saat dia mengusap rambut Erliana yang panjang,hitam dan lurus itu sudah tidak
ada.
“Sayang sebenarnya apa yang terjadi
padamu?” Dani mengusap air mata Erliana, dia pandangi kekasihnya itu dari atas
kebawah terlihat kacau. Melihat keadaan Erliana yang begitu, Dani melepaskan
jas nya dan mengenakan jasnya pada Erliana. Situasi yang seperti ini Tentu saja
membuat Dani tak terima. Dani segera memerintahkan Rian untuk menyelidikinya.
Rian terlebih dulu pamit, karena saat itu Dani yang membawa Erliana untuk
pulang.
“Dit, kau antarkan kami pulang
dan kau kembali lagi ke kantor.” Pinta Dani. “Oke” Adit meraih tas Erliana dan
membukakan pintu untuk mereka berdua, sedangkan Dani seketika itu menggendong Erliana karena Erliana terlihat
lemas. Dimobil masih hening. Dani menempelkan kedua telapak tangannya diwajah
Erliana, jarinya menyeka air mata Erliana kemudian Dani mengecup bibir tipis
__ADS_1
didepannya dan kembali memeluk Erliana dengan erat. Dani masih berpikir siapa
yang berani melakukan ini pada Erliana.Aditpun ikut berpikir.
Saat Erliana melepaskan pelukan
kekasihnya dan menyandarkan bahunya pada sandaran kursi, rasanya sangat nyaman
bagi Erliana. Dani memperhatikan mata Erliana yang sembab tak henti-hentinya
Dani mengusap-usap kepala Erliana. Tanpa sadar kini Dani telah melihat sesuatu
yang menggunduk dibawah sana, terlihatnya masih ranum. Tak disadari oleh
Erliana bahwa jas yang dikenakan sedikit terbuka karena longgar. Matanya membelalak tapi dia merasa enggan
untuk berpaling, dengan sekuat tenaga dia palingkan pandangannya itu dan
beberapa kali Dani menelan salivanya itu. Badannya berubah posisi yang tadinya
miring menghadap Erliana kini Dani meluruskan badannya ke depan, dan dia
merapatkan jas itu tanpa dilihat. Erliana terkejut apa yang dilakukan
kekasihnya, Erliana cepat-cepat merapatkan jasnya. Sedangkan Adit fokus melihat
jalanan dan sesekali dia melihat dua insan yang ada dibelakangnya.
Tanpa persetujuan Erliana Dani menghubungi
Elisa dan memesan ruangan VVIP.
“Dit putar arah kita ke hotel XW.”
Dani
“Hotel, kenapa ke hotel?” Adit.
“Kau kira aku mau apa? Kita ke
salon Elisa, dasar otak mesum.” Dani
“Ha ha ha ha, maaf ...aku hanya bercanda.”
Adit terkekeh. Seperti biasa para karyawan E-salon menyambut mereka dengan ramah,
Erliana segera masuk. Elisa terkejut melihat keadaan Erliana, tidak banyak
bicara Elisa membawa Erliana ke ruangannya. Disana Erliana mendapatkan
perawatan dari ahlinya dengan paket komplit. Elisa menata dan merapihkan rambut
Erliana yang hitam nan lurus dengan sedikit blow agar terlihat mengembang. Erliana
bangun dari duduknya dan mendekatkan wajahnya ke depan cermin, menata rambutnya
dengan jari-jarinya. Erliana memutarkan badan dan menunjukan jempolnya pada Elisa
“Bagus” begitu juga dengan Elisa.
Setelah sekian lama Dani menunggu
akhirnya Erliana dan Elisa pun keluar. Dani terpesona melihat gadis cantiknya,
Erliana kini berpenampilan sangat cantik dan imut dengan gaya rambut pendek ala
militer wanita. Dia juga mengenakan atasan fashion cross tali off shoulder
sweater wanita dasar rajutan yang kasual berwarna putih polos dan
celana jeans Hight white skining- garis tengah sangat cocok. Sweater itu memang
longgar saat dikenakan Erliana tapi terlihat sangat sexy dimata Dani. Ditambah
lagi dengan bahu nya yang terbuka, membuat Dani berulang-ulang menelan cairan
salivanya.
GLUK
“Cantik bukan.” Elisa
“Luar biasa.” Dani mengigit bibir
bawahnya dia tersenyum lebar. “Rasanya aku ingin memakannya sekarang juga.”
Batin Dani. Dani menghampiri Erliana dan memeluknya dari belakang dagunya
menempel dibahu kirinya Erliana. Dani dan Erliana mendekati kaca yang besar. “Kau
cantik sekali sayang” Bisik Dani
“Terima kasih” Erliana
Setelah semua beres, Elisa,
Erliana dan Dani berbincang-bincang sedikit. Tak lupa Elisa bercerita bahwa
tadi siang Renata datang berkunjung ke salonnya, tapi setelah melihat cover
salon Renata marah dan pergi begitu saja meninggalkan salon. Erliana teringat
saat di pesta ulang tahun kemarin malam, bahwa dia yakin itu adalah kerjaan
Renata. “Apa mungkin ini juga ulah Renata” Batin Erliana
Karena Erliana merasa curiga kepada Renata, Dani menghubungi Rian untuk menyelidiki Renata.
Krweeelll....Kreweeelll....
Ha ha ha ha Dani tertawa terbahak,
Elisa menahan tawanya sedangkan Erliana wajahnya memerah karena malu. Disaat
seperti ini kenapa perutnya harus bunyi. “Memalukan” Batin Erliana
“Sayang sebenarnya aku juga sudah
lapar, ayo kita makan malam disini.” Dani dan Erliana berpamitan kepada Elisa
dan membawa Erliana untuk makan malam di restoran XW.
__ADS_1
Cekrek cekrek