ISTRI KU 18 TAHUN

ISTRI KU 18 TAHUN
Dendam Renata part 1


__ADS_3

Rumah Renata


Renata masih ingat kejadian


semalam, betapa kesalnya dia.


“Bocah itu berani menantangku


rupanya.” Gumam Renata tersenyum mengancam. Dia ingat saat Erliana melihat


dirinya tersenyum seakan menunjukan Erliana sudah menang. Tangannya mengepal,


emosinya memuncak. Tanpa pikir panjang Renata memukul dinding dihadapannya.


BUK


“Aw...sakit...” Renata kesakitan


sampai dia menitikan air mata. Ditiupnya dan dikibaskan berulang kali


tangannya itu, ada rasa sesal dalam hatinya kenapa juga harus memukul dinding.


Lalu Renata pergi menuju dapur bermaksud untuk mengambil es dan mengompreskan


tangannya. Saat itu lantai masih basah karena ART dirumah Renata sedang


mengepel lantai. Renata berlari terburu-buru dan dia pun terpeleset dan terjatuh.


BRUK


“Aahh...bibi...kenapa lantainya


licin.” Renata merengek


“Maaf nona, saya baru saja


mengepel lantai ini.” ART menunduk


“Jangan diam saja bantu aku


berdiri.” Renata mengangkatkan tangannya. ART itu cepat-cepat meraih tangannya


Renata untuk membantunya berdiri. Namun naas lantai yang dipijak ART itu licin,


dia terpeleset dan terjatuh menimpa Renata.


BRUK


“Ah...bibi...sakit...” Renata


berteriak membuat gempar seisi rumah. Teriakan Renata pun terdengar telinga


sang ayah yang sedang menikmati secangkir kopi panas dihalaman belakang.


UHUK-UHUK ayah terbatuk sehingga kopinya sedikit tumpah dan mengenai kaki sang


ayah. “Panas-panas..” kakinya kepanasan.


Hari ini begitu menyebalkan bagi


Renata. Diapun memutuskan untuk pergi ke salon favoritnya, ingin rasanya


memanjakan dirinya disana. Renata ke salon bersama ku dua temannya. Saat itu


suasana salon sedang ramai. Setibanya di salon seperti biasa karyawan E-salon dengan


ramah menyambut pelanggannya. Mata Renata membelalak ketika dia melihat cover


disalon telah tergantikan, gambar yang dulu memamerkan gambar dirinya kini tergantikan


oleh gambar seseorang yang dia benci. Dalam gambar itu Erliana terlihat jelas


sebagai gadis belia yang imut dan cantik. Renata mendengar dari salah satu


pengunjung salon sedang memuji pada gambar Erliana. Emosi Renata seakan tak bisa


terbendungkan, Renata pun merencanakan untuk mencelakakan Erliana. Renata


mengajak kedua temannya itu, awalnya mereka menolak namun tawaran Renata


lumayan cukup menggiurkan akhirnya temannya itu mau membantunya.


Sebelum menjemput nonanya, Rian


memutuskan untuk mampir mengisi bahan bakar. Dan dia terjebak antrian cukup


panjang. Saat dia tiba di depan gerbang sekolah sesuai pesan Erliana tadi. Dia


tidak mendapat Erlianan disana, Rian pun turun dan mencari Erliana.


“Ada yang ketinggalan pak?”


Petugas keamanan sekolah. Rian bingung apa maksud yang dikatakan petugas


keamanan ini.


“Biasa pak saya menjemput


Erliana.” Jawab Rian akrab karena sering bertemu


“Maaf pak, bukan kah baru saja


bapak sudah menjemputnya!” Petugas keamanan sekolah


“Maksud bapak?” Rian panik,


“Mobil siapa yang sudah menjemput Erliana.” Batin Rian. Tidak mau menghabiskan waktu Rian pun pergi


“Oke, terima kasih pak.” Rian pun


masuk ke dalam mobil. Rian mencoba menghubungi atasannya, mungkin atasannya


sendiri yang menjemput nonanya itu.


Drrttt...drrttt...drrttt...


“Hallo maaf pak, apakah nona


Erliana bersama anda?’’ Tanya nya


“Tentu saja tidak, itu tugas mu, kenapa?

__ADS_1


Ada apa?” Suara Dani keras


“Maaf pak, saya sedikit terlambat


menjemput nona Erliana karena saya mengisi bahan bakar dulu, saya sempat di


hubungi oleh nona beberapa saat tadi, lalu nona mengatakan akan menunggu saya di depan gerbang. Tapi petugas


keamanan sekolah berkata jika nona sudah dijemput seseorang. Saya pikir Pak Dani


yang jemput.” Rian


“Kau sebenarnya becus kerja


tidak.” Lantang nya suara Dani. Dani mematikan ponselnya, dan mencoba


menghubungi no ponsel  kekasihnya. Namun


tidak ada jawaban. Dani tak menyerah sampai 5 kali dia coba tapi tetap saja tak


ada jawaban. Dani mulai panik, dia longgarkan dasinya , berkacak pinggang dan


berpikir. Tiba-tiba dia ingat sesuatu, Dani mencoba melacak keberadaan Erliana


lewat GPS. Dan akhirnya dia menemukan keberadaan Erliana.  Dia geser untuk memperbesar lokasi. Lokasi


itu menunjukan bahwa Erliana berada disebuah perkebunan sayuran. Dan Dani tahu


tempat itu. Segera Dani memanggil Adit untuk menemaninya kemudian mereka pergi


untuk mencari Erliana, tidak lupa Dani juga menghubungi Rian dan memberitahukan


lokasi tersebut.


Erliana


Setelah beberapa saat kemudian


dan selesai merapihkan diri. Erliana melihat sekelilingnya, hiks hiks “Dimana


ini?.....” Erliana masih terlihat bingung tapi dia mulai sadar dan lebih


tenang  sepertinya Erliana tahu tempat


itu. Dia mencoba mencari ponselnya, dia terkejut  ada panggilan tak terjawab dari kekasihnya.


Lalu Erliana menghubungi nya.


Drrttt...drrttt...drrttt...


“Erliana” Batin Dani


“Halloo...sayang.” Dani.


Mendengar itu Adit terkejut dan memperhatikan Dani dari kaca spion.


“Kak.” Erliana serak


“Apa yang terjadi? Kau pergi


dengan siapa?” Dani


“Nanti aku ceritakan, aku tahu


Aku tak menemukan kendaraan satu pun disini.” Suara nya terdengar


sedang menahan tangis.


“Sayang aku dan Rian sedang


menuju dimana kau berada, kau diamlah disana jangan mengubah posisimu.” Dani


“Kak.....hiks hiks hiks...”


Erliana mulai menangis lagi karena tak kuat menahannya. Dilihatnya dari kaca


depan awan sudah mulai gelap tanda akan turun hujan, Aditpun menancap kan gas.


 Mobil yang dikendarai Rian ternyata lebih dulu


sampai, karena saat itu posisi Rian lebih dekat dibandingkan Dani. Setelah Rian


menemukan keberadaan Erlliana barulah mobil yang dikendarai Dani tiba. Saat


Dani turun dari mobilnya, Dani mellihat kondisi Erliana yang cukup berantakan.


“Erliana.” Teriak Dani


“Kakak...” Balas Erliana dia


berlari kearah kekasihnya. Suaranya sangat serak karena sedari tadi dia


menangis. Dani memeluk erat kekasihnya itu dan menenangkannya. Dani tersadar


saat dia mengusap rambut Erliana yang panjang,hitam dan lurus itu sudah tidak


ada.


“Sayang sebenarnya apa yang terjadi


padamu?” Dani mengusap air mata Erliana, dia pandangi kekasihnya itu dari atas


kebawah terlihat kacau. Melihat keadaan Erliana yang begitu, Dani melepaskan


jas nya dan mengenakan jasnya pada Erliana. Situasi yang seperti ini Tentu saja


membuat Dani tak terima. Dani segera memerintahkan Rian untuk menyelidikinya.


Rian terlebih dulu pamit, karena saat itu Dani yang membawa Erliana untuk


pulang.


“Dit, kau antarkan kami pulang


dan kau kembali lagi ke kantor.” Pinta Dani. “Oke” Adit meraih tas Erliana dan


membukakan pintu untuk mereka berdua,  sedangkan Dani seketika itu menggendong Erliana karena Erliana terlihat


lemas. Dimobil masih hening. Dani menempelkan kedua telapak tangannya diwajah


Erliana, jarinya menyeka air mata Erliana kemudian Dani mengecup bibir tipis

__ADS_1


didepannya dan kembali memeluk Erliana dengan erat. Dani masih berpikir siapa


yang berani melakukan ini pada Erliana.Aditpun ikut berpikir.


Saat Erliana melepaskan pelukan


kekasihnya dan menyandarkan bahunya pada sandaran kursi, rasanya sangat nyaman


bagi Erliana. Dani memperhatikan mata Erliana yang sembab tak henti-hentinya


Dani mengusap-usap kepala Erliana. Tanpa sadar kini Dani telah melihat sesuatu


yang menggunduk dibawah sana, terlihatnya masih ranum. Tak disadari oleh


Erliana bahwa jas yang dikenakan sedikit terbuka karena longgar.  Matanya membelalak tapi dia merasa enggan


untuk berpaling, dengan sekuat tenaga dia palingkan pandangannya itu dan


beberapa kali Dani menelan salivanya itu. Badannya berubah posisi yang tadinya


miring menghadap Erliana kini Dani meluruskan badannya ke depan, dan dia


merapatkan jas itu tanpa dilihat. Erliana terkejut apa yang dilakukan


kekasihnya, Erliana cepat-cepat merapatkan jasnya. Sedangkan Adit fokus melihat


jalanan dan sesekali dia melihat dua insan yang ada dibelakangnya.


Tanpa persetujuan Erliana Dani menghubungi


Elisa dan memesan ruangan VVIP.


“Dit putar arah kita ke hotel XW.”


Dani


“Hotel, kenapa ke hotel?” Adit.


“Kau kira aku mau apa? Kita ke


salon Elisa, dasar otak mesum.” Dani


“Ha ha ha ha, maaf ...aku hanya bercanda.”


Adit terkekeh. Seperti biasa para karyawan E-salon menyambut mereka dengan ramah,


Erliana segera masuk. Elisa terkejut melihat keadaan Erliana, tidak banyak


bicara Elisa membawa Erliana ke ruangannya. Disana Erliana mendapatkan


perawatan dari ahlinya dengan paket komplit. Elisa menata dan merapihkan rambut


Erliana yang hitam nan lurus dengan sedikit blow agar terlihat mengembang. Erliana


bangun dari duduknya dan mendekatkan wajahnya ke depan cermin, menata rambutnya


dengan jari-jarinya. Erliana memutarkan badan dan menunjukan jempolnya pada Elisa


“Bagus” begitu juga dengan Elisa.


Setelah sekian lama Dani menunggu


akhirnya Erliana dan Elisa pun keluar. Dani terpesona melihat gadis cantiknya,


Erliana kini berpenampilan sangat cantik dan imut dengan gaya rambut pendek ala


militer wanita. Dia juga mengenakan atasan fashion cross tali off shoulder


sweater wanita dasar rajutan yang kasual  berwarna putih polos dan


celana jeans Hight white skining- garis tengah sangat cocok. Sweater itu memang


longgar saat dikenakan Erliana tapi terlihat sangat sexy dimata Dani. Ditambah


lagi dengan bahu nya yang terbuka, membuat Dani berulang-ulang menelan cairan


salivanya.


GLUK


“Cantik bukan.” Elisa


“Luar biasa.” Dani mengigit bibir


bawahnya dia tersenyum lebar. “Rasanya aku ingin memakannya sekarang juga.”


Batin Dani. Dani menghampiri Erliana dan memeluknya dari belakang dagunya


menempel dibahu kirinya Erliana. Dani dan Erliana mendekati kaca yang besar. “Kau


cantik sekali sayang” Bisik Dani


“Terima kasih” Erliana


Setelah semua beres, Elisa,


Erliana dan Dani berbincang-bincang sedikit. Tak lupa Elisa bercerita bahwa


tadi siang Renata datang berkunjung ke salonnya, tapi setelah melihat cover


salon Renata marah dan pergi begitu saja meninggalkan salon. Erliana teringat


saat di pesta ulang tahun kemarin malam, bahwa dia yakin itu adalah kerjaan


Renata. “Apa mungkin ini juga ulah Renata” Batin Erliana


Karena Erliana merasa curiga kepada Renata, Dani menghubungi Rian untuk menyelidiki Renata.


Krweeelll....Kreweeelll....


Ha ha ha ha Dani tertawa terbahak,


Elisa menahan tawanya sedangkan Erliana wajahnya memerah karena malu. Disaat


seperti ini kenapa perutnya harus bunyi. “Memalukan” Batin Erliana


“Sayang sebenarnya aku juga sudah


lapar, ayo kita makan malam disini.” Dani dan Erliana berpamitan kepada Elisa


dan membawa Erliana untuk makan malam di restoran XW.

__ADS_1


Cekrek cekrek


__ADS_2