
Didalam mobil
Erlianan mencoba memberanikan
diri, “Kakak ini kenapa? Aku harus kerja. Padahal aku baru kerja 2 bulan, tapi
sekarang ...” Erliana memonyongkan bibirnya. Terlihat gemas dimata Dani, dia
merasa punya sesuatu yang baru. “Terus apa maksud nya, kalau aku ini milikmu?.”
Erliana melipatkan tangannya didepan dada. Dan memalingkan mukanya kearah luar
jendela.
“Sudahlah berhenti mengoceh!”
Dani sebari mengelus puncak kepala Erliana. Erlliana sontak meraih tangan Dani
dan menurunkannya.
“Kak aku ingin pulang.” Pinta
Erliana
“Baiklah, Dit kita pulang.” Dani
“Memangnya kita akan kemana,
bukankah sedari tadi kita memang akan pulang.” Batin Adit dengan ekspresi
menyebalkannya yang sedang memperhatikan 2 insan yang duduk dibelakangnya.
“Sabar Erliana, Kau tinggal minta
pekerjaan pada kak Dani mu itu.” Ucap Dani yang serius memperhatikan jalanan.
Erliana memiringkan kepakanya, dahinya mengkerut. “Ciihh...Apa maksudnya, Dani
ku?” batin Erliana. “Ahh...iya, Kakak harus bertanggung jawab!.” Seru Erliana
telunjuknya menunjuk-nunjuk bibirnya dan meminta Dani untuk bertanggung jawab.
“Kau mau kerjaan?” Dani
“Tentu saja.” Erliana semangat
Drrttt...Drrttt...Drrttt...
Tiba-tiba ponsel Erliana
bergetar. “Halloo...” jawab Erliana. Tapi ekspresi Erliana sepertinya tidak
mengenakkan. Tangannya membungkam mulutnya, air matanya membendung. “Ada apa? “ Tanya Dani khawatir, Dani mengelus
pundak gadis cantiknya dengan rasa penasaran.
“Paman Erliana kecelakaan kak,
hiks hiks hiks....” Erliana menangis, dia menutupi wajahnya dengan kedua
telapak tangannya. Nangis nya cukup keras. “ Tenanglah! “ Dani memeluk Erliana agar
tenang. Dani dan Adit saling berpandangan lewat kaca spion.
“Kak antarkan aku ke rumah sakit
saja, aku mohon!.” Pinta Erliana tersedusedan . Dan mobil Dani pun menuju Rumah
Sakit yang disebutkan Erliana.
Rumah Sakit
“Uwek uwek ...” Paman Erliana
mengalalami muntah-muntah, pandangannya berkabut, kepalanya sangat pusing,
pendengarannya berdenging, napasnya terasa sesak. Entah sudah berapa kali paman
Anton muntah. Badannya terasa lelah, serasa kesemutan diseluruh badannya. Dia
merasa linglung, padahal sedari tadi istrinya memanggil-manggil namanya dan
terus berada disampingnya. “Pak kuat, pak kuat. “ Bibi Asti Hiks hiks hiks
paman Anton pun pingsan tak sadrakan diri.
Dokter segera memeriksa
pasiennya, dan bibi diperintahkan untuk menunggu diluar. Bibi Asti menahan
tangisnya, dia kebingungan harus
menghubungi siapa. Dia medapatkan kabar dari salah satu warga yang menolong
suaminya di tempat kejadian. Dan yang dia ingat hanyalah Erliana.
Setibanya Erliana, bi Asti
menangis histeris. “Neng paman mu.” Hiks hiks hiks...
__ADS_1
“Bi yang sabar ya. “ Erliana
memeluk bibinya “Bibi tenang dulu ya...” tambahnya “Sekarang paman dimana?”
Tanya nya
“Paman mu sedang diperiksa
dokter, tadi paman mu muntah-muntah Neng lalu tak sadarkan diri.” Bi Asti
Dokterpun keluar
“Pihak keluarga bapak Anton?” Dokter itu menunjuk bi Asti, dan bi Astii
mengangguk.
“Bagaimana dengan keadaan suami
ku dok?” Bi Asti khawatir
“Suami ibu mengalami gegar otak. Kami
harus...” Ucapan dokter itu terhenti saat suster nya memanggil. Dokter itu kembali
ke dalam ruangan untuk melihat keadaan pasiennya. Paman Anton sudah berada
dibawah dengan terlentang dilantai. Paman Anton terlihat mengeluarkan darah
dari telinganya, dengan hati-hati sekali dokter dan beberapa perawat disana
memindahkan paman Anton untuk dinaikkan ke atas tempat tidur. “Kenapa ini? “
Tanya dokter
FLASHBACK ON
Saat suster akan memeriksa
tekanan darah pada pasiennya, tiba-tiba paman Anton terbangun dan berteriak –teriak
tak karuan. Tubuhnya memang lemah, tapi dia memaksakan diri untuk mencoba turun
dari tempat tidurnya. Lalu dia terjatuh.
FLASHBACK OFF
“Dok! “ Seru suster
Dokter itu memeriksa pasiennya. Pernapasan pasiennya terhenti, Jantung nya tak
berdetak, saat dokter merangsang pada
berkedip. Dokter itu menggelengkan kepalanya. Dia keluar dari ruangan
periksanya untuk memberitahukan kabar duka ini kepada keluarga pasien.
“Bagaimana dok? “ Tanya Dani
“Pasien mengalami patah tulang
tengkorak saat dia terjatuh tadi dan mengalami pendarahan pada otak. Maaf pak,
kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi Allah berkehendak lain.” Dokter
“Tidak...” Bi Asti berteriak
histeris. Bi Asti pingsan tak sadarkan diri. Erliana tak sanggup menahan bi
Asti dan mereka pun terjatuh.
Dikediaman Paman Anton
Karena hari sudah malam, jenazah
paman Anton akan dimakamkan besok pagi.
Keesokkan harinya
Suasana hari ini sangat berduka,
jenazah paman Anton telah dikebumikan. Paman Anton meninggalkan istri dan 3
orang anak. Suzanti 11 tahun, Rosa 9
tahun dan lily 5 tahun. Dan mereka kini menjadi anak yatim. Bi Asti masih
sangat sedih atas kepergian suaminya itu, dirumah duka ada beberapa orang saja yang
masih tinggal termasuk Dani dan Adit.
“Sayang kakak pamit ya.” Dani.
Erliana membulatkan mataaya, sedangkan Adit menahan tawa. Erliana gugup entah
apa yang harus dia katakan. Sementara itu bi Asti dan yang lainnya hanya
memandangi Erliana. “Iya kak. “ Jawab Erliana tersenyum garing.
“Bu kami pamit.” Adit mendahului
__ADS_1
Dani kemudian Dani menyusul Adit berdiri. “Terima kasih.” Balas bi Asti “Apa dia
ini kekasih nya Erliana sepertinya dia orang kaya?” Batin Bi Asti
Erliana saat itu tidak banyak
bicara, dia hanya mengantarkan Dani dan Adit sampai pintu pagarnya. Dani
mengeluskan tangannya di kepala gadis cantiknya. “Sepertinya dia sangat
menyukai rambutku.” Batin Erliana “Aku harus rajin keramas kalau begini.” Tambahnya
lagi
Dani hanya tersenyum ringan
rasanya senang saat bersama Erliana. Setelah Dani merasa puas memandangi gadis
cantiknya, Dia pun pergi. Adit berdehem-dehem sedari tadi.
“Ayo pulang.” Adit Menyeret Dani
untuk pulang. “Dah Erliana kami pulang dulu.” Tambahnya lgi
Erliana hanya menanggukan kepala.
“Dah sayang...” Dani sambil
melambaikan tangannya dan suaranya tidak terlalu keras
“Ayo pulang. “ Seret lagi Adit
“Dah sayang...” Dani
“Iisshh...Ayo pulang...” Adit
“Kalian ini kenapa ? “ Batin Erliana.
Entah kenapa rasanya Erliana merasa sangat senang saat Dani memanggilnya
sayang.
Waktu sudah menunjukkan pukul 7
malam, Erliana baru saja pamit dari rumah bibinya. Didalam kamar Erliana sedang
merapihkan buku-buku pelajarannya. Dia sedikit melamun, Perasaan dia sedih jika
ingat pamannya tapi hatinya senang jika dia ingat Dani. Dari ekspresi sedih tak
lama kemudian dia senyum-senyum. “Ya ampun kenapa aku ini, kalau ingat kak Dani
rasanya jantungku berdebar tak karuan.” Batin Erliana tangannya menutupi
wajahnya karena merasa malu. “Hah...” Napasnya kasar Dia menatap langit-langit
atap kamarnya dan memejamkan mata nya dia mulai berdo’a “Ya Allah pengganti
orang tuaku sekarang sudah tidak ada. Hanya kepada mu aku memohon perlindungan.”
Erliana menangis dengan tertahan sehingga dia merasakan sesak di dadanya,
hidungnya mulai mampet, dan mukanya terasa panas.
Drrtt...drrtt...drrtt...
Ponsel Erliana bergetar
“Halloo...” Jawab Erliana
“Hai Neng, gadis cantikku.” Sapa
Dani
“Kak Dani, darimana kau tahu no
ponsel ku? “ Erlliana
“Hai apa kau menangis? Apa perlu
aku kerumah mu? “ Dani
“Ahh...tidak perlu kak, aku hanya
teringat paman ku saja. “ Erliana
“ Dari pada hanya diingat lebih
baik kau do’akan! “ Dani
“Hm...” Erliana
“Kenapa hanya hm...” Batin Dani
DUG DUG DUG
“Hai...keluar lah rumah ini akan
kami sita.”
__ADS_1