ISTRI KU 18 TAHUN

ISTRI KU 18 TAHUN
Paman Anton


__ADS_3

Didalam mobil


Erlianan mencoba memberanikan


diri, “Kakak ini kenapa? Aku harus kerja. Padahal aku baru kerja 2 bulan, tapi


sekarang ...” Erliana memonyongkan bibirnya. Terlihat gemas dimata Dani, dia


merasa punya sesuatu yang baru. “Terus apa maksud nya, kalau aku ini milikmu?.”


Erliana melipatkan tangannya didepan dada. Dan memalingkan mukanya kearah luar


jendela.


“Sudahlah berhenti mengoceh!”


Dani sebari mengelus puncak kepala Erliana. Erlliana sontak meraih tangan Dani


dan menurunkannya.


“Kak aku ingin pulang.” Pinta


Erliana


“Baiklah, Dit kita pulang.” Dani


“Memangnya kita akan kemana,


bukankah sedari tadi kita memang akan pulang.” Batin Adit dengan ekspresi


menyebalkannya yang sedang memperhatikan 2 insan yang duduk dibelakangnya.


“Sabar Erliana, Kau tinggal minta


pekerjaan pada kak Dani mu itu.” Ucap Dani yang serius memperhatikan jalanan.


Erliana memiringkan kepakanya, dahinya mengkerut. “Ciihh...Apa maksudnya, Dani


ku?” batin Erliana. “Ahh...iya, Kakak harus bertanggung jawab!.” Seru Erliana


telunjuknya menunjuk-nunjuk bibirnya dan meminta Dani untuk bertanggung jawab.


“Kau mau kerjaan?” Dani


“Tentu saja.” Erliana semangat


Drrttt...Drrttt...Drrttt...


Tiba-tiba ponsel Erliana


bergetar. “Halloo...” jawab Erliana. Tapi ekspresi Erliana sepertinya tidak


mengenakkan. Tangannya membungkam mulutnya, air matanya membendung.  “Ada apa? “ Tanya Dani khawatir, Dani mengelus


pundak gadis cantiknya dengan rasa penasaran.


“Paman Erliana kecelakaan kak,


hiks hiks hiks....” Erliana menangis, dia menutupi wajahnya dengan kedua


telapak tangannya. Nangis nya cukup keras.  “ Tenanglah! “ Dani memeluk Erliana agar


tenang. Dani dan Adit saling berpandangan lewat kaca spion.


“Kak antarkan aku ke rumah sakit


saja, aku mohon!.” Pinta Erliana tersedusedan . Dan mobil Dani pun menuju Rumah


Sakit yang disebutkan Erliana.


Rumah Sakit


“Uwek uwek ...” Paman Erliana


mengalalami muntah-muntah, pandangannya berkabut, kepalanya sangat pusing,


pendengarannya berdenging, napasnya terasa sesak. Entah sudah berapa kali paman


Anton muntah. Badannya terasa lelah, serasa kesemutan diseluruh badannya. Dia


merasa linglung, padahal sedari tadi istrinya memanggil-manggil namanya dan


terus berada disampingnya. “Pak kuat, pak kuat. “ Bibi Asti Hiks hiks hiks


paman Anton pun pingsan tak sadrakan diri.


Dokter segera memeriksa


pasiennya, dan bibi diperintahkan untuk menunggu diluar. Bibi Asti menahan


tangisnya, dia  kebingungan harus


menghubungi siapa. Dia medapatkan kabar dari salah satu warga yang menolong


suaminya di tempat kejadian. Dan yang dia ingat hanyalah Erliana.


Setibanya Erliana, bi Asti


menangis histeris. “Neng paman mu.” Hiks hiks hiks...

__ADS_1


“Bi yang sabar ya. “ Erliana


memeluk bibinya “Bibi tenang dulu ya...” tambahnya “Sekarang paman dimana?”


Tanya nya


“Paman mu sedang diperiksa


dokter, tadi paman mu muntah-muntah Neng lalu tak sadarkan diri.” Bi Asti


Dokterpun keluar


“Pihak keluarga bapak Anton?”  Dokter itu menunjuk bi Asti, dan bi Astii


mengangguk.


“Bagaimana dengan keadaan suami


ku dok?” Bi Asti khawatir


“Suami ibu mengalami gegar otak. Kami


harus...” Ucapan dokter itu terhenti saat suster nya memanggil. Dokter itu kembali


ke dalam ruangan untuk melihat keadaan pasiennya. Paman Anton sudah berada


dibawah dengan terlentang dilantai. Paman Anton terlihat mengeluarkan darah


dari telinganya, dengan hati-hati sekali dokter dan beberapa perawat disana


memindahkan paman Anton untuk dinaikkan ke atas tempat tidur. “Kenapa ini? “


Tanya dokter


FLASHBACK ON


Saat suster akan memeriksa


tekanan darah pada pasiennya, tiba-tiba paman Anton terbangun dan berteriak –teriak


tak karuan. Tubuhnya memang lemah, tapi dia memaksakan diri untuk mencoba turun


dari tempat tidurnya. Lalu dia terjatuh.


FLASHBACK OFF


“Dok! “ Seru suster


Dokter itu memeriksa pasiennya.  Pernapasan pasiennya terhenti, Jantung nya tak


berdetak,  saat dokter merangsang pada


berkedip. Dokter itu menggelengkan kepalanya. Dia keluar dari ruangan


periksanya untuk memberitahukan kabar duka ini kepada keluarga pasien.


“Bagaimana dok? “ Tanya Dani


“Pasien mengalami patah tulang


tengkorak saat dia terjatuh tadi dan mengalami pendarahan pada otak. Maaf pak,


kami sudah berusaha sebaik mungkin tapi Allah berkehendak lain.” Dokter


“Tidak...” Bi Asti berteriak


histeris. Bi Asti pingsan tak sadarkan diri. Erliana tak sanggup menahan bi


Asti dan mereka pun terjatuh.


Dikediaman Paman Anton


Karena hari sudah malam, jenazah


paman Anton akan dimakamkan besok pagi.


Keesokkan harinya


Suasana hari ini sangat berduka,


jenazah paman Anton telah dikebumikan. Paman Anton meninggalkan istri dan 3


orang anak. Suzanti  11 tahun, Rosa 9


tahun dan lily 5 tahun. Dan mereka kini menjadi anak yatim. Bi Asti masih


sangat sedih atas kepergian suaminya itu, dirumah duka ada beberapa orang saja yang


masih tinggal termasuk Dani dan Adit.


“Sayang kakak pamit ya.” Dani.


Erliana membulatkan mataaya, sedangkan Adit menahan tawa. Erliana gugup entah


apa yang harus dia katakan. Sementara itu bi Asti dan yang lainnya hanya


memandangi Erliana. “Iya kak. “ Jawab Erliana tersenyum garing.


“Bu kami pamit.” Adit mendahului

__ADS_1


Dani kemudian Dani menyusul Adit berdiri. “Terima kasih.” Balas bi Asti “Apa dia


ini kekasih nya Erliana sepertinya dia orang kaya?” Batin Bi Asti


Erliana saat itu tidak banyak


bicara, dia hanya mengantarkan Dani dan Adit sampai pintu pagarnya. Dani


mengeluskan tangannya di kepala gadis cantiknya. “Sepertinya dia sangat


menyukai rambutku.” Batin Erliana “Aku harus rajin keramas kalau begini.” Tambahnya


lagi


Dani hanya tersenyum ringan


rasanya senang saat bersama Erliana. Setelah Dani merasa puas memandangi gadis


cantiknya, Dia pun pergi. Adit berdehem-dehem sedari tadi.


“Ayo pulang.” Adit Menyeret Dani


untuk pulang. “Dah Erliana kami pulang dulu.” Tambahnya lgi


Erliana hanya menanggukan kepala.


“Dah sayang...” Dani sambil


melambaikan tangannya dan suaranya tidak terlalu keras


“Ayo pulang. “ Seret lagi Adit


“Dah sayang...” Dani


“Iisshh...Ayo pulang...” Adit


“Kalian ini kenapa ? “ Batin Erliana.


Entah kenapa rasanya Erliana merasa sangat senang saat Dani memanggilnya


sayang.


Waktu sudah menunjukkan pukul 7


malam, Erliana baru saja pamit dari rumah bibinya. Didalam kamar Erliana sedang


merapihkan buku-buku pelajarannya. Dia sedikit melamun, Perasaan dia sedih jika


ingat pamannya tapi hatinya senang jika dia ingat Dani. Dari ekspresi sedih tak


lama kemudian dia senyum-senyum. “Ya ampun kenapa aku ini, kalau ingat kak Dani


rasanya jantungku berdebar tak karuan.” Batin Erliana tangannya menutupi


wajahnya karena merasa malu. “Hah...” Napasnya kasar Dia menatap langit-langit


atap kamarnya dan memejamkan mata nya dia mulai berdo’a “Ya Allah pengganti


orang tuaku sekarang sudah tidak ada. Hanya kepada mu aku memohon perlindungan.”


Erliana menangis dengan tertahan sehingga dia merasakan sesak di dadanya,


hidungnya mulai mampet, dan mukanya terasa panas.


Drrtt...drrtt...drrtt...


Ponsel Erliana bergetar


“Halloo...” Jawab Erliana


“Hai Neng, gadis cantikku.” Sapa


Dani


“Kak Dani, darimana kau tahu no


ponsel ku? “ Erlliana


“Hai apa kau menangis? Apa perlu


aku kerumah mu? “ Dani


“Ahh...tidak perlu kak, aku hanya


teringat paman ku saja. “ Erliana


“ Dari pada hanya diingat lebih


baik kau do’akan! “ Dani


“Hm...” Erliana


“Kenapa hanya hm...” Batin Dani


DUG DUG DUG


“Hai...keluar lah rumah ini akan


kami sita.”

__ADS_1


__ADS_2