
Erliana terlihat sibuk mencarikan
dasi yang cocok untuk suaminya pakai hari ini, setelah dia dapat langsung dia
pakaikan. Dani terseneyum bahagia setiap melihat tingkah Erliana yang terkadang
kekanakan. Dengan gemas Dani menyentuh pipi Erliana lalu dia tempelkan keningnya, hidungnya lalu ke bibir.
“Muah....” Dani
“Ow...sayang pelan-pelan, ini
sakit.” Erliana
“Ha ha ha ha” Dani
“Sayang jangan lupa nanti sore
kita akan pergi ke klinik, periksa kandungan.” Erliana mengelus perutnya
“Oke...kamu hubungi aku, agar aku
tidak lupa.” Dani ikut mengelus perut istrinya
“Hm” Erliana
Dikantor
“Friska” Dani yang baru saja tiba
“Iya pak.” Friska segera berdiri
dan menunduk hormat
“Tolong ingatkan saya untuk
pulang lebih awal, karena saya akan menemani istri saya untuk periksa kandungannya.” Dani
“Baik pa.” Friska
“Terimakasih” Dani tersenyum
Dirumah
Erliana, nenek dan ibu sedang
makan bersama, namun kali ini ibu membuat nasi liwet lengkap dengan lauk
pauknya dan mereka sepakat untuk menyantap makanan itu di bale disamping rumah.
Erliana lahap sekali begitu juga ibu dan
nenek. Erliana mengirimkan beberapa foto kepada suaminya saat mereka sedang
berada di bale.
Saat Dani menerima foto itu Dani
tersenyum.
“Wah...enak sekali makan nasi
liwet, dibale pula.” Batin Dani. Dia perhatikan satu persatu dari mereka. Dani
sangat bersyukur hadir ditengah-tengah mereka. Dani pun melanjutkan beberapa
pekerjaannya.
Singkat cerita hari menjelang
sore.
Tok-tok-tok
“Ya masuk.” Dani
“Pak, sudah waktunya untuk
pulang.?” Friska
“Oke., terimakasih.” Dani segera
merapihkan diri dan pulang.
Setibanya dirumah dia disambut
sang istri dengan ciuman yang bertubi-tubi. Dani merasa keheranan ada apa
dengan istrinya.
“Nak boleh ibu ikut, ibu sedikit
ada urusan.” Ibu
Merekapun segera berangkat, Dani dan
Erliana bermaksud mengantarkan ibu dan menunggunya, agar ibu dapat ikut juga ke
klinik. Tanpa Dani sadari sedari tadi ada mobil hitam yang mengikutinya. Setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan
Dani melangkah menuju mobilnya. Mobil hitam itu bersiap-siap dan menancapkan
gasnya sekencang mungkin dan...BRAK....
Semua orang disana berteriak,
mobil hitam itu langsung kabur. Disaat Dani menoleh , dia terkejut bukan main
ternyata ibu dan Erliana lah yang tertabrak.
__ADS_1
“I...B...U...” Dani berlari dan
meraih ibunya yang sudah berlumuran darah dibagian kepalanya sangat banyak juga
dihidung, mulut dan telinga. Sang ibu terlindas mobil sedangkan Erliana
terlempar kesamping tepatnya didepan anak tangga pintu masuk klinik. Jatuhnya
begitu keras sehingga bokongnya membentur anak tangga. Ditepuk-tepuk wajah ibu olehnya namun ibu
tetap tidak bergerak. Seseorang menariknya dan memberitahukan keadaan Erliana.
Dani meminta kepada warga untuk membawa sang ibu ke dalam klinik. Dan dia
berlari menuju Erliana yang saat itu sedang meringis kesakitan sambil menangis.
“Istriku....sayang...” Dani
melihat gaun sang istri tersingkap sedikit hingga terpampang paha putihnya
namun dia melihat banyak sekali darah disana. Erliana menangis dan memegang
perutnya.
“Sakit...” Erliana
“Bertahanlah sayang...” Dani
menangis dan membawa sang istri kedalam.
Keduanya dimasukkan ke ruangan khusus tindak, namun Dani tidak diperkenankan
masuk sehingga dia harus menunggunya diluar. Selama pemeriksaan Dani
menghubungi nenek,Adit dan Rian.
Dani ditemani beberapa warga yang
bersimpati padanya. Dani duduk tertunduk menangis tanpa suara, air matanya
menetes ke tangan yang berlumuran darah. Dia melihat kedua tangannya lalu
pakaiannya semuanya penuh dengan darah. Air matanya semakin deras, lalu dia
terdiam tatapannya kososng.
Beberapa saat kemudian nenek
datang ditemani bi Sari dan pak Didin, di susul Adit dan Rian.
“Cucuku dimana mereka?” nenek
menghampiri cucunyha yang terdiam lesu wajahnya sangat kusut.
“Ya Allah selamatkanlah mereka?”
Do’a nenek sambil menangis
ada dihadapannya satu persatu dengan tatapan penuh amarah. Dani berdiri
menghadap Rian dia menuntut agar Rian
mencari tahu tentang kejadian ini.
“Aku tidak mau tahu secepatnya
kau harus kabari aku dan temukan pelakunya. Dia harus mendapatkan hukuman yang
setimpal atas perbuatannya.” Dani
“Baik pa.” Rian
“Sekarang.” Dani berteriak
“Baik saya pemisi.” Rian pergi
Adit segera menghampiri
sahabatnya dan menepuk bahunya agar dia kuat. Dani hanya bisa menatapnya, air
matanya membendung lalu Adit memeluknya. Tangis Danipun pecah.
“Ibuku...Istriku...Anakku....”
Dani memeluk erat sahabatnya. Aditpun tak kuasa menahan air matanya.
“Keluarga pasien.” Dokter
“Dokter bagaimana?” Adit
“Maaf, kami tim dokter sudah
berusaha tapi pasien tidak dapat tertolong. Pasien itu mengalami pecah pada
tengkoraknya. Bapak yang sabar.” Dokter
“IBU........” Teriak Dani yang
saat itu menjadi pusat perhatian, semua yang ada disana menjadi ikut sedih melihat
Dani yang begitu sangat terpukul atas kehilangan sang ibu.
“IBU...” Adit
Dani terus saja berteriak
memanggil ibunya, meskipun Adit sedih dia harus bisa menenangkan Dani.
“Sudahlah Dani sudah.” Adit merangkul Dani
__ADS_1
Teriakan Dani sampai ke telinga
Erliana, Tapi dia tidak dapt membuka matanya rasanya berat sekali ingin
berucapun tak bisa. Erliana hanya bisa menangis karena dia mendengar ibunya
sudah tiada. Dokter yang menunggu Erliana sadari itu lalu dia memanggil
temannya untuk memeriksa keadaan pasiennya.
“Dok, pasien yang satunya sudah
sadar.” Dokter kandungan
“Itu istriku...”Dani segera
berlari menghampiri Erliana tapi dicegah petugas, tapi Dani memaksa dan
akhirnya Dani dapat masuk.
“Sayang...sayang...” dani
berusaha untuk membangunkan Erliana tapi dia tak kunjung bangun. Dia hanya
berlinang air mata saja.
“Dokter bagaimana dengan istriku,
kenapa dengan dia?” Dani menangis khawatir
“Istri bapak mengalami syok, tapi
bapak tak perlu khawatir setelah istri bapa sadar dia akan baik-baik saja.
Hanya saja anak bapak tidak dapat terselamatkan. Istri bapak mengalami
keguguran.” Dokter kandungan yang memeriksa Erliana tadi
“Apa?” Dani tak percaya akan hal
itu tangisnya kembali pecah, tangannya meraba perut Erliana dan dia beberapa
kali mengecupnya.
“Anakku....” Dani
Mendengar penjelasan itu nenek
tak kuasa lagi menahan sedihnya dan dia jatuh pingsan.
Pagi hari dirumah duka banyak
oarang yang melayat. Sayang Erliana tidak dapat mengantarkan ibu ke tempat
peristirahatan terakhir. Kondisi Erliana sangat lemah, dia ditemani Indri dan
Yulia.
“Sabar ya neng...” Indri memeluk
sahabatnya, Yulia tidak sanggup berbicara dia hanya menahan nangis dan menepuk
bahu sahabatnya lalu mereka berpelukan.
Proses pemakaman pun selesai,
rumah Dani begitu sangat sepi. Dia pergi untuk menemui kekasihnya. Tanpa
Erliana sadari sang suami sedari tadi memperhatikannya, Dani melihat wajah sang
istrinya lesu tak bergairah dia seperti
boneka manik terdiam tak bergeming. Dia sangat terpukul atas kehilangan sang
ibu yang cara kematiannya begitu tragis. Ditambah lagi dia harus kehilangan
anaknya. “Sebenarnya siapa yang sudah tega melakukan ini pada keluargaku.”
Batin Erliana
Dani menghampiri Erliana dan
menyadarkan istrinya dari lamunannya. Seketika itu air mata Erlliana mengalir,
lalu dia memeluk suaminya.
“Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga
anak kita.” Erliana menangis
“Ini bukan salahmu sayang.” Dani
memeluk Erliana dan menenangkannya. Dani ikut merasakan kehilangan seorang
anak, karena selama ini dia memang sangat mendambakan kehadiran anak dalam
rumah tangganya. Dia merangkul istrinya tak terasa air matanya ikut mengalir.
Dia mencoba untuk tidak memperlihatkan kesedihannya didepan istrinya. Dia harus
kuat. Dani berusaha untuk menguatkan istrinya.
“Sayang lihat aku, Berjanjilah padaku
untuk tetap berada disampingku. Hanya kaulah yang aku punya saat ini. Kau adalah
sumber kekuatanku.” Dani
Erliana tidak dapat berkata-kata
__ADS_1
dia hanya menganggukan kepala dan memeluk sang suami tercinta. Mereka larut
dalam suasana duka saat ini.