ISTRI KU 18 TAHUN

ISTRI KU 18 TAHUN
Dirundung Duka


__ADS_3

Erliana terlihat sibuk mencarikan


dasi yang cocok untuk suaminya pakai hari ini, setelah dia dapat langsung dia


pakaikan. Dani terseneyum bahagia setiap melihat tingkah Erliana yang terkadang


kekanakan. Dengan gemas Dani menyentuh  pipi Erliana lalu dia tempelkan keningnya, hidungnya lalu ke bibir.


“Muah....” Dani


“Ow...sayang pelan-pelan, ini


sakit.” Erliana


“Ha ha ha ha” Dani


“Sayang jangan lupa nanti sore


kita akan pergi ke klinik, periksa kandungan.” Erliana mengelus perutnya


“Oke...kamu hubungi aku, agar aku


tidak lupa.” Dani ikut mengelus perut istrinya


“Hm” Erliana


Dikantor


“Friska” Dani yang baru saja tiba


“Iya pak.” Friska segera berdiri


dan menunduk hormat


“Tolong ingatkan saya untuk


pulang lebih awal, karena saya akan menemani istri  saya untuk periksa kandungannya.” Dani


“Baik pa.” Friska


“Terimakasih” Dani tersenyum


Dirumah


Erliana, nenek dan ibu sedang


makan bersama, namun kali ini ibu membuat nasi liwet lengkap dengan lauk


pauknya dan mereka sepakat untuk menyantap makanan itu di bale disamping rumah.


Erliana lahap sekali  begitu juga ibu dan


nenek. Erliana mengirimkan beberapa foto kepada suaminya saat mereka sedang


berada di bale.


Saat Dani menerima foto itu Dani


tersenyum.


“Wah...enak sekali makan nasi


liwet, dibale pula.” Batin Dani. Dia perhatikan satu persatu dari mereka. Dani


sangat bersyukur hadir ditengah-tengah mereka. Dani pun melanjutkan beberapa


pekerjaannya.


Singkat cerita hari menjelang


sore.


Tok-tok-tok


“Ya masuk.” Dani


“Pak, sudah waktunya untuk


pulang.?” Friska


“Oke., terimakasih.” Dani segera


merapihkan diri dan pulang.


Setibanya dirumah dia disambut


sang istri dengan ciuman yang bertubi-tubi. Dani merasa keheranan ada apa


dengan istrinya.


“Nak boleh ibu ikut, ibu sedikit


ada urusan.” Ibu


Merekapun segera berangkat, Dani dan


Erliana bermaksud mengantarkan ibu dan menunggunya, agar ibu dapat ikut juga ke


klinik. Tanpa Dani sadari sedari tadi ada mobil hitam yang mengikutinya.  Setelah mereka selesai melakukan pemeriksaan


Dani melangkah menuju mobilnya. Mobil hitam itu bersiap-siap dan menancapkan


gasnya sekencang mungkin dan...BRAK....


Semua orang disana berteriak,


mobil hitam itu langsung kabur. Disaat Dani menoleh , dia terkejut bukan main


ternyata ibu dan Erliana lah yang tertabrak.

__ADS_1


“I...B...U...” Dani berlari dan


meraih ibunya yang sudah berlumuran darah dibagian kepalanya sangat banyak juga


dihidung, mulut dan telinga. Sang ibu terlindas mobil sedangkan Erliana


terlempar kesamping tepatnya didepan anak tangga pintu masuk klinik. Jatuhnya


begitu keras sehingga bokongnya membentur anak tangga.  Ditepuk-tepuk wajah ibu olehnya namun ibu


tetap tidak bergerak. Seseorang menariknya dan memberitahukan keadaan Erliana.


Dani meminta kepada warga untuk membawa sang ibu ke dalam klinik. Dan dia


berlari menuju Erliana yang saat itu sedang meringis kesakitan sambil menangis.


“Istriku....sayang...” Dani


melihat gaun sang istri tersingkap sedikit hingga terpampang paha putihnya


namun dia melihat banyak sekali darah disana. Erliana menangis dan memegang


perutnya.


“Sakit...” Erliana


“Bertahanlah sayang...” Dani


menangis  dan membawa sang istri kedalam.


Keduanya dimasukkan ke ruangan khusus tindak, namun Dani tidak diperkenankan


masuk sehingga dia harus menunggunya diluar. Selama pemeriksaan Dani


menghubungi nenek,Adit dan Rian.


Dani ditemani beberapa warga yang


bersimpati padanya. Dani duduk tertunduk menangis tanpa suara, air matanya


menetes ke tangan yang berlumuran darah. Dia melihat kedua tangannya lalu


pakaiannya semuanya penuh dengan darah. Air matanya semakin deras, lalu dia


terdiam tatapannya kososng.


Beberapa saat kemudian nenek


datang ditemani bi Sari dan pak Didin, di susul Adit dan Rian.


“Cucuku dimana mereka?” nenek


menghampiri cucunyha yang terdiam lesu wajahnya sangat kusut.


“Ya Allah selamatkanlah mereka?”


Do’a nenek sambil menangis


ada dihadapannya satu persatu dengan tatapan penuh amarah. Dani berdiri


menghadap Rian dia menuntut  agar Rian


mencari tahu tentang kejadian ini.


“Aku tidak mau tahu secepatnya


kau harus kabari aku dan temukan pelakunya. Dia harus mendapatkan hukuman yang


setimpal atas perbuatannya.” Dani


“Baik pa.” Rian


“Sekarang.” Dani berteriak


“Baik saya pemisi.” Rian pergi


Adit segera menghampiri


sahabatnya dan menepuk bahunya agar dia kuat. Dani hanya bisa menatapnya, air


matanya membendung lalu Adit memeluknya. Tangis Danipun pecah.


“Ibuku...Istriku...Anakku....”


Dani memeluk erat sahabatnya. Aditpun tak kuasa menahan air matanya.


“Keluarga pasien.” Dokter


“Dokter bagaimana?” Adit


“Maaf, kami tim dokter sudah


berusaha tapi pasien tidak dapat tertolong. Pasien itu mengalami pecah pada


tengkoraknya. Bapak yang sabar.” Dokter


“IBU........” Teriak Dani yang


saat itu menjadi pusat perhatian, semua yang ada disana menjadi ikut sedih melihat


Dani yang begitu sangat terpukul atas kehilangan sang ibu.


“IBU...” Adit


Dani terus saja berteriak


memanggil ibunya, meskipun Adit sedih dia harus bisa menenangkan Dani.


“Sudahlah Dani sudah.” Adit merangkul Dani

__ADS_1


Teriakan Dani sampai ke telinga


Erliana, Tapi dia tidak dapt membuka matanya rasanya berat sekali ingin


berucapun tak bisa. Erliana hanya bisa menangis karena dia mendengar ibunya


sudah tiada. Dokter yang menunggu Erliana sadari itu lalu dia memanggil


temannya untuk memeriksa keadaan pasiennya.


“Dok, pasien yang satunya sudah


sadar.” Dokter kandungan


“Itu istriku...”Dani segera


berlari menghampiri Erliana tapi dicegah petugas, tapi Dani memaksa dan


akhirnya Dani dapat masuk.


“Sayang...sayang...” dani


berusaha untuk membangunkan Erliana tapi dia tak kunjung bangun. Dia hanya


berlinang air mata saja.


“Dokter bagaimana dengan istriku,


kenapa dengan dia?” Dani menangis khawatir


“Istri bapak mengalami syok, tapi


bapak tak perlu khawatir setelah istri bapa sadar dia akan baik-baik saja.


Hanya saja anak bapak tidak dapat terselamatkan. Istri bapak mengalami


keguguran.” Dokter kandungan yang memeriksa Erliana tadi


“Apa?” Dani tak percaya akan hal


itu tangisnya kembali pecah, tangannya meraba perut Erliana dan dia beberapa


kali mengecupnya.


“Anakku....” Dani


Mendengar penjelasan itu nenek


tak kuasa lagi menahan sedihnya dan dia jatuh pingsan.


Pagi hari dirumah duka banyak


oarang yang melayat. Sayang Erliana tidak dapat mengantarkan ibu ke tempat


peristirahatan terakhir. Kondisi Erliana sangat lemah, dia ditemani Indri dan


Yulia.


“Sabar ya neng...” Indri memeluk


sahabatnya, Yulia tidak sanggup berbicara dia hanya menahan nangis dan menepuk


bahu sahabatnya lalu mereka berpelukan.


Proses pemakaman pun selesai,


rumah Dani begitu sangat sepi. Dia pergi untuk menemui kekasihnya. Tanpa


Erliana sadari sang suami sedari tadi memperhatikannya, Dani melihat wajah sang


istrinya  lesu tak bergairah dia seperti


boneka manik terdiam tak bergeming. Dia sangat terpukul atas kehilangan sang


ibu yang cara kematiannya begitu tragis. Ditambah lagi dia harus kehilangan


anaknya. “Sebenarnya siapa yang sudah tega melakukan ini pada keluargaku.”


Batin Erliana


Dani menghampiri Erliana dan


menyadarkan istrinya dari lamunannya. Seketika itu air mata Erlliana mengalir,


lalu dia memeluk suaminya.


“Maafkan aku, aku tidak bisa menjaga


anak kita.” Erliana menangis


“Ini bukan salahmu sayang.” Dani


memeluk Erliana dan menenangkannya. Dani ikut merasakan kehilangan seorang


anak, karena selama ini dia memang sangat mendambakan kehadiran anak dalam


rumah tangganya. Dia merangkul istrinya tak terasa air matanya ikut mengalir.


Dia mencoba untuk tidak memperlihatkan kesedihannya didepan istrinya. Dia harus


kuat. Dani berusaha untuk menguatkan istrinya.


“Sayang lihat aku, Berjanjilah padaku


untuk tetap berada disampingku. Hanya kaulah yang aku punya saat ini. Kau adalah


sumber kekuatanku.” Dani


Erliana tidak dapat berkata-kata

__ADS_1


dia hanya menganggukan kepala dan memeluk sang suami tercinta. Mereka larut


dalam suasana duka saat ini.


__ADS_2