
Rian sibuk memperhatikan layar
monitornya, dia menyelidiki beberapa video dari rekaman CCTV. Rian berpikir
keras siapa yang mengendarai mobil hitam itu? Sumber informasi yang dia tunggu
pun belum memberikan kabar padanya.
“Sayang kau sedang apa?” Yulia
baru tiba di apartemen Rian. Pria itu menyambutnya dengan beberapa kecupan
singkat dikedua pipi kekasihnya.
“Sedang sibuk ya!” Yulia menaruh
tas dan beberapa bahan makanan yang dia bawa.
“Ya aku sibuk sayang.” Rian
memperhatikan kembali layar monitornya itu, Yulia ikut memeperhatikan monitor
itu. Dia tak sanggup menontonnya, Yulia merasa ngeri. Yulia lebih memilih untuk
pergi ke dapur untuk membuat makanan lalu dia pergi mandi dan mencoba memakai
langeri yang baru saja dia beli.
“Ah ya ampun kenapa aku ingin
sekali membeli pakaian seperti ini?” Yulia memutar didepan cermin besar yang
ada dikamar Rian. Yulia merasa malu sekali. Yulia memperhatikan kekasihnya itu,
terlihat Rian begitu prustasi. Berkali-kali Rian mengusap wajahnya dengan
kasar. Rian juga mengacak-ngacak rambutnya. Yulia ingin sekali menghibur
kekasihnya tapi Yulia bingung dia harus berbuat apa. Saat dia memperhatikan
dirinya dicermin. Tiba-tiba dia memiliki ide konyol. Yulia berinisiatif untuk
membawakan air minum kepada kekasihnya dengan mengenakan langeri.
Rian terkejut apa yang sedang dia
lihat, senyumnya genit dia juga menyentuh bagian belakangnya Yulia kemudian
mencubitnya.
“Aw sayang...” Yulia
“Kau menggoda ku ya.” Rian meraih
pinggang rampingnya Yulia dan menggendongnya. Yulia menghadap Rian dan duduk
dipangkuan Rian.
“Apa maksudmu berpakaian seperti
ini? HM...” Rian
“Tidak ada maksud apa-apa?” Yulia
“Bohong.” Rian menggelitiki Yulia
dan Yulia pun tertawa kegelian.
“Ampun...ampun...sudah...” yulia
“Ini masih siang sayang.” Rian
“Baiklah aku ganti lagi.” Yulia
hendak pergi namun ditahan.
“Memangnya aku akan
menyia-nyiakanmu?” Rian
Mereka pun bercumbu disana, Yulia
begitu sangat agresif Rian merasa kurang nyaman dan membawa Yulia ke kamar. 2
jam kemudian mereka kembali rapih. Rianpun kembali ke meja kerjanya. Namun ada yang aneh dengan Yulia, sepertinya
Yulia sedikit murung.
“Kau kenapa?” Rian membelai
rambut Yulia
“Ayahku kena PHK, sepertinya aku
tidak akan berkuliah.” Yulia
Mendengar cerita kekasihnya Rian
merasa iba. Dia memberikan dua pilihan kepada Yulia. Jika Yulia ingin berkuliah
Rian akan memundurkan rencana pernikahannya tapi jika Yulia ingin menikah Rian
akan segera melamarnya. Sebenarnya Yulia sangat mencintai kekasihnya itu, tapi
dia belum mau menikah.
“Baiklah jika kau ingin
kuliah. Kau cari saja universitas yang
kau inginkan. Jika sudah hubungi aku.” Rian
“Sayang aku akan sibuk satu pekan
ini, kau harus sering kemari. Bersihkan rumahmu ini.” Rian
“Oke, tapi kakak hati-hati.”
__ADS_1
Yulia
“hm...” Rian mengangguk singkat
Untuk mendapatkan informasi, Rian
harus keluar masuk klub malam dan hotel, karena menurut informasi kemungkinan
si pelaku itu adalah seseorang yang suka dengan dunia malam. Kadang Rian juga
harus membuntuti orang yang dia curigai. Setelah beberapa hari, akhirnya Rian mendapatkan titik terang. Dia
telah mendapatkan informasi dari beberapa sumber terpercaya.
Rumah Dani
“Dani.” Nenek
“Ya nek.” Dani menghampiri nenek
yang sedang terbaring lemah
“Apa kau sudah mendapatkan kabar
dari polisi?” Nenek
“Belum nek, nenek yang sabar ya,
aku yakin kita akan segera menangkap pembunuh itu.” Dani meyakinkan
Semenjak kepergian ibu kesehatan
nenek terus saja menurun. Sedangkan kesehatan Erliana sudah lebih baik, Erliana
pun kini lebih memilih menyibukkan dirinya dengan merawat nenek dirumah. Sebenarnya
sang suami juga tidak pernah mengizinkan jika Erliana harus keluar rumah
sendirian sebelum pelaku itu tertangkap. Maka dari itu Erliana selalu mengikuti
apa yang dikatakan suaminya.
Rumah Renata
“Hallo...” Renata
“Sayang kemarilah, ini paket mu
sudah tiba.” Bryan kekasih Renata
“Oke, aku kesana.” Renata
Dengan cepat Renata melajukan
mobilnya dengan tujuan ke hotel dimana Bryan berada. Saat itu Bryan dan ke 4
temannya sedang meracik minuman khusus untuk Renata. Tidak lupa Bryan memasukkan
satu pil yang nantinya akan membuat Renata terangsang.
“Mana paket ku?” Renata
menikmati isi paket itu. Setelah beberapa waktu berselang Renata dan ke 5
laki-laki itu sudah terpengaruhi minuman beralkohol dan juga obat-obatan
terlarang. Bryan segera memberikan minuman itu kepada Renata dan Renata pun
mulai merasa pikirannya kini melayang dan berkhayal. Dan dia juga merasa
kegelian di bagian bawahnya.
Kantor polisi
Rian dan pihak kepolisian sudah
menemukan pelaku yang menabrak nyonya Sonia, mereka pun melakukan
penggerebegan.
GUBRAK
Pintu nya didobrak
“Angkat tangan!” Polisi
Polisi pun berhasil meringkuk
Bryan dan temannya termasuk Renata. Keadaan Renata saat itu sangat kacau
sekali. Dia ditangkap tanpa pakaian sehelai pun, karena Renata masih sangat
terpengaruh obat perangsang dia begitu agresif. Renata sangat tersiksa dia
selalu menggoda polisi dan semua laki-laki yang ada disana termasuk Rian.
Drrtt...drrtt ponsel Dani
“Hallo...Baiklah aku akan segera
kesana.” Dani mengajak Adit untuk segera melihat pelaku penabrakan ibunya.
Selain Adit Dani pun membawa pengacaranya. Setibanya disana Dani disambut oleh
Rian dan timnya dan juga beberapa polisi.
“Mana orang itu?” Dani tidak
sabar ingin menghajar pelaku yang menabrak ibunya, tangannya sudah gatal rasanya
ingin sekali menghabisinya. Rian pun membimbingnya.
Rian menyuruh polisi untuk membukakan pintu besi itu.
Begitu terkejutnya Dani melihat
orang yang ada didalam sel itu.
__ADS_1
“Rian apa dia yang membunuh ibuku
dan juga anakku?” Dani mengatupkan rahangnya
Rian hanya menganggukan
kepalanya. Selain Dani Adit pun terkejut dibuatnya. Saat pintu terbuka. Dani
pun masuk. Rian, Adit dan seorang pengacara hanya memperhatikan dari luar sel.
Renata yang masih terpengaruhi obat dan minuman merasa senang sekali ada
laki-laki yang menghampirinya apalagi yang ada dihadapannya ini adalah
laki-laki yang dia rindukan.
“Sayang...aku rindu.” Renata
Renata bermaksud untuk memeluk
Dani namun Dani melemparkannya begitu keras. Sehingga Renata terjatuh. Dia
mendekati wanita itu lalu menamparnya, dijambaknya rambut Renata.
“Jadi kau yang membunuh ibuku dan
juga anakku?” Dani menahan tangisnya, air matanya membendung tertahan
“Sayang aku rindu.” Renata
menangis
“Kenapa?” Dani berteriak
amarahnya tak dapat tertahan lagi, dia angkat Renata dan kembali dihempaskan ke
lantai. Lalu dia keluar dari sel.
“Sekarang lakukanlah tugas mu,
berikan dia masalah yang memberatkan hukumannya. Persulitlah dia aku tidak mau
tahu kau harus membuat nya dihukum seumur hidup.” Dani
“Baik, saya kerjakan.” Pengacara
Beberapa hari kemudian, Rian
menceritakan kronologi disaat Renata menabrak Sonia dan Erliana. Renata dalam keadaan terpengaruhi
minuman keras dan juga obatlah yang membuat dia gelap mata dan leluasa
melakukan itu. Dengan alasan karena dendam. Dalam persidangan Renata tidak
dapat membela diri karena semua bukti-bukti yang ditunjukkan pengacara Dani
kepada hakim memang benar. Ditambah lagi kasus nya yang mencoba mencelakai
Erliana di waktu lalu. Pengunaan obat-obatan dan beberapa masalah lainnya.
Sehingga hakim pun memutuskan bahwa Renata dihukum seumur hidup. Jelas Renata
tidak terima dia tidak mau jika harus hidup selamanya di dalam tahanan.
Disaat Renata diseret ke dalam
sel, Dani ikut menyaksikan tanpa Erliana tentunya.
“Sayang aku minta maaf.” Renata
meronta-ronta tidak mau diseret ke dalam sel, sampai polisi pun kewalahan
menghadapinya. Dengan santainya Dani berjalan melangkah kehadapan Renata.
“Selamat menikmati ditempatmu
yang baru. Aku harap kau betah.” Dani pergi tanpa menoleh lagi.
Di meja kerja Dani melihat foto
pernikahannya, disana pula ada foto sang ibu tercinta. Dani mendekapnya air
matanya menetes. Secepat mungkin dia menyeka dengan tangannya tapi tangisnya
semakin menjadi, hatinya terasa sangat sakit. Pengkhianatan Renata terhadap
dirinya sungguh sangat keterlaluan. Dia menutup wajahnya dengan kedua
tangannya. Dan menangis.
“Bu, aku rindu....” Dani menangis
sesegukan
Melihat Dani begitu, Adit yang
sudah berdiri diambang pintu memutuskan untuk kembali menutup pintunya dan
membiarkan Dani didalam sendiri. Tak kuasa Aditpun menitikkan air mata. Melihat
itu Friska menepuk bahu Adit, dan memeluknya.
Kabar ini tentunya sudah sampai
ketelinga sang nenek dan juga Erliana. Erliana tidak habis pikir, sedendam itu
Renata kepadanya. Disaat nenek sudah tertidur Erliana memilih untuk mengurung
diri dikamarnya dan menangis seharian.
“Ibu, aku rindu padamu...”
Erliana mengelus perutnya yang rata.
Keadaan nenek tak kunjung membaik
semakin hari semakin memburuk. Dan nenek pun menghembuskan napas terakhirnya.
__ADS_1
Kini rumah itu begitu terasa sangat sepi.