ISTRI KU 18 TAHUN

ISTRI KU 18 TAHUN
Hukuman Seumur Hidup


__ADS_3

Rian sibuk memperhatikan layar


monitornya, dia menyelidiki beberapa video dari rekaman CCTV. Rian berpikir


keras siapa yang mengendarai mobil hitam itu? Sumber informasi yang dia tunggu


pun belum memberikan kabar padanya.


“Sayang kau sedang apa?” Yulia


baru tiba di apartemen Rian. Pria itu menyambutnya dengan beberapa kecupan


singkat dikedua pipi kekasihnya.


“Sedang sibuk ya!” Yulia menaruh


tas dan beberapa bahan makanan yang dia bawa.


“Ya aku sibuk sayang.” Rian


memperhatikan kembali layar monitornya itu, Yulia ikut memeperhatikan monitor


itu. Dia tak sanggup menontonnya, Yulia merasa ngeri. Yulia lebih memilih untuk


pergi ke dapur untuk membuat makanan lalu dia pergi mandi dan mencoba memakai


langeri yang baru saja dia beli.


“Ah ya ampun kenapa aku ingin


sekali membeli pakaian seperti ini?” Yulia memutar didepan cermin besar yang


ada dikamar Rian. Yulia merasa malu sekali. Yulia memperhatikan kekasihnya itu,


terlihat Rian begitu prustasi. Berkali-kali Rian mengusap wajahnya dengan


kasar. Rian juga mengacak-ngacak rambutnya. Yulia ingin sekali menghibur


kekasihnya tapi Yulia bingung dia harus berbuat apa. Saat dia memperhatikan


dirinya dicermin. Tiba-tiba dia memiliki ide konyol. Yulia berinisiatif untuk


membawakan air minum kepada kekasihnya dengan mengenakan langeri.


Rian terkejut apa yang sedang dia


lihat, senyumnya genit dia juga menyentuh bagian belakangnya Yulia kemudian


mencubitnya.


“Aw sayang...” Yulia


“Kau menggoda ku ya.” Rian meraih


pinggang rampingnya Yulia dan menggendongnya. Yulia menghadap Rian dan duduk


dipangkuan Rian.


“Apa maksudmu berpakaian seperti


ini? HM...” Rian


“Tidak ada maksud apa-apa?” Yulia


“Bohong.” Rian menggelitiki Yulia


dan Yulia pun tertawa kegelian.


“Ampun...ampun...sudah...” yulia


“Ini masih siang sayang.” Rian


“Baiklah aku ganti lagi.” Yulia


hendak pergi namun ditahan.


“Memangnya aku akan


menyia-nyiakanmu?” Rian


Mereka pun bercumbu disana, Yulia


begitu sangat agresif Rian merasa kurang nyaman dan membawa Yulia ke kamar. 2


jam kemudian mereka kembali rapih. Rianpun kembali ke meja kerjanya.  Namun ada yang aneh dengan Yulia, sepertinya


Yulia sedikit murung.


“Kau kenapa?” Rian membelai


rambut Yulia


“Ayahku kena PHK, sepertinya aku


tidak akan berkuliah.” Yulia


Mendengar cerita kekasihnya Rian


merasa iba. Dia memberikan dua pilihan kepada Yulia. Jika Yulia ingin berkuliah


Rian akan memundurkan rencana pernikahannya tapi jika Yulia ingin menikah Rian


akan segera melamarnya. Sebenarnya Yulia sangat mencintai kekasihnya itu, tapi


dia belum mau menikah.


“Baiklah jika kau ingin


kuliah.  Kau cari saja universitas yang


kau inginkan. Jika sudah hubungi aku.” Rian


“Sayang aku akan sibuk satu pekan


ini, kau harus sering kemari. Bersihkan rumahmu ini.” Rian


“Oke, tapi kakak hati-hati.”

__ADS_1


Yulia


“hm...” Rian mengangguk singkat


Untuk mendapatkan informasi, Rian


harus keluar masuk klub malam dan hotel, karena menurut informasi kemungkinan


si pelaku itu adalah seseorang yang suka dengan dunia malam. Kadang Rian juga


harus membuntuti orang yang dia curigai. Setelah beberapa hari,  akhirnya Rian mendapatkan titik terang. Dia


telah mendapatkan informasi dari beberapa sumber terpercaya.


Rumah Dani


“Dani.” Nenek


“Ya nek.” Dani menghampiri nenek


yang sedang terbaring lemah


“Apa kau sudah mendapatkan kabar


dari polisi?” Nenek


“Belum nek, nenek yang sabar ya,


aku yakin kita akan segera menangkap pembunuh itu.”  Dani meyakinkan


Semenjak kepergian ibu kesehatan


nenek terus saja menurun. Sedangkan kesehatan Erliana sudah lebih baik, Erliana


pun kini lebih memilih menyibukkan dirinya dengan merawat nenek dirumah. Sebenarnya


sang suami juga tidak pernah mengizinkan jika Erliana harus keluar rumah


sendirian sebelum pelaku itu tertangkap. Maka dari itu Erliana selalu mengikuti


apa yang dikatakan suaminya.


Rumah Renata


“Hallo...” Renata


“Sayang kemarilah, ini paket mu


sudah tiba.” Bryan kekasih Renata


“Oke, aku kesana.” Renata


Dengan cepat Renata melajukan


mobilnya dengan tujuan ke hotel dimana Bryan berada. Saat itu Bryan dan ke 4


temannya sedang meracik minuman khusus untuk Renata. Tidak lupa Bryan memasukkan


satu pil yang nantinya akan membuat Renata terangsang.


“Mana paket ku?” Renata


menikmati isi paket itu. Setelah beberapa waktu berselang Renata dan ke 5


laki-laki itu sudah terpengaruhi minuman beralkohol dan juga obat-obatan


terlarang. Bryan segera memberikan minuman itu kepada Renata dan Renata pun


mulai merasa pikirannya kini melayang dan berkhayal. Dan dia juga merasa


kegelian di bagian bawahnya.


Kantor polisi


Rian dan pihak kepolisian sudah


menemukan pelaku yang menabrak nyonya Sonia, mereka pun melakukan


penggerebegan.


GUBRAK


Pintu nya didobrak


“Angkat tangan!” Polisi


Polisi pun berhasil meringkuk


Bryan dan temannya termasuk Renata. Keadaan Renata saat itu sangat kacau


sekali. Dia ditangkap tanpa pakaian sehelai pun, karena Renata masih sangat


terpengaruh obat perangsang dia begitu agresif. Renata sangat tersiksa dia


selalu menggoda polisi dan semua laki-laki yang ada disana termasuk Rian.


Drrtt...drrtt ponsel Dani


“Hallo...Baiklah aku akan segera


kesana.” Dani mengajak Adit untuk segera melihat pelaku penabrakan ibunya.


Selain Adit Dani pun membawa pengacaranya. Setibanya disana Dani disambut oleh


Rian dan timnya dan juga beberapa polisi.


“Mana orang itu?” Dani tidak


sabar ingin menghajar pelaku yang menabrak ibunya, tangannya sudah gatal rasanya


ingin sekali menghabisinya.  Rian pun membimbingnya.


Rian menyuruh polisi untuk membukakan pintu besi itu.


Begitu terkejutnya Dani melihat


orang yang ada didalam sel itu.

__ADS_1


“Rian apa dia yang membunuh ibuku


dan juga anakku?” Dani mengatupkan rahangnya


Rian hanya menganggukan


kepalanya. Selain Dani Adit pun terkejut dibuatnya. Saat pintu terbuka. Dani


pun masuk. Rian, Adit dan seorang pengacara hanya memperhatikan dari luar sel.


Renata yang masih terpengaruhi obat dan minuman merasa senang sekali ada


laki-laki yang menghampirinya apalagi yang ada dihadapannya ini adalah


laki-laki yang dia rindukan.


“Sayang...aku rindu.” Renata


Renata bermaksud untuk memeluk


Dani namun Dani melemparkannya begitu keras. Sehingga Renata terjatuh. Dia


mendekati wanita itu lalu menamparnya, dijambaknya rambut Renata.


“Jadi kau yang membunuh ibuku dan


juga anakku?” Dani menahan tangisnya, air matanya membendung tertahan


“Sayang aku rindu.” Renata


menangis


“Kenapa?” Dani berteriak


amarahnya tak dapat tertahan lagi, dia angkat Renata dan kembali dihempaskan ke


lantai. Lalu dia keluar dari sel.


“Sekarang lakukanlah tugas mu,


berikan dia masalah yang memberatkan hukumannya. Persulitlah dia aku tidak mau


tahu kau harus membuat nya dihukum seumur hidup.” Dani


“Baik, saya kerjakan.” Pengacara


Beberapa hari kemudian, Rian


menceritakan kronologi disaat Renata menabrak  Sonia dan  Erliana. Renata dalam keadaan terpengaruhi


minuman keras dan juga obatlah yang membuat dia gelap mata dan leluasa


melakukan itu. Dengan alasan karena dendam. Dalam persidangan Renata tidak


dapat membela diri karena semua bukti-bukti yang ditunjukkan pengacara Dani


kepada hakim memang benar. Ditambah lagi kasus nya yang mencoba mencelakai


Erliana di waktu lalu. Pengunaan obat-obatan dan beberapa masalah lainnya.


Sehingga hakim pun memutuskan bahwa Renata dihukum seumur hidup. Jelas Renata


tidak terima dia tidak mau jika harus hidup selamanya di dalam tahanan.


Disaat Renata diseret ke dalam


sel, Dani ikut menyaksikan tanpa Erliana tentunya.


“Sayang aku minta maaf.” Renata


meronta-ronta tidak mau diseret ke dalam sel, sampai polisi pun kewalahan


menghadapinya. Dengan santainya Dani berjalan melangkah kehadapan Renata.


“Selamat menikmati ditempatmu


yang baru. Aku harap kau betah.” Dani pergi tanpa menoleh lagi.


Di meja kerja Dani melihat foto


pernikahannya, disana pula ada foto sang ibu tercinta. Dani mendekapnya air


matanya menetes. Secepat mungkin dia menyeka dengan tangannya tapi tangisnya


semakin menjadi, hatinya terasa sangat sakit. Pengkhianatan Renata terhadap


dirinya sungguh sangat keterlaluan. Dia menutup wajahnya dengan kedua


tangannya. Dan menangis.


“Bu, aku rindu....” Dani menangis


sesegukan


Melihat Dani begitu, Adit yang


sudah berdiri diambang pintu memutuskan untuk kembali menutup pintunya dan


membiarkan Dani didalam sendiri. Tak kuasa Aditpun menitikkan air mata. Melihat


itu Friska menepuk bahu Adit, dan memeluknya.


Kabar ini tentunya sudah sampai


ketelinga sang nenek dan juga Erliana. Erliana tidak habis pikir, sedendam itu


Renata kepadanya. Disaat nenek sudah tertidur Erliana memilih untuk mengurung


diri dikamarnya dan menangis seharian.


“Ibu, aku rindu padamu...”


Erliana mengelus perutnya yang rata.


Keadaan nenek tak kunjung membaik


semakin hari semakin memburuk. Dan nenek pun menghembuskan napas terakhirnya.

__ADS_1


Kini rumah itu begitu terasa sangat sepi.


__ADS_2