
Saat disekolah
Yulia dan Indri melambaikan
tangan kepada Erliana.
“Hai teman-teman.” Sapa Erliana
tersenyum, dia sangat merindukan temannya.
“Erliana bagaimana kabarmu?”
Indri
“Aku baik.” Jawab Erliana. Mereka
pun berjalan bersama menuju kelasnya yang berada di lantai 2. Sebenarnya saat
Yulia dan Indri mengetahui bahwa paman Erliana meninggal mereka segera
mendatangi rumah Erliana, tapi Erliana sudah tidak ada. Erliana bercerita
kepada teman-teman nya yang sudah sangat khawatir itu. Bahwa dia kini telah
tinggal bersama walinya yang baru.
“Beruntung sekali kau Neng, wali
mu itu sangat tampan.” Yulia kagum “By the way siapa namanya? Apa dia sudah
memiliki kekasih? Bolehkah aku berkenalan dengan nya?” Rengek Yulia. Yulia
memang sedikit centil anaknya, namun dia baik dan setia kawan. Berbeda dengan
Indri yang selalu bersikap dewasa dan pemalu.
“Ya ampun genitnya kambuh.” Indri
“Tapi aku benarkan kalau walinya
Erlianan itu tampan.” Yulia
“Namanya Rian, kak Rian.” Tegas
Erliana
“Oh oh ....” jawab Yulia dan
Indri Kompak
“Ha ha ha ha ...Kenapa kalian
ini.” Erliana
Rumah Dani
Nyonya Prayoga atau Ibunya Dani,
selama dia pulang ke rumah dia belum mendapati bi Sari. Bi Sari adalah orang
yang paling dekat dengan nyonya Prayoga, karena bi Sari ini orang yang sudah
menemani nyonya Prayoga sejak pertama dia tinggal dirumah ini.
“Bi Nia kemana bi Sari?” Tanya
nyonya
“Bi Sari untuk sementara ini
tinggal di apartemennya Tuan Dani, nyonya.” Bi Nia
“Kenapa harus tinggal disana?”
Nyonya
“Karena bi Sari ditugaskan tuan
Dani untuk menemani nona Erliana, nyonya.” Bi Nia
“Nona Erliana, siapa dia?” Nyonya
“Setau saya kata bi Sari nona
Erliana itu kekasihnya tuan Dani, nyonya.” Bi Nia
“Apa kekasih!” Nyonya “Anak itu
kenapa tidak memberitahukan ku.” Batin nyonya Prayoga. Nyonya Prayoga pun
menghubungi putranya untuk meminta supir pribadi, dengan alasan ingin
berjalan-jalan.
“Hallo...Rian, bagaimana dengan
Erliana sudah kau berikan? Hm...bagus. Sekarang kau kerumah, ibu ku ingin pergi
jalan-jalan, kau temani lah dia.” Dani
“Baik pak.” Rian pun bergegas
meninggalkan halaman sekolah.
Rian menjemput nyonya Prayoga.
Nyonya yang satu itu telah mengenakan gamis hitam dan hijab hijau toska
terlihat sangat anggun, sederhana namun
berwibawa. Nyonya Prayoga bukanlah seorang ibu yang sibuk dengan dunia
sosialita meskipun ia hidup mewah, beliau tetap menjalankan kehidupan seperti ibu-ibu lainnya. Mengurusi
rumah tangga kadang masak untuk suaminya dan mengantarkan putranya sekolah,
tapi setelah suaminya meninggal dan putranya sudah mempunyai kesibukan untuk
mengurus perusahaan keluarga kini nyonya Prayoga sering mengunjungi orang tua
nya atau nenek Dani yang kini sakit-sakitan karena sudah udzur.
“Namamu Rian?” Nyonya
“Iya nyonya nama saya Rian.”
Jawab Rian
“Untuk sementara ini kau yang menggantikan
pak Didin.” Nyonya
“Iya nyonya” jawab Rian singkat
dan masih memperhatikan jalanan
“Bawa aku ke kantor putraku.”
Nyonya
“Baik nyonya.” Rian
Selama perjalanan nyonya Prayoga
selalu mempertanyakan tentang Erliana. Rian saat itu kebingungan apakah harus
jujur atau bagaimana?. Tapi rasanya Rian tidak enak hati jika harus berbohong.
Karena majikannya terus mendesaknya akhirnya Rian pun menyerah dan membeberkan
semua tentang Erliana termasuk latar belakang keluarga Erliana. Mendengar semua
penjelasan dari Rian, nyonya Prayoga menarik napas dalam-dalam, dan berpikir.
Kenapa putranya itu tidak berkata jujur padanya.
Setibanya dikantor, semua para
karyawan menyapa dan menunduk hormat. Nyonya Prayoga tidak mendapati putranya
karena masih meeting, Sang ibu memutuskan untuk menunggunya. Sedangkan Rian
sibuk memberi pesan kepada atasannya. “Pak, nyonya ada diruangan anda. Maaf
saya telah melakukan kesalahan hari ini. Saya terdesak kini nyonya sudah
mengetahui tentang nona Erliana.” Begitulah pesan Rian.
Meeting pun selesai, Dani melihat
ponselnya karena tadi dia merasakan ponselnya bergetar. Mata Dani melotot,
__ADS_1
rahangnya mengatup karena kesal terhadap Rian.
“Kenapa dia?” Dani
“Ada apa?” Adit menepuk bahu
Dani.
“Ibu ada disini dan dia tahu
tentang Erliana.” Dani. Adit tak kalah terkejutnya
“What?” tatapannya kedepan
“Bagaimana ini?” Dani. Mereka saling tatap, namun Adit menyarankan
agar sahabatnya itu berkata jujur. Jika dia direstui bukankah itu bagus.
Kecuali jika dia tak mendapati restu barulah mereka akan mencari cara lain agar
sang ibu merestui mereka. Dani pasrah
dia berjalan menemui sang ibu.
“Bu...” Sapa Dani mengecup
punggung tangan sang ibu dan disusul oleh Adit.
“Sudah selesai meetingnya?” Ibu
“Sudah.” Jawab mereka kompak.
Saat Dani dan Adit akan duduk, ibu menghentikannya.
“Mau apa kalian? Duduk. Tidak,
berdirilah kalian disana.” Ibu yang menunjuk kedepan. Dani dan Adit tidak
bergeming mereka hanya menurut. Lalu sang ibu berjalan mengitari mereka berdua,
ditatapnya ke dua pria lajang itu. Dilihat dari atas lalu ke bawah ke atas
lagi.
“Kenapa ibu menatap kami seperti
itu?” Dani gugup.
“Kalian ini pria yang menarik
hati menurut ibu, tampan, mapan tapi soal perempuan kalian payah. Mungkin Allah
juga belum menghendaki, atau kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga
kalian melupakan pernikahan. Umur kalian ini sudah cukup untuk menikah dan
memberikan aku cucu. Coba kalian jujur pada ibu, siapa diantara kalian yang
sudah memiliki kekasih?” Tanya ibu. Dani dan Adit saling menatap, namun Adit
tiba-tiba tersenyum lebar.
“Aku sudah punya bu, suatu saat
akan aku kenalkan pada ibu.” Adit menunjuk telunjuknya ke atas. Wanita paruh
baya yang sudah sangat dekat dengan Adit pun tersenyum senang. Lalu dia menatap
putra satu-satunya yang terlihat gugup.
“Arrgghh...berbohong pun sudah
tidak mungkin, karena ibu sudah tahu semuanya.” Batin Dani. Ditatap dengan
mantap wajah putranya itu, Dani pun mengakui bahwa dia telah memiliki
kekasih.
“Oh ya bagus. Ha ha ha...” Ibu
merasa sangat senang. “Aku ingin kalian memperkenalkan kekasih kalian pada ibu
minggu ini” menepak-nepak pipi putranya dan juga Adit lalu ibu pergi begitu
saja. Dani dan Adit hanya saling
pandang, tubuh mereka seperti patung, kaku sulit bergerak, mereka berdiri hanya
Apartemen Dani
Bi Sari terkejut saat membukakan
pintu, karena yang berdiri dibalik pintu itu adalah majikannya. Terkejut
sekaligus haru tentunya, mereka saling berpelukan karena rindu.
“Bi Sari aku sudah tahu semua
tentang Erliana, kau tidak perlu gugup begitu. Oh iya menurut mu seperti apa
Erliana itu?” nyonya. Bi Sari sangat antusias saat menceritakan tentang nona
nya itu, karena menurut bi Sari Erliana itu anak yang baik hati, sopan, sederhana,
tidak banyak tingkah dan menurut pada tuan Dani. Berbeda dengan Renata dia begitu sombong,
bertingkah seenaknya, merasa sudah menjadi nyonya besar saja. Berperilaku tak
sopan.
“Begitu.” Nyonya
“Apalagi sekarang tuan Dani
sikapnya lebih sopan pada orang tua, ramah dan juga dewasa, nyonya.” Bi Sari
“Sekarang dimana dia?” Tanya
nyonya
“Sebentar lagi pulang nyonya.” Bi
Sari
“Kalau begitu buatkan makanan
saya akan makan disini bersama.” Nyonya
“Baik nyonya.” Bi Sari pergi ke
dapur.
Rian sudah menunggu Erliana
dihalaman sekolah, membukakan pintu lalu menuju apartemen. Saat itu Rian tidak
banyak bicara, hanya sesekali memperhatikan nona nya dari kaca spion.
“Bi Sari aku pulang.” Erliana
sambil membuka sepatu sekolahnya. Saat
dia hendak berdiri, dia melihat seseorang yang sudah melipatkan tangannya di dada.
Ekspresi wanita berhijab itu terlihat serius menatap Erliana.
“Siapa kau?” Tanya nyonya Prayoga
“Maaf saya...” Erliana suaranya
yang terbata-bata, gugup, jantungnya berdebar kencang. Jari-jarinya dingin. Dia
menundukkan kepalanya dalam-dalam tidak
berani menatap kearah wanita itu.
“Apakah yang didepan ku ini ibu
nya kak Dani?” Batin Erliana. Sang ibu memperhatikan gadis itu dan menyuruhnya
masuk.
“Masuklah.” Ibu yang lebih dulu
masuk dan duduk dikursi biru yang mewah itu, disusul Erliana tapi Erliana tidak
berani untuk duduk. Dia lebih baik berdiri dan menundukan kepalanya.
“Lihat aku, siapa kau?” Tanya
nyonya pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
“Nama saya Erlliana Putri,
nyonya.” Menunduk lagi. Dilihat oleh ibu tangan Erliana yang gemetar
“Kenapa berada disini? Ini adalah apartemen putraku?” nyonya
“Maaf nyonya, saya sudah lancang.
Saya akan pergi dari sini.” Menunduk lagi
“Anak ini.” Batin nyonya. Dari
awal nyonya Prayoga sudah mengetahui latar belakang Erliana. Dia pun membuka hatinya dan menerima nya, karena
bagaimana pun putranya itu mencintai gadis yang ada dihadapannya ini. Nyonya
Prayoga tersenyum ramah dan mengajak Erliana duduk bersama tidak disangka
nyonya Prayoga sangat terbuka pada Erliana, sengaja nyonya Prayoga ini
mengajaknya berbincang-bincang. Dalam waktu yang singkat nyonya Prayoga dan
Erliana larut dalam obrolannya membuat Erliana nyaman bersama ibu dari
kekasihnya ini. “Benar apa yang dikatakan bi Sari, anak ini baik.” Batin nyonya
Bagi nyonya Prayoga tidak masalah
siapa gadis itu, kalau memang putranya itu bahagia bersamanya dia akan ikut
bahagia. Untuk apa cantik, karir bagus tapi akhirnya hanya menyakiti hati
putranya seperti Renata.
“Nak, jangan panggil aku nyonya.
Mulai sekarang kau boleh memanggilku ibu.” Ibu
Erliana senang tapi dia hanya
menganggukan kepala saja dan tersenyum.
Drrttt...drrttt...drrttt...
Ponsel Dani bergetar, dilihatnya
ada pesan masuk.
“Maaf pak, nyonya sekarang berada
di apartemen dan bertemu dengan nona Erliana.” Pesan Rian
“Apa?” gumamnya. Dani pun
langsung mengajak Adit untuk segera menemui ibunya di apartemen yang tidak
terlalu jauh dari kantor nya. Anehnya Adit ikut tegang dalam situasi seperti
ini.
Ceklek
Dani dan Adit perlahan memasuki
apartemennya, disana dilihat bi Sari sedang menyiapkan makanan. “Sssttt” Dani
memajukan kedua tangannya mulutnya bergerak tanpa suara “Mana ibu?”. Bi Sari
hanya menunjukan jarinya ke arah ruang tv, Adit yang melihat itu hanya menahan
tawa geli merasa lucu melihat Dani panik.
Perlahan namun mantap Dani dan
Adit menghampiri ibu dan Erliana, Adit saat itu lebih memilih duduk besama ibu
sahabatnya dan Dani memilih duduk bersama Erliana.
“Ibu sedang apa?” Dani
“Kenapa? Ibu tidak boleh menemui
calon menantu ibu.” Ibu
“Apa ibu merestui kami?” Dani
Semua orang yang ada disana
terkejut atas pernyataan sang ibu, sekaligus bahagia bagi Dani dan Erliana.
Dilihatnya ekspresi putra satu-satunya saat itu amat sangat bahagia, nyonya
Prayoga menjadi terharu. Dani tak sungkan-sungkan memeluk Erliana didepan ibunya,
tapi bagi Erliana itu membuatmu nya malu.
“Yey......”Adit berteriak ikut
senang dan memberikan 2 jempol
“Bu, aku ingin menikahi Erliana
setelah kelulusan sekolah nanti.” Dani
“Apa, secepat itukah. Berarti 3
bulan lagi aku akan menjadi istrinya.” Batin Erliana
Adit dan sang ibu saling pandang,
lalu Adit mengangkat bahunya dan mengembangkan bibir sebelah kiri nya. Sang ibu
memukul lengan Adit cukup keras.
PLAK
“Aw” Teriak Adit keras dan
mengusap lengannya
“Bagus...labih cepat lebih baik.
Supaya tidak ada fitnah. Ha ha ha ha...” Ibu
“Terima kasih bu.” Dani. “Tapi bu,
bagaimana dengan perjodohan itu.” Erliana memandangi kekasihnya itu terheran.
Dani hanya tersenyum.
“Perjodohan” Batin Erliana panik
“Sebenarnya itu hanya akal-akalan
ibu dan tante Detty saja. Kami sebagai orang tua hanya ingin kalian cepat
menikah, tadi pagi tante Detty menghubungi ibu jika kekasih Misya akan
melamarnya. Dan sekarang.” Ibu tersenyum melihat dan mengelus rambutnya
Erliana. “Ibu akan mempunyai anak perempuan.” Tambahnya
“Ah...ibu membuat ku prustasi
saja.” Dani. Semua tertawa suasana saat itu benar-benar hangat.
Tak lupa dengan Adit, kini ibu Prayoga
mendesak Adit. Adit gelagapan, namun Adit memutuskan akan menjalin hubungan
serius dengan kekasih nya yang sekarang. Dan dia berjanji akan
memperkenalkannya pada ibu sahabatnya yang sudah seperti ibunya sendiri.Lalu
datanglah Bi Sari melapor bahwa makanan sudah siap, dan mereka pun makan
bersama. Ditengah-tengah acara makan bersama bi Sari memberikan surat yang baru
saja dia terima dari pengantar surat.
“Ini dari Misya, dia mengundang
kita ke acara ulang tahunnya?” Ucap Dani
“Kalian pergilah.” Ibu
“Ibu tidak akan pergi?” Dani
“Tidak itu kan acara anak muda.”
Ibu
__ADS_1