ISTRI KU 18 TAHUN

ISTRI KU 18 TAHUN
Restuilah Kami


__ADS_3

Saat disekolah


Yulia dan Indri melambaikan


tangan kepada Erliana.


“Hai teman-teman.” Sapa Erliana


tersenyum, dia sangat merindukan temannya.


“Erliana bagaimana kabarmu?”


Indri


“Aku baik.” Jawab Erliana. Mereka


pun berjalan bersama menuju kelasnya yang berada di lantai 2. Sebenarnya saat


Yulia dan Indri mengetahui bahwa paman Erliana meninggal mereka segera


mendatangi rumah Erliana, tapi Erliana sudah tidak ada. Erliana bercerita


kepada teman-teman nya yang sudah sangat khawatir itu. Bahwa dia kini telah


tinggal bersama walinya yang baru.


“Beruntung sekali kau Neng, wali


mu itu sangat tampan.” Yulia kagum “By the way siapa namanya? Apa dia sudah


memiliki kekasih? Bolehkah aku berkenalan dengan nya?” Rengek Yulia. Yulia


memang sedikit centil anaknya, namun dia baik dan setia kawan. Berbeda dengan


Indri yang selalu bersikap dewasa dan pemalu.


“Ya ampun genitnya kambuh.” Indri


“Tapi aku benarkan kalau walinya


Erlianan itu tampan.” Yulia


“Namanya Rian, kak Rian.” Tegas


Erliana


“Oh oh ....” jawab Yulia dan


Indri Kompak


“Ha ha ha ha ...Kenapa kalian


ini.” Erliana


Rumah Dani


Nyonya Prayoga atau Ibunya Dani,


selama dia pulang ke rumah dia belum mendapati bi Sari. Bi Sari adalah orang


yang paling dekat dengan nyonya Prayoga, karena bi Sari ini orang yang sudah


menemani nyonya Prayoga sejak pertama dia tinggal dirumah ini.


“Bi Nia kemana bi Sari?” Tanya


nyonya


“Bi Sari untuk sementara ini


tinggal di apartemennya Tuan Dani, nyonya.” Bi Nia


“Kenapa harus tinggal disana?”


Nyonya


“Karena bi Sari ditugaskan tuan


Dani untuk menemani nona Erliana, nyonya.” Bi Nia


“Nona Erliana, siapa dia?” Nyonya


“Setau saya kata bi Sari nona


Erliana itu kekasihnya tuan Dani, nyonya.” Bi Nia


“Apa kekasih!” Nyonya “Anak itu


kenapa tidak memberitahukan ku.” Batin nyonya Prayoga. Nyonya Prayoga pun


menghubungi putranya untuk meminta supir pribadi, dengan alasan ingin


berjalan-jalan.


“Hallo...Rian, bagaimana dengan


Erliana sudah kau berikan? Hm...bagus. Sekarang kau kerumah, ibu ku ingin pergi


jalan-jalan, kau temani lah dia.” Dani


“Baik pak.” Rian pun bergegas


meninggalkan halaman sekolah.


Rian menjemput nyonya Prayoga.


Nyonya yang satu itu telah mengenakan gamis hitam dan hijab hijau toska


terlihat sangat anggun,  sederhana namun


berwibawa. Nyonya Prayoga bukanlah seorang ibu yang sibuk dengan dunia


sosialita meskipun ia hidup mewah,  beliau tetap menjalankan kehidupan seperti ibu-ibu lainnya. Mengurusi


rumah tangga kadang masak untuk suaminya dan mengantarkan putranya sekolah,


tapi setelah suaminya meninggal dan putranya sudah mempunyai kesibukan untuk


mengurus perusahaan keluarga kini nyonya Prayoga sering mengunjungi orang tua


nya atau nenek Dani yang kini sakit-sakitan karena sudah udzur.


“Namamu Rian?” Nyonya


“Iya nyonya nama saya Rian.”


Jawab Rian


“Untuk sementara ini kau yang menggantikan


pak Didin.” Nyonya


“Iya nyonya” jawab Rian singkat


dan masih memperhatikan jalanan


“Bawa aku ke kantor putraku.”


Nyonya


“Baik nyonya.” Rian


Selama perjalanan nyonya Prayoga


selalu mempertanyakan tentang Erliana. Rian saat itu kebingungan apakah harus


jujur atau bagaimana?. Tapi rasanya Rian tidak enak hati jika harus berbohong.


Karena majikannya terus mendesaknya akhirnya Rian pun menyerah dan membeberkan


semua tentang Erliana termasuk latar belakang keluarga Erliana. Mendengar semua


penjelasan dari Rian, nyonya Prayoga menarik napas dalam-dalam, dan berpikir.


Kenapa putranya itu tidak berkata jujur padanya.


Setibanya dikantor, semua para


karyawan menyapa dan menunduk hormat. Nyonya Prayoga tidak mendapati putranya


karena masih meeting, Sang ibu memutuskan untuk menunggunya. Sedangkan Rian


sibuk memberi pesan kepada atasannya. “Pak, nyonya ada diruangan anda. Maaf


saya telah melakukan kesalahan hari ini. Saya terdesak kini nyonya sudah


mengetahui tentang nona Erliana.” Begitulah pesan Rian.


Meeting pun selesai, Dani melihat


ponselnya karena tadi dia merasakan ponselnya bergetar. Mata Dani melotot,

__ADS_1


rahangnya mengatup karena kesal terhadap Rian.


“Kenapa dia?” Dani


“Ada apa?” Adit menepuk bahu


Dani.


“Ibu ada disini dan dia tahu


tentang Erliana.” Dani. Adit tak kalah terkejutnya


“What?” tatapannya kedepan


“Bagaimana ini?” Dani.  Mereka saling tatap, namun Adit menyarankan


agar sahabatnya itu berkata jujur. Jika dia direstui bukankah itu bagus.


Kecuali jika dia tak mendapati restu barulah mereka akan mencari cara lain agar


sang ibu merestui mereka.  Dani pasrah


dia berjalan menemui sang ibu.


“Bu...” Sapa Dani mengecup


punggung tangan sang ibu dan disusul oleh Adit.


“Sudah selesai meetingnya?” Ibu


“Sudah.” Jawab mereka kompak.


Saat Dani dan Adit akan duduk, ibu menghentikannya.


“Mau apa kalian? Duduk. Tidak,


berdirilah kalian disana.” Ibu yang menunjuk kedepan. Dani dan Adit tidak


bergeming mereka hanya menurut. Lalu sang ibu berjalan mengitari mereka berdua,


ditatapnya ke dua pria lajang itu. Dilihat dari atas lalu ke bawah ke atas


lagi.


“Kenapa ibu menatap kami seperti


itu?” Dani gugup.


“Kalian ini pria yang menarik


hati menurut ibu, tampan, mapan tapi soal perempuan kalian payah. Mungkin Allah


juga belum menghendaki, atau kalian terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga


kalian melupakan pernikahan. Umur kalian ini sudah cukup untuk menikah dan


memberikan aku cucu. Coba kalian jujur pada ibu, siapa diantara kalian yang


sudah memiliki kekasih?” Tanya ibu. Dani dan Adit saling menatap, namun Adit


tiba-tiba tersenyum lebar.


“Aku sudah punya bu, suatu saat


akan aku kenalkan pada ibu.” Adit menunjuk telunjuknya ke atas. Wanita paruh


baya yang sudah sangat dekat dengan Adit pun tersenyum senang. Lalu dia menatap


putra satu-satunya  yang terlihat gugup.


“Arrgghh...berbohong pun sudah


tidak mungkin, karena ibu sudah tahu semuanya.” Batin Dani. Ditatap dengan


mantap wajah putranya itu, Dani pun mengakui bahwa dia telah memiliki


kekasih.


“Oh ya bagus. Ha ha ha...” Ibu


merasa sangat senang. “Aku ingin kalian memperkenalkan kekasih kalian pada ibu


minggu ini” menepak-nepak pipi putranya dan juga Adit lalu ibu pergi begitu


saja.  Dani dan Adit hanya saling


pandang, tubuh mereka seperti patung, kaku sulit bergerak, mereka berdiri hanya


Apartemen Dani


Bi Sari terkejut saat membukakan


pintu, karena yang berdiri dibalik pintu itu adalah majikannya. Terkejut


sekaligus haru tentunya, mereka saling berpelukan karena rindu.


“Bi Sari aku sudah tahu semua


tentang Erliana, kau tidak perlu gugup begitu. Oh iya menurut mu seperti apa


Erliana itu?” nyonya. Bi Sari sangat antusias saat menceritakan tentang nona


nya itu, karena menurut bi Sari Erliana itu anak yang baik hati, sopan, sederhana,


tidak banyak tingkah dan menurut pada tuan Dani.  Berbeda dengan Renata dia begitu sombong,


bertingkah seenaknya, merasa sudah menjadi nyonya besar saja. Berperilaku tak


sopan.


“Begitu.” Nyonya


“Apalagi sekarang tuan Dani


sikapnya lebih sopan pada orang tua, ramah dan juga dewasa, nyonya.” Bi Sari


“Sekarang dimana dia?” Tanya


nyonya


“Sebentar lagi pulang nyonya.” Bi


Sari


“Kalau begitu buatkan makanan


saya akan makan disini bersama.” Nyonya


“Baik nyonya.” Bi Sari pergi ke


dapur.


Rian sudah menunggu Erliana


dihalaman sekolah, membukakan pintu lalu menuju apartemen. Saat itu Rian tidak


banyak bicara, hanya sesekali memperhatikan nona nya dari kaca spion.


“Bi Sari aku pulang.” Erliana


sambil membuka sepatu sekolahnya.  Saat


dia hendak berdiri, dia melihat seseorang yang sudah melipatkan tangannya di dada.


Ekspresi wanita berhijab itu terlihat serius menatap Erliana.


“Siapa kau?” Tanya nyonya Prayoga


“Maaf saya...” Erliana suaranya


yang terbata-bata, gugup, jantungnya berdebar kencang. Jari-jarinya dingin. Dia


menundukkan kepalanya dalam-dalam  tidak


berani  menatap kearah wanita itu.


“Apakah yang didepan ku ini ibu


nya kak Dani?” Batin Erliana. Sang ibu memperhatikan gadis itu dan menyuruhnya


masuk.


“Masuklah.” Ibu yang lebih dulu


masuk dan duduk dikursi biru yang mewah itu, disusul Erliana tapi Erliana tidak


berani untuk duduk. Dia lebih baik berdiri dan menundukan kepalanya.


“Lihat aku, siapa kau?” Tanya


nyonya pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


“Nama saya Erlliana Putri,


nyonya.” Menunduk lagi. Dilihat oleh ibu tangan Erliana yang gemetar


“Kenapa berada  disini? Ini adalah apartemen putraku?”  nyonya


“Maaf nyonya, saya sudah lancang.


Saya akan pergi dari sini.” Menunduk lagi


“Anak ini.” Batin nyonya. Dari


awal nyonya Prayoga sudah mengetahui  latar belakang Erliana. Dia pun membuka hatinya dan menerima nya, karena


bagaimana pun putranya itu mencintai gadis yang ada dihadapannya ini. Nyonya


Prayoga tersenyum ramah dan mengajak Erliana duduk bersama tidak disangka


nyonya Prayoga sangat terbuka pada Erliana, sengaja nyonya Prayoga ini


mengajaknya berbincang-bincang. Dalam waktu yang singkat nyonya Prayoga dan


Erliana larut dalam obrolannya membuat Erliana nyaman bersama ibu dari


kekasihnya ini. “Benar apa yang dikatakan bi Sari, anak ini baik.” Batin nyonya


Bagi nyonya Prayoga tidak masalah


siapa gadis itu, kalau memang putranya itu bahagia bersamanya dia akan ikut


bahagia. Untuk apa cantik, karir bagus tapi akhirnya hanya menyakiti hati


putranya seperti Renata.


“Nak, jangan panggil aku nyonya.


Mulai sekarang kau boleh memanggilku ibu.” Ibu


Erliana senang tapi dia hanya


menganggukan kepala saja dan tersenyum.


Drrttt...drrttt...drrttt...


Ponsel Dani bergetar, dilihatnya


ada pesan masuk.


“Maaf pak, nyonya sekarang berada


di apartemen dan bertemu dengan nona Erliana.” Pesan Rian


“Apa?” gumamnya. Dani pun


langsung mengajak Adit untuk segera menemui ibunya di apartemen yang tidak


terlalu jauh dari kantor nya. Anehnya Adit ikut tegang dalam situasi seperti


ini.


Ceklek


Dani dan Adit perlahan memasuki


apartemennya, disana dilihat bi Sari sedang menyiapkan makanan. “Sssttt” Dani


memajukan kedua tangannya mulutnya bergerak tanpa suara “Mana ibu?”. Bi Sari


hanya menunjukan jarinya ke arah ruang tv, Adit yang melihat itu hanya menahan


tawa geli merasa lucu melihat Dani panik.


Perlahan namun mantap Dani dan


Adit menghampiri ibu dan Erliana, Adit saat itu lebih memilih duduk besama ibu


sahabatnya dan Dani memilih duduk bersama Erliana.


“Ibu sedang apa?” Dani


“Kenapa? Ibu tidak boleh menemui


calon menantu ibu.” Ibu


“Apa ibu merestui kami?” Dani


Semua orang yang ada disana


terkejut atas pernyataan sang ibu, sekaligus bahagia bagi Dani dan Erliana.


Dilihatnya ekspresi putra satu-satunya saat itu amat sangat bahagia, nyonya


Prayoga menjadi terharu. Dani tak sungkan-sungkan memeluk Erliana didepan ibunya,


tapi bagi Erliana itu membuatmu nya malu.


“Yey......”Adit berteriak ikut


senang dan memberikan 2 jempol


“Bu, aku ingin menikahi Erliana


setelah kelulusan sekolah nanti.” Dani


“Apa, secepat itukah. Berarti 3


bulan lagi aku akan menjadi istrinya.” Batin Erliana


Adit dan sang ibu saling pandang,


lalu Adit mengangkat bahunya dan mengembangkan bibir sebelah kiri nya. Sang ibu


memukul lengan Adit cukup keras.


PLAK


“Aw” Teriak Adit keras dan


mengusap lengannya


“Bagus...labih cepat lebih baik.


Supaya tidak ada fitnah. Ha ha ha ha...” Ibu


“Terima kasih bu.” Dani. “Tapi bu,


bagaimana dengan perjodohan itu.” Erliana memandangi kekasihnya itu terheran.


Dani hanya tersenyum.


“Perjodohan” Batin Erliana panik


“Sebenarnya itu hanya akal-akalan


ibu dan tante Detty saja. Kami sebagai orang tua hanya ingin kalian cepat


menikah, tadi pagi tante Detty menghubungi ibu jika kekasih Misya akan


melamarnya. Dan sekarang.” Ibu tersenyum melihat dan mengelus rambutnya


Erliana. “Ibu akan mempunyai anak perempuan.” Tambahnya


“Ah...ibu membuat ku prustasi


saja.” Dani. Semua tertawa suasana saat itu benar-benar hangat.


Tak lupa dengan Adit, kini ibu Prayoga


mendesak Adit. Adit gelagapan, namun Adit memutuskan akan menjalin hubungan


serius dengan kekasih nya yang sekarang. Dan dia berjanji akan


memperkenalkannya pada ibu sahabatnya yang sudah seperti ibunya sendiri.Lalu


datanglah Bi Sari melapor bahwa makanan sudah siap, dan mereka pun makan


bersama. Ditengah-tengah acara makan bersama bi Sari memberikan surat yang baru


saja dia terima dari pengantar surat.


“Ini dari Misya, dia mengundang


kita ke acara ulang tahunnya?” Ucap Dani


“Kalian pergilah.” Ibu


“Ibu tidak akan pergi?” Dani


“Tidak itu kan acara anak muda.”


Ibu

__ADS_1


__ADS_2