
Bibir Sadam memagut bibir Erine. Dia memberikan ciuman halus. Namun lama-kelamaan ciuman itu semakin intens. Membuatnya harus sesekali memiringkan kepala.
Erine yang tadinya takut dan kaget, perlahan terbuai. Dia memejamkan mata. Bahkan menikmati ciuman yang terjadi.
Suara kecup-mengecup dari Sadam dan Erine itu memecah kesunyian kamar. Semuanya berakhir ketika Sadam tiba-tiba melepas tautan bibirnya lebih dulu.
"Sial! Sepertinya aku sangat terbawa suasana," ungkap Sadam.
"Aku sepertinya juga," tanggap Erine. Dia menatap Sadam sambil tersenyum. Lalu menyentuh wajah tampan tersebut dengan satu tangan.
Cup!
Erine melayangkan sebuah ciuman singkat ke pipi Sadam. Entah kenapa dirinya tiba-tiba berbuat begitu. Erine benar-benar sudah terbawa suasana.
"Kau sangat mempesona, Sadam..." puji Erine bersungguh-sungguh. Sepertinya dia sudah jatuh cinta pada Sadam. Entah sejak kapan itu terjadi, yang jelas Erine selalu merasa bahagia saat menghabiskan waktu bersama Sadam.
Jujur saja, ada sesuatu hal aneh sejak Erine melakukan sandiwaranya sebagai Aylin. Dia tak pernah sekali pun mengeluhkan Sadam. Erine hanya mengeluhkan tentang sulitnya menjadi Aylin.
"Apa kau sedang merayuku?" tukas Sadam seraya memegang tangan Erine yang bertengger di wajahnya.
__ADS_1
"Bukan hanya kau saja yang bisa merayu," balas Erine. Dia terkekeh bersama Sadam. Keduanya sekarang benar-benar bersikap seperti sepasang suami istri.
"Aku mencintaimu," kata Sadam.
Erine terkesiap. Dia terdiam sejenak. Jantungnya berdebam keras. Namun Erine segera menyadarkan diri dan berucap, "Aku juga mencintaimu."
Sadam segera merebahkan diri ke sebelah Erine. Ia juga menuntun gadis itu untuk meletakkan kepala ke dadanya. Hingga Sadam bisa memeluk Erine dengan leluasa.
"Andai saja kau sedang tidak pendarahan, mungkin aku sudah menerkammu sekarang," ucap Sadam.
Mata Erine membulat sempurna. Dia sempat kaget saat mendengar pernyataan Sadam. Meskipun begitu, dia yakin lelaki itu hanya bercanda.
"Kau tahu aku berubah jadi singa saat bermain di ranjang," sahut Sadam.
Erine memukul dada Sadam. "Percaya diri sekali kau!" balasnya.
Sementara Erine tengah asyik terbawa suasana dengan sandiwaranya, di sisi lain Haris sedang kesulitan menghadapi keluarga Sadam. Terutama Saka. Mereka sangat bersikeras ingin menemui Sadam.
"Sekarang Tuan Sadam sedang mengurus pekerjaan penting. Dia tidak bisa ditemui. Makanya aku datang ke sini untuk mewakilinya," ujar Haris.
__ADS_1
"Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu bagaimana Sadam kecelakaan. Aku juga tahu apa yang terjadi kepadanya," kata Saka sembari tersenyum miring.
Haris dirundung perasaan gugup. Dia menanggapi, "Lantas, apa yang kau tahu?"
"Itu bukan urusanmu. Yang jelas kedatanganku ke sini adalah untuk memastikannya," balas Saka.
"Kau akan menunggu berapa lama? Karena kemungkinan Tuan Sadam juga akan pergi keluar kota." Haris berusaha keras melindungi tuannya.
"Hahaha!" Saka malah tergelak. Setelah puas tertawa, dia memasang raut wajah serius. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku percaya dengan segala kebohongan yang kau katakan?" timpalnya.
Saka berjalan mendekat ke hadapan Haris. "Ngomong-ngomong dimana Aylin? Apa dia sibuk juga sekarang?" selidiknya.
"Kau tahu Nona Aylin punya bisnis restoran. Dia tentu juga sedang sibuk." Haris menjawab dengan tenang.
Saka tersenyum sinis. Lalu duduk ke sofa. "Aku rasa sebentar lagi Sadam akan pulang. Kalau tidak bisa bertemu Sadam, mungkin kita bisa bertemu dengan Aylin. Kalian harus melihat wajah barunya," ujar Saka. Memberitahu istri serta keluarganya yang datang bersamanya.
"Kau benar. Kalau mereka tak kunjung datang, mungkin kita bisa menginap di sini," sahut Zoya. Istrinya Saka.
Haris yang mendengar, menenggak salivanya sendiri. Dia mengeluh dalam hati, 'Sial! Tidak mungkin aku mengatakan pada Sadam kalau Aylin operasi plastik. Kebohongan ini terasa semakin menyiksa.'
__ADS_1