Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 39 - Seperti Pengantin Baru


__ADS_3

Erine dan Sadam mengakhiri hubungan intim mereka saat sudah saling terpuaskan. Sadam telentang di sebelah Erine. Kini yang tersisa hanya deru nafas.


Erine memasang tatapan kosong. Dia menatap langit-langit plafon. Perasaannya sekarang campur aduk. Penyesalan juga begitu menghantui Erine.


'Harusnya aku tadi menolaknya. Aku tidak percaya. Sekarang aku sudah tidak perawan,' keluh Erine dalam hati.


Berbeda dengan Sadam, dia justru merasa senang. Dirinya bahkan jadi membuang segala keraguannya terhadap Erine karena apa yang baru saja terjadi.


'Aku sebaiknya tidak perlu curiga lagi. Aku akan percaya perempuan yang bersamaku sekarang adalah istriku. Dia sedikit berubah kemungkinan karena pengaruh kecelakaan,' batin Sadam. Dia memutuskan membuang semua kecurigaan. Sadam bahkan tidak jadi menjalankan rencananya untuk meminta bantuan pelayan.


Sadam memeluk Erine dari samping. "Seharusnya aku tidak meragukanmu. Kau adalah istriku..." ungkapnya tulus.


Erine hanya tersenyum kecut. Pasrah akan pelukan Sadam.


Puas saling berpelukan, Erine pergi lebih dulu ke kamar mandi. Dia menatap pantulan dirinya di cermin.

__ADS_1


"Apa yang sudah kulakukan!" imbuh Erine yang merasa frustasi. Ia mulai membersihkan diri tanpa mengenakan satu helai benang pun.


Bersamaan dengan itu, Sadam datang. Ia tampak hanya mengenakan celana pendek hitam.


"Sa-sayang? Apa yang kau lakukan?" timpal Erine tergagap. Dia yang sudah berada di bilik shower dibuat kaget.


Sadam tersenyum nakal. Dia tidak mengatakan apapun dan malah meraih tangan Erine. Lalu memeluk erat perempuan itu dengan mesra.


"Ayo kita mandi bersama!" ajak Sadam yang dilanjutkan dengan menggesekkan wajahnya ke leher Erine. Hal tersebut membuat Erine geli dan tak kuasa menahan tawa.


Suara tawa Erine semakin gelak tatkala tangan Sadam juga menggelitiki perutnya. Di saat itulah Sadam mengangkat Erine. Keduanya tertawa bersama penuh canda.


"Sadam!" pekik Erine yang terkejut dengan sentuhan shower dari atas. Dia terkekeh bahagia. Kekhawatiran Erine seketika sirna karena perlakuan Sadam yang begitu manis dan membuat hatinya melambung tinggi.


Suara tawa Erine pudar saat Sadam merubah gelitikannya dengan cumbuan intim. Lelaki itu menciumi punggungnya berulang kali.

__ADS_1


Erine merasakan desiran nikmat lagi dalam tubuhnya. Membiarkan Sadam berbuat sesuka hati. Hingga sentuhan yang tadinya hanya ciuman, berubah menjadi lebih intim. Erine dan Sadam melakukannya untuk kali kedua di kamar mandi.


"Aku mencintaimu..." ungkap Sadam. Setelah mengakhiri persenggamaannya dengan Erine. Dia memegangi wajah perempuan itu seolah sedang menatapnya.


"Aku juga mencintaimu..." balas Erine. Dia dan Sadam saling menempelkan dahi satu sama lain.


'Haruskah aku nikmati saja semua ini dulu? Karena saat Sadam tahu siapa aku yang sebenarnya, aku pasti tak akan memiliki kesempatan mendapat momen ini lagi?' batin Erine. Dia tenggelam dalam kebahagiaan bak pengantin baru. Sama seperti Sadam, Erine juga akan membuang segala kekhawatirannya. Dia berniat ingin menikmati momen kebersamaannya dengan Sadam selagi masih bisa.


Hari demi hari berlalu. Hubungan Sadam dan Erine semakin mesra. Haris yang melihat sontak merasa aneh. Terlebih Erine tidak mengatakan apapun tentang segala hal yang terjadi pada dirinya dan Sadam.


Kini Sadam dan Erine berada di halaman belakang rumah. Keduanya menikmati udara di pagi hari bersama-sama. Mereka tak sedikit pun saling melepas gandengan tangan.


"Sayang, bolehkah aku mengenalkanmu dengan seseorang?" celetuk Erine.


"Boleh. Siapa?" tanggap Sadam penasaran.

__ADS_1


"Seseorang yang kusebut ayah. Aku bertemu dengannya saat melakukan perawatan di rumah sakit. Maaf baru ini sekarang," ungkap Erine. Dia jadi serakah dan berniat ingin memperkenalkan ayahnya pada Sadam.


"Benarkah? Dimana dia?" tanya Sadam. Dia tersenyum lebar. Sekarang Sadam menemukan jawaban atas sosok ayah yang disebut Erine saat bicara di telepon tempo hari.


__ADS_2