
"Ikutlah denganku," ucap Sadam setelah tautan bibirnya dan Erine terlepas.
"Kau benar-benar mau menerimaku? Meski keadaanku begini?" tanya Erine.
"Kau membantuku di saat sulit. Sekarang biarkan aku yang membalas," tutur Sadam sembari menyentuh wajah Erine. "Kau sangat cantik," pujinya.
Erine tersenyum mendengar pujian Sadam. Dia yang merasa masih rindu, memeluk lelaki tersebut.
"Ayo kita pergi!" ajak Sadam.
"Sekarang?" Erine melebarkan kelopak matanya. Walaupun begitu, tatapannya tampak kosong.
"Tentu saja. Aku tak mau menunggu lagi." Sadam menggendong Erine dengan gaya bridal. Ia membawa perempuan itu ke mobil.
"Sadam!" Erine tergelak dengan perlakuan Sadam.
"Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan ini," kata Sadam seraya mendudukkan Erine ke kursi mobil. Selanjutnya, barulah dia yang masuk.
"Bagaimana dengan barang-barangku? Bukankah aku harus berkemas?" tanya Erine.
"Kau tidak perlu memikirkan itu. Aku akan mengurusnya," jawab Sadam. Ia segera menjalankan mobil.
Sebelum membawa Erine ke rumah, Sadam pergi ke butik terlebih dahulu. Di sana dia membelikan pakaian bagus untuk Erine.
Sadam menuntun Erine ke depan sebuah gaun. Dia mengarahkan tangan perempuan itu untuk meraba.
__ADS_1
"Kau harus mencoba gaun ini," ujar Sadam.
"Kenapa kau repot-repot membelikan pakaian untukku? Ini tidak perlu sama sekali," kata Erine.
"Ini perlu sekali malah! Pelayan butik akan membantumu," tanggap Sadam.
"Ya sudah kalau begitu." Erine setuju saja. Walau merasa tidak nyaman akan perlakuan Sadam, dia merasa senang.
Sadam tersenyum simpul. Dia tidak sabar ingin melihat Erine mengenakan gaun pilihannya tadi.
Kini Erine sudah selesai memakai gaun pilihan Sadam. Dia merasa heran karena gaun tersebut terasa mewah. Erine dapat mengetahuinya dari kain kasa serta manik-manik yang banyak.
"Anda cantik sekali, Nona. Calon suamimu pasti sangat mencintaimu. Dia memilihkanmu gaun termahal," ucap pelayan butik.
"Ca-calon suami?" Erine sontak heran. Karena tida bisa melihat, dia tidak tahu kalau gaun yang dikenakannya sekarang adalah gaun pengantin.
"Tunggu dulu. Apa gaun yang aku kenakan sekarang adalah gaun pengantin?" tanya Erine memastikan.
"Iya, Nona. Kau--"
"Benar sekali." Sadam muncul dan memotong pembicaraan pelayan butik. Dia mendekat ke hadapan Erine.
"Sadam? Apa ini?" tanya Erine.
"Aku hanya tak mau menunda lagi." Sadam memegang tangan Erine. Kemudian berlutut di hadapan perempuan tersebut. "Maukah kau menikah denganku?" tanyanya.
__ADS_1
Erine kaget mendengar pernyataan Sadam. Jantungnya berdegup kencang sekali.
"A-aku..." Erine merasa terenyuh.
"Aku tahu ini terasa terlalu cepat. Tapi perutmu sudah membesar. Aku tidak ingin kehilangan perempuan yang kucintai dan juga anak pertamaku," ungkap Sadam.
Erine tersenyum dengan perasaan penuh haru. "Iya, aku mau!" ucapnya
Sadam senang bukan kepalang. Dia sekali lagi memeluk Erine. Sadam akan segera mempersiapkan segala keperluan pernikahannya dalam waktu dekat.
Pernikahan Sadam dan Erine akan dilangsungkan secara sederhana. Mereka juga hanya mengundang kerabat dekat.
Selain mempersiapkan keperluan pernikahan, Sadam juga tak lupa mencari pendonor mata untuk Erine ke rumah sakit. Dia bertekad akan membayar berapapun agar calon istrinya tersebut bisa melihat lagi.
Beberapa hari berlalu. Sehari sebelum acara pernikahan, Sadam dan Erine sepakat untuk pergi mendatangi Haris ke pemakaman. Keduanya sekarang berdiri di depan kuburan Haris.
Sadam meletakkan karangan bunga ke batu nisan Haris. Lalu kembali merangkul Erine.
"Bagaimana kabarmu, kawan? Kau pasti senang melihat kami berakhir bersama bukan?" cetus Sadam.
Erine tersenyum. "Terima kasih, Haris. Tanpamu, aku tidak akan pernah mengenal orang hebat seperti Tuanmu," ungkapnya.
"Kami akan menikah besok. Kami berharap semuanya lancar. Kedatangan kami ke sini karena ingin meminta restumu," kata Sadam.
"Aku harap kau bahagia di sana..." lirih Erine. Dia dan Sadam tak akan pernah melupakan pengorbanan Haris.
__ADS_1
...~TAMAT~...
...___...