
"Sayang?" panggil Sadam. Dia perlahan beringsut ke tepi ranjang. Lalu berjalan dengan tongkatnya.
Sadam mencari Erine ke kamar mandi. Akan tetapi gadis itu tak ada di sana. Alhasil Sadam mencari Erine keluar kamar. Sampai langkahnya terhenti di depan pintu balkon.
Kebetulan keadaan pintu balkon sedikit terbuka. Dari sana Sadam bisa mendengarkan Erine yang sedang sibuk berbicara di telepon.
Kala itu Erine tengah bicara dengan Drajat. Dia merasa sangat senang bisa mendengar suara ayahnya tersebut.
"Aku kira tadi Ayah kenapa-napa. Maaf sudah lama tidak ke sana. Aku tak bisa pergi selama dua hari dari rumah Sadam," ujar Erine.
"Tidak apa, Erine. Sadam pria yang baik bukan?" tanggap Drajat dari seberang telepon.
"Ya, dia sangat baik dan mempesona," kata Erine.
"Kau terdengar menyukainya."
__ADS_1
"Ti-tidak. Aku hanya mengaguminya. Tidak mungkin orang sepertiku pantas bersama orang sepertinya." Wajah Erine memerah karena malu. Ia memegangi tengkuk tanpa alasan.
"Aku harap kau bisa secepatnya mengakhiri semua ini. Tidak ada kebohongan yang berakhir dengan baik, Erine..." Drajat memberikan saran.
"Aku tahu. Aku harap semua ini bisa berakhir dengan cepat. Aku akan segera menjengukmu, Ayah..." ucap Erine.
"Aku merindukanmu, Nak. Sampai jumpa." Pembicaraan Drajat dan Erine berakhir di sana.
Sadam yang sejak tadi mendengarkan, bergegas beranjak dari pintu. Dia melangkah dengan cepat. Akibatnya Sadam tak sengaja menabrak meja. Hingga menjatuhkan sebuah guci kecil dari sana.
Prang!
"Sadam!" seru Erine cemas. Dia memperhatikan Sadam dari ujung kaki sampai kepala. Memastikan lelaki itu tidak terluka karena pecahan guci.
"Aylin! Aku tadi baru keluar dari kamar. Aku mencarimu," ucap Sadam berkilah. Dia memutuskan akan menyimpan segala keanehan yang ditemukannya seorang diri.
__ADS_1
"Kau seharusnya tidak perlu mencariku. Aku tadi dari balkon karena ingin mencari udara segar," sahut Erine.
Tak lama kemudian Haris datang. Ia sepertinya mendengar suara keributan yang tak sengaja dibuat Sadam.
"Apa yang terjadi?" tanya Haris dengan raut wajah panik.
"Sadam tadi tidak sengaja menjatuhkan guci. Tapi dia baik-baik saja. Tolong bersihkan semua ini. Kami akan ke kamar," kata Erine seraya membawa Sadam masuk ke kamar. Dia dan Haris saling bertukar pandang. Keduanya seakan bicara melalui tatapan.
...***...
Malam semakin larut. Sadam dan Erine sudah telentang bersama di ranjang. Saat itu Sadam tidak tidur. Ia hanya berpura-pura tidur. Telinganya terus aktif untuk mendengarkan.
Beruntungnya malam itu Erine tertidur nyenyak. Dia juga tidak ada janji temu dengan Haris untuk bicara. Sehingga Sadam tidak bisa menemukan apapun atas segala kecurigaannya.
Ketika Erine tidur, Sadam meraba wajah gadis tersebut dengan pelan. Dia mencoba mengenali paras istrinya melalui indera perasa.
__ADS_1
"Kau siapa sebenarnya? Apa benar kau Aylin? Tapi Aylin yang aku tahu adalah anak yatim piatu. Kenapa tadi aku mendengarmu seolah bicara dengan ayahmu di telepon?" tanya Sadam. Dia benar-benar bingung sekarang. Dirinya sangat membutuhkan jawaban pasti. Tetapi bagaimana? Sadam harus meminta bantuan siapa untuk mencari tahu? Mengingat Haris sepertinya juga seolah menutupi sesuatu darinya.
Sadam menghela nafas panjang. Dia tak bisa tidur karena berusaha mencari solusi atas rasa penasarannya. Sadam mencoba menyusun rencana untuk mencari tahu. Ia akan memanfaatkan salah satu pelayan di rumahnya untuk bekerjasama.