Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 35 - Pura-Pura Sakit


__ADS_3

Setelah berbicara empat mata, Haris mengajak Erine untuk berkeliling perusahaan. Namun gadis itu menolak.


"Aku tidak bisa. Aku tahu siapa diriku. Orang yang pantas kau bawa berkeliling perusahaan ini harusnya adalah Aylin," kata Erine. Dia segera beranjak dari hadapan Haris. Dirinya menemui Sadan ke ruang kerja.


"Sayang? Kau kah itu?" Sadam menyambut kedatangan Erine dengan pertanyaan.


"Iya. Aku rasa kita harus pulang," ajak Erine seraya mendekati Sadam. Lelaki itu kebetulan berdiri di depan jendela.


"Benarkah? Cepat sekali. Setahuku perusahaan ini sangat luas. Butuh waktu sekitar setengah jam lebih untuk berkeliling," ucap Sadam.


"Aku tidak memeriksa setiap sudut perusahaan. Aku mendadak tidak enak badan," ungkap Erine.


Dahi Sadam sontak berkerut. Dia mengulurkan tangan ke arah Erine. Berniat ingin menyentuh wajah gadis yang dirinya kira istrinya tersebut.


Erine lantas memegangi tangan Sadam. Dia mengarahkan tangan lelaki itu ke wajahnya.


"Ayo kita pulang," ajak Erine.


"Badanmu tidak panas sama sekali," komentar Sadam.

__ADS_1


"Tidak semua penyakit bisa dipastikan dengan suhu badan, Sayang. Kau tidak tahu rasa tidak enak yang kurasakan sekarang."


"Kau benar. Maafkan aku. Ayo kita pulang." Sadam mengalah. Dia akhirnya setuju untuk pulang bersama Erine. Haris tentu ikut bersama mereka. Lelaki tersebut akan membantu Erine untuk menjalankan rencana pura-pura sakit.


...***...


Sesampainya di rumah, Erine menyuruh Sadam menunggu di kamar. Sementara dirinya mengatakan ingin ke kamar mandi. Padahal sebenarnya Erine keluar dari kamar dan menemui Haris.


"Menurutmu aku harus pura-pura sakit apa?" tanya Erine.


"Yang terbaik adalah demam," usul Haris.


"Tidak. Aku sudah punya cara mengatasi itu. Ayo ikut aku!" Haris mengajak Erine pergi ke dapur. Di sana dia mengompres beberapa titik badan Erine dengan kain yang direndam dengan air panas.


"Aaa! Panas sekali! Sakit, Haris. Harusnya kau pikir-pikir dulu sebelum menempelkan kain itu ke kulitku," protes Erine saat merasa kepanasan.


"Tahan saja. Badanmu nanti tidak bisa panas! Lagi pula aku tahu panas air ini tidak akan membuat kulitmu melepuh," sahut Haris sembari meniupi kain yang sudah diperas dengan air panas.


"Tapi sakit!" Erine berusaha bertahan sebisa mungkin. Dia hanya bisa meringis kesakitan.

__ADS_1


Setelah melakukan pengompresan air panas, Erine kembali ke kamar. Dia menyaksikan Sadam tampak belajar menggunakan huruf drill. Huruf yang diketahui bisa dipakai orang buta untuk membaca.


"Sayang?" Sadam memanggil ketika mendengar suara pintu terbuka serta langkah kaki.


"Aku di sini. Aku mau tiduran..." ucap Erine. Sengaja dengan suara lemah. Lalu menghempaskan diri ke ranjang.


"Kau baik-baik saja kan?" tanya Sadam. Ia berdiri dan berjalan mendekat dengan tongkatnya ke arah Erine.


"Aku harap begitu," jawab Erine. Menatap Sadam dengan sudut matanya. Tak lama kemudian lelaki tampan itu duduk ke tepi ranjang.


"Apa kau masih tidak enak badan? Kau sakit apa?" cecar Sadam sambil menyentuh badan Erine. Matanya membulat saat merasakan panas yang kuat di tubuh gadis tersebut. Badan Sadam bahkan sampai berjengit.


"Astaga! Badanmu panas sekali!" cetus Sadam.


Erine tersenyum kecut. Dalam hati dia merutuki Haris. 'Astaga, Haris. Aku sudah bilang padanya kalau panasnya berlebihan,' batinnya.


"Kau harus dibawa ke rumah sakit!" seru Sadam yang mendadak mencemaskan Erine.


Mata Erine sontak terbelalak. Rumah sakit? Dia yang berpura-pura sakit tentu tidak perlu dibawa ke sana.

__ADS_1


__ADS_2