
Sadam jelas mengalami serangan jantung. Hal itu membuat Haris dan Erine panik bukan kepalang.
Kini Erine duduk di depan ruang operasi dalam keadaan tangan gemetar. Ia juga terus menangis karena takut sesuatu hal buruk akan menimpa Sadam.
Sementara Haris, dia terus berjalan bolak-balik tak karuan. Dirinya merasa sangat gelisah. Sebagai orang terdekat Sadam, dia tentu merasa khawatir sekali.
"Maafkan aku... Ini semua gara-gara aku..." isak Erine yang menyesali segala yang sudah terjadi. "Seharusnya aku mendengarkan perkataanmu, bukannya mendengarkan kata hatiku..." tambahnya.
"Itu bukan hal yang terpenting sekarang, Rin! Yang terpenting adalah kesembuhan Sadam! Aku takut dia akan membutuhkan donor jantung. Sementara aku belum menemukan jantung yang cocok untuknya," kata Haris. Dia duduk ke sebelah Erine. Meraup wajahnya berulang kali.
Tak lama kemudian, dokter yang menangani Sadam keluar. Dia memberitahu keadaan jantung Sadam memprihatinkan. Dokter juga mengatakan kalau Erine dan Haris hanya perlu menunggu sampai waktu kematian Sadam tiba.
"Dokter pasti bohong! Tolong beritahu cara bagaimana Sadam bisa sembuh. Kami akan melakukan apapun!" ujar Erine di sela-sela tangisan histerisnya.
__ADS_1
Dokter bernama Evan itu tertunduk sendu. Tetapi dia berkata, "Satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan Sadam adalah transplantasi jantung."
Erine terdiam. Terlintas sesuatu dalam pikirannya. Yaitu merelakan jantungnya untuk Sadam. Dia jadi tidak berpikir dua kali karena rasa cintanya terhadap lelaki itu.
"Kalau begitu, apakah jantungku bisa diterima?" cetus Erine. Membuat Haris dan Evan sontak membulatkan mata bersamaan.
"Erine!" seru Haris yang tak menduga sama sekali jalan pikiran Erine tersebut.
"Tidak apa-apa, Ris. Aku harus bertanggung jawab atas semuanya," jelas Erine seraya menghapus air mata yang memenuhi wajahnya.
Tanpa basa-basi, Erine langsung mengangguk.
"Kalau begitu, ayo ikut aku untuk menjalani pemeriksaan. Lebih cepat semakin baik," ajak Evan.
__ADS_1
"Tidak! Tunggu!" Haris sigap mencegah kepergian Erine. "Jangan berlebihan! Kau tidak perlu melakukan ini! Orang yang pantas bertanggung jawab atas semua ini adalah aku!" tegasnya.
"Tapi aku juga terlibat. Sungguh, tidak apa-apa, Ris... Aku akan--"
"Kalau kau nekat mendonorkan jantungmu, berarti kau harus siap mati. Lalu apa kau memikirkan bagaimana jadinya ayahmu sendirian tanpamu?" Haris berusaha merubah pikiran Erine. Perkataannya yang menyebutkan tentang Drajat, sukses membuat Erine tertohok.
"Apa kau rela mati demi orang yang tak menganggapmu ada dibanding ayahmu sendiri?" Haris sengaja memberikan keraguan pada Erine. Perempuan itu lantas terisak kembali. Bingung dengan segala yang sudah terjadi.
"Kalau begitu, apa yang akan terjadi pada Sadam? Aku tidak mau dia pergi? Baru saja hatiku melambung tinggi karenanya..." ujar Erine sambil menangis tersedu-sedu.
Haris hanya diam. Perlahan dia menyuruh Erine duduk. Lalu menyuruh perempuan tersebut tenang.
"Aku akan pastikan Sadam akan baik-baik saja. Tenanglah... Aku akan mencari pendonor jantung untuknya secepat mungkin," tutur Haris. Dia meninggalkan Erine sejenak. Haris terlihat pergi bersama Evan.
__ADS_1
Erine yang kini sendirian, tenggelam dalam kesedihan mendalam. Meski Sadam belum sepenuhnya pergi, dia justru semakin kalut. Itu karena Erine tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya juga tidak tega meninggalkan sang ayah yang sakit. Segalanya benar-benar rumit bagi Erine.
"Sadam... Maafkan aku... Aku harap keajaiban bisa datang kepadamu," gumam Erine berharap dengan ketulusan.