
Erine memperhatikan Sadam yang terdiam. Dia segera menggenggam tangan lelaki itu.
"Kau baik-baik saja kan?" tanya Erine.
"Ya. Aku hanya berharap Saka tidak membuat masalah," jawab Sadam.
"Semuanya pasti akan baik-baik saja. Ada aku dan Haris di sisimu. Kau tidak sendiri," tutur Erine seraya meletakkan kepala ke pundak Sadam.
Beberapa saat kemudian, mobil tiba di tempat tujuan. Haris langsung menghampiri dan membantu Sadam keluar dari mobil.
Saka dan keluarga yang lain mengamati dari ambang pintu. Mereka saling berbisik ketika melihat Sadam dan Erine yang tampak berbeda.
"Siapa gadis yang bersama Sadam?" tanya Tari. Tantenya Sadam. Dia dan suaminya terlihat sangat heran.
"Jangan bilang dia Aylin dengan wajah barunya," tebak Riswan. Suami dari Tari.
"Aku sangat ingin menyangkalnya. Tapi kata Haris, dialah Aylin kita," sahut Saka sembari memancarkan tatapan curiga. Terutama ke arah Erine dan Haris. Saka mempunyai firasat kalau ada sesuatu yang aneh. Dirinya merasa sangat yakin karena mengenal bagaimana Aylin.
"Astaga... Ini tak bisa dipercaya," ujar Tari yang merasa syok.
"Itu tidak penting bagi kita. Yang terpenting bagaimana dengan keadaan Sadam sekarang. Dalam keadaan begitu, aku tidak yakin dia bisa mengelola perusahaan," imbuh Riswan.
__ADS_1
"Aku juga berpikir begitu," sahut Saka. Dia dan Riswan bertukar pandang. Lalu mengukir senyuman licik.
Melihat Sadam sudah dekat, Saka bergegas menghampiri. Dia terlihat panik. Jelas dia hanya berpura-pura.
"Sadam! Benarkah ini kau? Apa yang terjadi kepadamu?" tanya Saka sembari memegangi lengan Sadam.
"Tentu saja ini aku. Dan untuk apa kau bertanya? Bukanlah jelas kalau sekarang aku buta?" tanggap Sadam. Dia sangat mengenal bagaimana Saka. Kakak tiri yang dikenalnya penuh tipu muslihat dan rencana. Saka selalu berusaha menjatuhkan Sadam agar bisa merebut harta warisan.
"Kenapa kau berkata begitu? Aku benar-benar mencemaskanmu sekarang," kata Saka.
"Cukup, Tuan. Aku sarankan, sebaiknya kita bicara di dalam rumah," sergah Haris memberi usul.
"Biar aku membantumu," ujar Saka. Dia mendorong Haris menjauh. Kemudian menggantikan posisi lelaki tersebut.
Haris hanya mendengus kasar. Membiarkan Saka menggantikan posisinya. Sementara itu, Sadam tampak cemberut.
Sejak tadi Erine hanya diam. Sesekali dia melirik ke arah Saka. Dikarenakan dirinya tak begitu mengenal Saka, Erine pikir lelaki itu bersungguh-sungguh.
Dengan langkah pelan, akhirnya Sadam, Erine dan Saka masuk ke rumah. Mereka segera duduk ke sofa untuk saling bicara.
Riswan dan Tari terlihat begitu memperhatikan Erine. Jujur saja, keduanya sulit untuk percaya kalau sosok gadis di hadapan mereka adalah Aylin.
__ADS_1
"Kau benar-benar Aylin?" tanya Tari.
Deg!
Erine kaget mendengar pertanyaan itu. Ditambah sejak tadi dirinya juga merasa gugup. Terutama saat sudah duduk di hadapan Saka dan yang lain.
Sebelum menjawab, Erine menatap Haris terlebih dahulu. Lelaki itu lantas menganggukkan kepala sebagai jawaban.
'Kata Haris dia sudah punya rencana. Aku akan mempercayainya,' batin Erine.
"Tentu saja aku Aylin. Bagaimana kalian bisa meragukanku?" ujar Erine.
"Ayolah, Aylin. Semua orang yang melihat pasti akan ragu," tanggap Saka sambil menatap Sadam. Ucapannya seakan sengaja ditujukan untuk menyindir adik tirinya tersebut.
Sadam tampak tersenyum mendengarnya. "Boleh aku tahu apa tujuan kalian datang ke sini?" tanyanya.
"Tentu saja menjengukmu. Kami ingin memastikan kau baik-baik saja," jawab Riswan.
"Ya, kami semua sangat mengkhawatirkanmu dan Aylin. Kami sudah mendengar tentang kecelakaan yang menimpa kalian," ungkap Tari.
"Hahaha!" Sadam malah tergelak. Dia merasa lucu. Dirinya yang sangat mengenal bagaimana Saka dan keluarganya, merasa aneh karena tiba-tiba mendapatkan perhatian mereka. Mengingat selama ini Saka dan keluarganya selalu berusaha menjatuhkan Sadam.
__ADS_1