Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 47 - Sandiwara Sadam


__ADS_3

Erine menganggap Sadam sudah berhenti mengikuti. Dia tampak melangkah pelan hingga sampai ke rumahnya.


Perlahan Erine membuka pagar rumah. Lalu masuk ke dalam. Untung saja pagar rumah tidak dikunci oleh Erine, jadi Sadam bisa masuk dengan mudah. Lelaki itu tergesa-gesa karena ingin mengikuti Erine masuk ke rumah.


Usaha Sadam berakhir dengan baik. Dia juga tidak menimbulkan suara yang membuat Erine curiga. Sekarang lelaki tersebut berduaan di rumah bersama Erine. Perempuan yang selama ini dicari-carinya.


Sadam mengedarkan pandangan ke sekitar. Ia memperhatikan keadaan rumah Erine yang begitu sederhana. Rumah yang terbilang pas untuk ditinggali sendiri.


Erine terlihat masuk ke sebuah ruangan. Sadam lantas kembali mengikuti. Ternyata ruangan yang dimasuki Erine adalah kamar. Di sana perempuan tersebut langsung membuka baju.


Buru-buru Sadam kembali keluar kamar. Dia jadi teringat dengan keadaan dirinya saat buta. Kala itu Sadam yang selalu mengira Erine adalah Aylin, merasa tak pernah malu untuk melepas pakaian.


"Sekarang aku tahu bagaimana perasaannya saat itu. Benar-benar memalukan," gumam Sadam yang tiba-tiba malu sendiri.


Sadam mengira Erine mandi, jadi dia memutuskan untuk melihat-lihat rumah. Hingga tibalah Sadam ke dapur. Di sana tampak berantakan sekali. Membuat Sadam merasa tambah iba pada Erine.


"Ini pasti sangat sulit baginya. Kenapa dia rela memberikan matanya padaku? Dasar perempuan aneh," gerutu Sadam. Dia menggulung lengan bajunya secara bergantian. Sadam berinsiatif membersihkan dapur Erine.

__ADS_1


Dari mulai mencuci piring sampai memunguti sampah yang berserakan, dilakukan oleh Sadam. Tanpa sepengetahuan lelaki itu, Erine keluar dari kamar. Ia mendengar suara denting piring dari dapur. Erine otomatis mendatangi dapur.


"Nadia? Kau kah itu?" tanya Erine.


Deg!


Sadam kaget sekali ketika mendengar suara Erine. Matanya sampai membulat. Akan tetapi dia merasa lega saat mengingat Erine dalam keadaan buta. Jika tidak, maka Sadam akan langsung tertangkap basah.


"Bukankah sudah berapa kali aku bilang kalau aku bisa melakukan semuanya sendiri sekarang?" tukas Erine.


'Kau tidak bisa! Jelas-jelas kau membuang sampah tidak masuk ke tempatnya. Kau juga tak bisa membersihkan debu-debu.' Sadam menjawab dalam hati.


Sementara Sadam membisu. Dia sebenarnya sedang memikirkan sesuatu agar bisa berkomunikasi dengan Erine. Diam-diam Sadam berdehem. Bersiap untuk angkat suara.


"Aku bukan Nadia," ungkap Sadam.


Erine tampak terkejut. Apalagi saat mengetahui kalau suara yang didengarnya adalah seorang lelaki. Perlahan dia melangkah mundur karena merasa sedikit terancam.

__ADS_1


"Ka-kau siapa? Apa yang kau lakukan di rumahku?" tanya Erine terbata.


"Aku Marcel. Kakaknya Nadia," jawab Sadam berbohong.


"Kakaknya Nadia?" Erine mengerutkan dahi.


"Nadia menyuruhku untuk datang ke sini dan membersihkan semuanya," kilah Sadam. Dia memutuskan akan bersandiwara. Persis seperti yang pernah dilakukan Erine terhadapnya.


Sadam hanya ingin melihat ketulusan Erine. Karena jika dia mengakui siapa dia sebenarnya, maka kemungkinan Erine akan pergi meninggalkannya.


"Lalu bagaimana kau--"


"Aku minta maaf sebelumnya karena tadi diam-diam mengikutimu. Tapi aku bersumpah kalau aku bisa kau percaya," potong Sadam.


"Tapi caramu masuk ke sini sangat tidak sopan! Bagaimana aku bisa mempercayaimu?" sahut Erine.


"Aku--"

__ADS_1


"Pergilah! Aku tidak butuh siapapun sekarang!" sergah Erine tegas.


__ADS_2