
Sadam menghentikan mobilnya di depan panti jompo. Tempat dimana Erine sedang berada.
Karena sudah tidak sabar, Sadam keluar dari mobil. Dia bergegas ingin melihat Erine. Namun langkahnya harus terhenti ketika menyaksikan perempuan itu keluar dari panti jompo.
Erine tampak berjalan dengan tongkatnya. Dia berjalan dengan hati-hati sambil memegangi perutnya yang sudah agak membuncit.
Sadam mematung sejenak saat menyaksikan Erine. Dia terpaku menatap perempuan itu dari jauh. Perasaan kagum, rindu, dan rasa bersalah, memenuhi relung hati Sadam.
'Dia tidak hanya cantik di hati, tapi juga luarnya. Padahal awalnya aku mengira diriku sudah dikhianati, tapi ternyata aku mendapatkan anugerah yang lebih baik,' batin Sadam. Ia semakin jatuh cinta pada sosok Erine. Kebaikan dan kecantikan perempuan tersebut benar-benar menggugah hati Sadam.
Buru-buru Sadam mengikuti, ketika melihat Erine sudah berjalan menjauh. Dia diam-diam mengekori dari belakang.
Hanya ada keheningan yang menyelimuti. Memang keadaan jalanan yang dilewati Erine dan Sadam cukup sepi. Oleh sebab itu Erine juga bisa mendengar langkah kaki seseorang dari belakang.
"Nadia? Kau kah itu?" imbuh Erine yang menghentikan pergerakan kakinya sejenak.
Sadam melebarkan kelopak mata. Dia juga berhenti berjalan. Sadam memilih tidak mengucapkan apapun. Ia hanya diam.
__ADS_1
Erine mendengus kasar. Dia yakin kalau orang yang sedang mengikutinya adalah Nadia. Satu-satunya orang yang selalu memperhatikan Erine di setiap waktu.
"Apa kau membolos kuliah lagi karenaku? Kau lihat sendiri kalau aku sudah mampu pergi dan pulang sendiri. Aku sudah terbiasa!" ujar Erine. "Pergilah! Jangan ikuti aku!" tambahnya. Lalu kembali lanjut melangkah.
Agar tidak ketahuan, Sadam membiarkan Erine berjalan agak jauh. Saat waktunya dirasa sudah tepat, barulah dia kembali mengikuti.
Tanpa diduga, Erine terjatuh karena tongkatnya kelewatan mendeteksi sebuah ranting kayu. Dia sontak tersandung dan jatuh ke tanah.
Sadam cemas sekali melihatnya. Dia langsung berlari menghampiri Erine. Membantu perempuan tersebut berdiri.
"Ini hanya jatuh biasa, Nad. Aku baik-baik saja. Bisakah kau membiarkanku sendiri sebentar saja?" kata Erine sembari berdiri. Dia membeku sejenak saat mencium aroma parfum lelaki tidak asing.
"Ka-kau siapa?" tanya Erine.
Sama seperti Erine, Sadam juga mematung. Dia terpaku lagi menyaksikan Erine. Terlintas dalam benak Sadam untuk menyembunyikan identitasnya.
"Ekhem!" Sadam berdehem lebih dahulu. Dia ingin merubah suaranya agar tidak dikenali Erine.
__ADS_1
"Maaf. Aku tadi kebetulan lewat dan tak sengaja melihatmu terjatuh," ucap Sadam.
"Ah, benarkah? Aku pikir kau seseorang yang kukenal. Aroma parfummu sangat mirip dengannya," kata Erine. Keningnya sedikit mengernyit karena merasa aneh dengan suara lelaki yang bicara dengannya. Tetapi Erine membuang semua dugaan kalau lelaki tersebut adalah Sadam.
"Kau mau kemana?" tanya Sadam.
"Aku mau pulang. Tapi aku sudah terbiasa melakukannya. Aku ingat jalan yang harus kulalui," jawab Erine seraya tersenyum tipis.
"Kau yakin? Perlukah aku mengantarmu?" tawar Sadam.
Erine langsung menggeleng. "Tidak usah! Aku bisa melakukannya sendiri," tolaknya yang segera melangkah maju dengan tongkat.
Sadam lantas kembali diam-diam mengikuti. Akan tetapi suara langkah kakinya kembali disadari oleh Erine.
"Apa Mas mengikutiku? Aku harap kau berhenti melakukannya. Aku benci dikasihani, Mas!" cetus Erine.
Sadam reflek berhenti berjalan. Dia sekarang bingung harus bagaimana. Sungguh, dirinya tak mau pergi meninggalkan Erine sekarang.
__ADS_1
Alhasil Sadam menggunakan akalnya. Dia melepas kedua sepatu mahalnya, lalu berjalan mengikuti Erine tanpa alas kaki.