
Bagi Nadia, ucapan Sadam terasa sangat meyakinkan. Hingga dia memutuskan untuk percaya.
"Baiklah. Aku akan percaya padamu. Lalu apa rencanamu?" tanya Nadia seraya melipat tangan ke depan dada.
"Aku ingin mendekati Erine. Tapi bukan sebagai Sadam. Melainkan orang lain," jelas Sadam.
"Kenapa begitu?" Nadia mengernyitkan kening.
"Bukankah kau bilang dia ingin menghindar dariku? Jadi aku tidak yakin datang padanya sebagai Sadam!"
"Kau benar."
"Kau harus membantuku," pinta Sadam. Kala itu dia dan Nadia sepakat untuk bekerjasama.
Keesokan harinya, Sadam datang lagi ke rumah Erine. Namun kali ini dia datang dengan dukungan dari Nadia.
Nadia memperkenalkan Sadam kepada Erine. Dia memberitahukan pada Erine bahwa Sadam adalah kakaknya yang bernama Marcel.
Erine menarik Nadia mendekat dan berbisik, "Kau kenapa membawa kakakmu padaku?"
"Maaf, Kak Erine. Tapi kebetulan aku akhir-akhir ini sangat sibuk. Aku menyuruh Kak Marcel menggantikanku untuk sementara. Dia baik kok. Kau harus percaya," tutur Nadia. Mencoba meyakinkan Erine.
"Tapi dia lelaki! Itu membuatku tidak nyaman." Erine berusaha menolak.
__ADS_1
"Aku mohon, Kak. Kebetulan Kak Marcel menganggur. Setidaknya dia memiliki kegiatan dengan membantumu," bujuk Nadia lagi.
Erine terdiam sejenak. Sampai akhirnya dia setuju untuk menerima Sadam. Tetapi dirinya memberikan syarat khusus yang harus dipatuhi Sadam.
Pertama, Sadam hanya boleh datang untuk bersih-bersih di rumah Erine. Kedua, Sadam harus berjanji tidak akan mengganggu privasi Erine. Ketiga, Erine tidak menerima segala sentuhan dari Sadam.
"Kau dengarkan syaratnya, Kak! Aku mohon jangan kecewakan Kak Erine," ucap Nadia.
"Oke. Aku setuju." Sadam mengacungkan jempolnya sebagai persetujuan. Dia senang Erine mau menerimanya.
...***...
Hari pertama Sadam menemani Erine telah tiba. Itu dimulai dengan bersih-bersih di pagi hari.
Bukannya bersih-bersih sendiri, Sadam malah membawa seseorang untuk mengerjakan pekerjaannya. Mengingat dia punya banyak uang untuk melakukan segalanya.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Erine keluar dari sana.
Buru-buru Sadam meletakkan kopinya ke meja dan berdiri. Dia segera menghampiri Erine.
"Kau sudah bangun?" tanya Sadam.
"Bukankah itu sudah jelas?" tanggap Erine sinis. Dahinya berkerut saat mendengar suara dari dapur. Suara yang disebabkan oleh orang suruhan Sadam.
__ADS_1
"Apa Nadia ada di sini?" tanya Erine.
"Nadia? Tentu saja tidak. Aku sendirian di sini," jawab Sadam.
"Lalu siapa yang ada di dapur?" timpal Erine.
Sadam menepuk jidatnya sendiri. Dia lupa memberitahu orang suruhannya untuk tidak berisik.
"Ah! Kucing itu pasti datang lagi. Aku akan mengusirnya," ujar Sadam sambil mencoba beranjak.
"Tidak! Jangan!" Erine lekas menghentikan. Sadam pun berhenti melangkah.
"Kenapa?" tanya Sadam. Diam-diam dia mengirim pesan pada orang suruhannya yang sekarang bersih-bersih di dapur. Sadam menyuruhnya untuk pergi.
"Apa benar ada kucing? Aku tidak pernah mengetahui itu sebelumnya," ungkap Erine.
Mata Sadam meliar ke segala arah. Dia bingung harus menjawab apa. Ternyata bersandiwara tidak semudah yang dirinya kira.
"Kucing itu sering datang. Aku sering melihatnya. Mungkin dia datang saat kau tidak ada," kilah Sadam. Dia melihat orang suruhannya muncul. Orang itu berjalan pelan sampai bisa menggapai pintu keluar.
Sadam mendengus lega. Dia mengajak Erine untuk sarapan. Sadam mencoba membantu Erine berjalan. Akan tetapi perempuan itu menolak tegas.
"Aku bisa berjalan sendiri! Apa kau lupa dengan syaratku?" timpal Erine.
__ADS_1
"Maaf. Aku lupa," sahut Sadam. Dia membiarkan Erine berjalan sendiri.
Erine mengerutkan dahi. Sebenarnya sejak awal dia agak curiga dengan suara Sadam yang terasa dibuat-buat. Erine merasa kalau suara yang digunakan Sadam untuk bicara bukanlah suara asli.