Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 43 - Mata Dari Erine


__ADS_3

Hati Erine semakin tersayat. Satu-satunya harapan dia adalah kesehatan Sadam. Dengan langkah yakin Erine mendatangi dokter yang menangani Sadam. Membicarakan sesuatu hal serius pada dokter tersebut.


Tidak terasa waktu berlalu. Dua hari kemudian Sadam terbangun setelah tak sadarkan diri pasca operasi.


Ada hal yang membuat Sadam merasa aneh kala itu. Sebab matanya ditutupi dengan perban.


Perawat yang berjaga mengetahui tentang kesadaran Sadam. Ia segera melapor pada dokter. Tak perlu menunggu lama dokter pun datang.


"Akhirnya kau sudah bangun, Tuan Sadam!" seru dokter bernama Reza itu.


"Iya. Tapi kenapa mataku diperban?" tanya Sadam bingung.


"Itu karena kau baru saja melakukan operasi mata. Ada seseorang yang rela mendonorkan matanya untukmu," jelas Reza.


"Benarkah? Apa itu artinya aku bisa melihat lagi?" Sadam memastikan. Sungguh, dia merasa sulit untuk percaya sekaligus senang.


"Operasinya berjalan lancar. Aku yakin begitu. Aku akan membuka perbannya sekarang," ujar Reza. Dia menyuruh perawat untuk membuka perban di mata Sadam. Mereka melakukannya secara perlahan sekali.

__ADS_1


Kini perban sudah berhasil dibuka. Reza lantas menyarankan Sadam membuka mata dengan hati-hati.


Perlahan Sadam membuka mata. Penglihatannya di awali dengan samar-samar. Lalu lama-kelamaan menjadi jelas.


Sadam merasa senang bukan kepalang. Dia sampai sulit untuk berkata-kata.


"Aku bisa melihat lagi, Dok! Aku bisa melihat!" seru Sadam kegirangan.


"Selamat, Tuan Sadam. Aku ikut senang," kata Reza. Dia dan perawat yang menemaninya ikut bahagia. Mereka sama-sama merekahkan senyuman.


Namun kebahagiaan Sadam tidak berlangsung lama. Senyuman perlahan menghilang dari wajahnya. Ia tiba-tiba teringat dengan Haris dan Erine. Pembicaraan terakhir kali dua orang itu langsung terlintas dalam ingatannya. Sadam ingin memastikan apakah istrinya benar-benar sudah meninggal.


Mendengar pertanyaan Sadam, Reza dan perawat yang bersamanya menunduk sendu. Keduanya saling lempar pandang karena mendadak merasa sedih.


"Ada apa? Dimana mereka?" tanya Sadam yang sudah tak sabar menunggu jawaban.


"Begini, Tuan Sadam. Haris sekretaris pribadimu merelakan jantungnya untuk diberikan padamu. Sedangkan Nona Erine memberikan matanya untukmu," terang Reza dengan hati-hati.

__ADS_1


"Apa kau bilang?" Sadam merasa sangat syok. Jika jantung Haris sudah diberikan kepadanya, maka otomatis lelaki itu tidak akan bisa bertahan hidup.


"Kau pasti berbohong. Lalu siapa kau bilang tadi? Erine? Siapa dia? Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali!" ucap Sadam dalam keadaan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Erine adalah orang yang selama ini mengambil peran sebagai istrimu. Perempuan yang selama ini bersamamu setelah kecelakaan itu adalah dia dan bukan Aylin. Istrimu Aylin sudah meninggal semenjak kecelakaan itu." Reza kembali memberikan penjelasan panjang lebar.


Sadam terkejut sekali mendengar fakta yang diberitahukan Reza. Tak lama kemudian, dia diberikan surat dari Haris dan Erine.


Sadam tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia marah sekaligus sedih. Selain itu, dirinya juga merasa terenyuh dengan apa yang dilakukan Haris dan Erine. Memberikan sesuatu hal penting dari tubuh sendiri untuk orang lain, tentu bukan sesuatu yang mudah.


Sadam buru-buru turun dari hospital bed. Dia ingin cepat-cepat menemui Erine. Akan tetapi Reza dan perawat yang bersamanya langsung mencegah.


"Kau mau kemana, Tuan Sadam?" tanya Reza sambil memegang erat tangan Sadam.


"Aku ingin menemui Erine!" sahut Sadam.


"Tidak, Tuan. Kau tidak bisa. Kau harus istirahat," ucap Reza. Namun Sadam masih saja berusaha memberontak.

__ADS_1


"Tuan! Aku mohon. Lagi pula kau akan kesulitan mencari Nona Erine. Karena katanya dia akan pergi jauh darimu!" ungkap Reza. Sukses membuat Sadam membeku.


__ADS_2