Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 36 - Menukar Resep Obat


__ADS_3

"Tidak, Sayang! Aku tidak perlu dibawa ke rumah sakit." Erine buru-buru menolak tawaran Sadam.


"Tapi..."


"Kau bisa menyuruh Haris saja untuk memanggil dokter ke sini. Bisa kan?" pangkas Erine.


Sadam terdiam sejenak. Dia berpikir usulan Erine adalah ide bagus.


"Kau benar. Kalau begitu aku akan menyuruh Haris untuk memanggilkan dokter ke sini," kata Sadam sembari beranjak dari hadapan Erine.


Kini Erine bisa mendengus lega. Ia duduk dan memperhatikan Sadam yang berjalan pelan dengan tongkatnya. Lelaki itu terlihat sudah mulai terbiasa. Langkah kaki Sadam tidak selambat biasanya.


Erine segera mengambil ponsel. Memberitahukan Haris perihal memanggil dokter ke rumah. Erine yakin Haris bisa mengatasi itu dengan baik.


Ketika sudah keluar dari kamar, Sadam memanggil Haris. Sekretarisnya itu segera datang.


"Ada apa, Tuan?" tanya Haris.


"Panggilkan dokter untuk memeriksa istriku. Sepertinya dia mengalami demam yang cukup parah," perintah Sadam.


"Baik, Tuan!" sahut Haris. Dia bersikap patuh seperti biasanya. Padahal kenyataannya, Haris sudah memanggil dokter saat mendapat pesan Erine.


Tak lama kemudian dokter datang. Haris menjadi orang pertama yang menemui dokter itu. Dia terpaksa melakukan kesepakatan pada sang dokter untuk berbohong. Sampai akhirnya dokter tersebut mau bekerjasama.

__ADS_1


Setelah mengobrol dengan Haris, dokter bernama Anwar itu mendatangi kamar Sadam dan Erine. Ia memberitahu Sadam bahwa Erine sakit karena kelelahan dan stress.


Sadam percaya saja pada apa yang disebutkan Anwar. "Terima kasih, Dok. Aku akan menjaga istriku dengan baik dan memberi obat padanya tepat waktu," ujarnya.


"Iya, sama-sama." Anwar menjawab sambil tersenyum kecut. Dia menatap ke arah Haris. Sebab dirinya lupa mendiskusikan perihal obat kepada lelaki itu.


"Tenang saja. Aku bisa mengatasi itu. Berikan saja obat apapun." Haris bicara tanpa suara. Namun pergerakan mulutnya dapat dibaca oleh Anwar dengan jelas.


Dokter tersebut lantas setuju. Ia segera memberikan obat pada Sadam. Berlagak seperti benar-benar memberikan resep obat untuk orang yang sakit.


Erine yang melihat sebenarnya khawatir. Dia takut akan dipaksa Sadam meminum obat. Erine hanya berharap Haris benar-benar bisa mengatasinya dengan baik.


Setelah Anwar pergi, Sadam duduk di samping Erine. Ia menyuruh gadis itu beristirahat.


"Menurutku jalan terbaik adalah menemukan pendonor mata untukmu," ucap Erine. 'Dan pendonor jantung tentunya...' tambahnya dalam hati.


"Kalau aku ditakdirkan untuk melihat lagi, maka aku yakin pasti bisa mendapatkannya," kata Sadam seraya tersenyum tipis. Ia segera membiarkan Erine beristirahat. Lelaki itu merebahkan diri ke sebelah Erine. Membiarkan gadis tersebut menyandarkan kepala ke bahunya.


"Kau pasti mendapatkannya, Sadam. Kau lelaki yang sangat baik," ungkap Erine. Sungguh, dia merasa sangat nyaman karena berada dalam dekapan Sadam.


Saat Sadam lengah, Haris diam-diam masuk ke kamar. Ia membawa permen berbentuk obat untuk ditukarkan dengan obat yang tadi diresepkan dokter.


Mata Erine membulat ketika menyaksikan kedatangan Haris. Ia tak lupa sesekali menoleh ke arah Sadam. Memastikan lelaki tersebut tidak menyadari tindakan Haris.

__ADS_1


Haris berhasil menukarkan obat Erine dengan permen. Namun kala hendak pergi, sikunya tak sengaja menyenggol gelas berisi air. Gelas kaca itu sontak berbunyi. Sebuah keberuntungan bagi Haris karena gelasnya tidak jatuh ke lantai.


"Apa itu?" Sadam langsung merubah posisi menjadi duduk.


"Bukan apa-apa. Aku tadi ingin minum. Tapi tidak mau merepotkanmu." Erine langsung angkat suara untuk melindungi Haris.


Saat itulah Haris melangkah laju menuju pintu. Ia berusaha keras agar keberadaannya tidak ketahuan oleh Sadam.


"Kenapa kau tidak bilang? Aku kan bisa mengambilkan minuman untukmu," ujar Sadam yang segera turun dari ranjang. Ia ingin mengambilkan minuman untuk sang istri.


"Tidak perlu, Sayang. Aku bisa mengambilnya sendiri. Aku bisa kok. Tadi aku hanya terlalu malas bergerak." Erine nampaknya sudah mahir membuat alasan palsu.


"Kau yakin?" Sadam meragu.


"Iya. Berbaringlah lagi," saran Erine sambil menuntun Sadam kembali telentang. Dia mengambil gelas berisi minuman dan meminumnya. Erine juga tak lupa menawarkan Sadam untuk minum. Selanjutnya mereka kembali tiduran sembari mendekap satu sama lain.


Beberapa jam berlalu. Erine menjadi orang pertama yang bangun. Atensinya langsung tertuju ke ponsel yang tampak menyala dan bergetar.


Buru-buru Erine mengambil ponsel. Dia menemukan ada panggilan tak terjawab dari rumah sakit.


"Ayah!" gumam Erine. Dia bergegas beranjak dari kamar. Dirinya memilih balkon sebagai tempat aman. Di sana Erine menelepon balik pihak rumah sakit. Ia takut ada hal buruk yang terjadi pada ayahnya.


Di sisi lain, Sadam baru saja terbangun. Dahinya berkerut saat tak menemukan Erine di sampingnya.

__ADS_1


__ADS_2