
"Maafkan aku kalau begitu..." Sadam mengalah. Dia tak bisa memaksa Erine yang bersikeras tidak mau dibantu.
"Keluar!" perintah Erine sembari menunjuk ke arah pintu. Namun karena buta, dia menunjuk ke arah yang salah. Hal itu membuat Sadam tersenyum geli. Lelaki tersebut berusaha menahan tawa.
'Walau marah, dia manis sekali,' batin Sadam. Dia segera melangkah keluar dari rumah Erine.
Namun bukannya pulang, Sadam malah duduk di teras. Dia berpikir akan mengetuk pintu.
Sementara itu, Erine mendengus lega. Dia duduk ke sofa. Dirinya jadi teringat tentang Sadam. Mengingat parfum dari lelaki yang bicara dengannya tadi memiliki aroma serupa.
"Aku merindukannya..." gumam Erine. Jujur saja, hanya Sadam yang bisa membuatnya tersenyum saat sendirian. Mengingat lelaki yang dia cintai rasanya begitu indah.
Tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu. Erine segera bangkit dari sofa dan membukakan pintu.
"Siapa ya?" tanya Erine.
"Ekhem! Ini aku," sahut Sadam.
"Kau lagi! Bukan kah aku sudah menyuruhmu pergi?" timpal Erine dengan dahi berkerut.
"Aku tahu. Tapi kau hanya menyuruhku keluar dari rumah bukan? Aku tadi sudah masuk tanpa sepengetahuanmu. Jadi sekarang aku memperbaikinya," jelas Sadam.
__ADS_1
"Kau bodoh atau apa? Pokoknya aku tidak menerimamu sama sekali! Pergilah!" Erine tetap tidak terima. Dia bahkan menutup pintu dengan bantingan.
Sadam mendengus kasar. Dia akan bersabar dan akan memahami Erine. Meskipun begitu, dirinya tidak akan menyerah.
Ponsel Sadam berdering. Dia mendapat panggilan terkait pekerjaan. Untuk sementara, Sadam akan pergi meninggalkan Erine. Ia tak lupa membayar seseorang untuk menjaga perempuan tersebut. Sadam sampai menyewa dua bodyguard untuk menjaga Erine secara diam-diam.
...***...
Waktu menunjukkan jam sembilan malam. Bukannya pulang, Sadam justru pergi ke rumah Erine. Mobilnya perlahan berhenti di seberang jalan perempuan itu.
Rumah Erine tampak sepi. Perempuan tersebut tentu akan berdiam di rumah saat malam.
Bersamaan dengan itu, Nadia datang. Dia berhasil memergoki Sadam yang terlihat berusaha membuka jendela. Suasana agak gelap, sehingga Nadia tidak bisa melihat jelas wajah Sadam.
"Hei! Siapa di sana? Apa yang kau lakukan?!" tegur Nadia seraya berjalan mendekati Sadam. Matanya membulat, apalagi ketika melihat jendela sudah dibuka oleh Sadam.
"Ma-maling! Maling!" Nadia sontak berteriak.
Sadam panik sekali. Dia bergegas menghampiri Nadia dan menutup mulut gadis itu rapat-rapat.
"Mmph!" gumam Nadia sambil mendelik ke arah Sadam.
__ADS_1
"Jangan salah paham! Aku adalah Sadam! Aku sangat mengenal Erine!" ungkap Sadam. Perlahan dia melepaskan tangannya dari mulut Erine.
Nadia tampak kaget. Dia menatap Sadam dengan seksama. "Ka-kau Sadam?" tanyanya.
"Iya. Apa kau mengenalku?" tanggap Sadam.
"Ya, Kak Erine beberapa kali bercerita tentangmu," sahut Nadia.
"Benarkah? Dia bilang apa?" Sadam jadi antusias.
"Kak Erine memberitahuku agar menjauhkanmu darinya," jawab Nadia.
Sadam yang tadinya merasa bersemangat, otomatis kecewa. Dia terdiam seribu bahasa.
"Sebaiknya kau pergi! Aku tidak mau Kak Erine menderita karenamu lagi," tukas Nadia.
"Kau salah! Kedatanganku ke sini adalah untuk membawanya kembali. Aku mencintainya. Aku ingin dia benar-benar menjadi istriku," ungkap Sadam bersungguh-sungguh.
Nadia mengerutkan dahi. "Benarkah itu? Kau tidak peduli meski dia buta?"
Sadam mengangguk yakin. "Aku akan lakukan apapun agar bisa bersama Erine lagi," ujarnya.
__ADS_1