
Setelah berpikir lama, Haris tak punya pilihan selain memberitahukan semuanya pada Sadam.
"Baiklah, kalau begitu. Aku akan beritahu Tuan Sadam kalau kalian menunggu," cetus Haris. Lalu beranjak dari hadapan Saka dan keluarganya.
Saka tersenyum sinis menyaksikan gelagat Haris. Dia bersikap seolah mengetahui segala kebohongan sekretaris pribadi adik tirinya itu.
Haris segera menghubungi Erine. Namun gadis itu tidak mengangkat teleponnya.
Karena Erine tak kunjung menjawab, Haris mencoba menelepon Sadam. Akan tetapi dia tetap tidak mendapat jawaban.
"Kau kenapa, Erine? Jangan bilang kau jatuh cinta pada Sadam. Lalu kalian terbuai dan tidur bersama," gumam Haris menduga. Dia terus berusaha menghubungi Erine dan Sadam.
Sementara itu, dua orang yang sedang dicari-cari Haris sedang asyik tertidur. Keduanya tidur sangat lelap sambil berpelukan satu sama lain. Sepertinya bunyi dering ponsel bukanlah gangguan bagi mereka.
Orang pertama yang terbangun adalah Erine. Dia melepas pelukan Sadam. Erine segera mengambil ponsel saat benda pipih itu berdering. Ia bergegas turun dari ranjang dan mengambil ponsel yang tersimpan dalam tas.
"Iya, Haris? Ada apa?" tanya Erine.
"Kau kemana saja, hah?! Apa Sadam bersamamu? Kalian sedang apa?" cecar Haris.
__ADS_1
Erine melirik ke arah Sadam. Lelaki itu tampak masih terlelap.
"Kau berpikir apa? Kami hanya tak sengaja tertidur. Sadam masih tidur sekarang," ujar Erine pelan.
"Oh... Jadi itu alasan kau tidak menjawab teleponku sejak tadi?"
"Ya, aku baru saja terbangun. Memangnya ada apa? Kau terdengar sangat kesal. Apa ada masalah serius?"
"Ini sangat serius. Saka dan keluarga Sadam bersikeras untuk menunggu kepulangan kalian. Aku rasa Sadam atau pun kau harus menghadapi mereka. Kau harus bisa meyakinkan Sadam, Erine." Haris menjelaskan panjang lebar dari seberang telepon.
"Bagaimana caranya? Aku tidak yakin bisa melakukannya. Lagi pula Sadam juga tak tahu kalau kau menyebutku melakukan operasi plastik pada si Saka itu," sahut Erine. Merasa tak percaya diri.
"Pe-perasaanku? Apa maksudmu?" Erine tak mengerti.
"Kita tak punya waktu untuk membicarakan hal ini sekarang. Yang pasti kau harus meyakinkan Sadam pergi menemui keluarganya."
Erine mendengus kasar. "Baiklah. Aku akan berusaha," ucapnya. Pembicaraan Erine dan Haris berakhir disitu.
Erine segera menghampiri Sadam. Ia duduk di dekat lelaki tersebut. Dirinya terpaku memandangi Sadam yang masih terpejam.
__ADS_1
Perlahan Erine belai kepala Sadam. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia lantas memegangi dadanya. Erine juga tiba-tiba teringat dengan apa yang disinggung Haris tadi mengenai perasaannya.
'Apa ini yang namanya jatuh cinta? Aku benar-benar sudah terlalu terbiasa berada di sisi Sadam. Tadi saja aku bersikap seperti bukan diriku. Kenapa aku merasa sangat bahagia saat bersamanya?' batin Erine. Dia ingin menampik tentang perasaan yang dirasakannya. Tetapi sepertinya tidak bisa, karena perasaan aneh yang dirasakan Erine sudah membuktikan segalanya.
Bersamaan dengan itu, Sadam terbangun. Dia tentu tidak langsung menyadari Erine ada di sisinya. Lelaki itu hanya meraba-raba sisi di sebelahnya. Saat itulah Sadam sadar Erine tidak ada.
"Aku di sini." Erine yang paham Sadam sedang mencarinya, segera memberi sinyal. Yaitu dengan cara memberikan sentuhan ke tangan Sadam.
"Kau bangun lebih dulu? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya Sadam.
"Kau tertidur sangat lelap," tanggap Erine.
"Lalu, apa kau duduk di sana sambil memandangiku sampai terbangun?"
"Mungkin..." Erine tersenyum malu.
"Ah... Kau pasti sangat mencintaiku, Aylin..." ucap Sadam.
Senyuman Erine seketika pudar saat Sadam memanggilnya dengan sebutan Aylin. Akibat terbawa suasana, Erine terkadang lupa bahwa dirinya sedang berperan sebagai Aylin.
__ADS_1