Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 34 - Bujukan Yang Gagal


__ADS_3

Hening menyelimuti suasana dalam beberapa saat. Haris duduk di depan Sadam dengan rapi.


"Tuan, aku sarankan agar kau tidak memberikn posisi CEO sementara pada Nona Aylin," tutur Haris.


"Kenapa?" Sadam mengerutkan dahi.


"Aku yakin dia pasti juga akan kesulitan untuk mengelola restorannya," sahut Haris. "Aku janji akan secepatnya mencarikan pendonor mata yang cocok untukmu. Aku kebetulan sudah mengurus semuanya pada dokter terbaik di negeri ini," sambungnya.


"Lalu bagaimana dengan keadaan perusahaan? Aku khawatir Saka akan semena-mena lagi. Perusahaan ini bisa jatuh kalau berada di tangannya."


"Aku tahu. Tapi biarkan aku yang mengurus semuanya. Aku pastikan segalanya berjalan seperti yang kau perintahkan."


Erine yang ada di sana terlihat menganggukkan kepala beberapa kali. Karena tidak memiliki pengalaman memimpin perusahaan, dia tentu berharap bujukan Haris berhasil. Jujur saja, pendidikan Erine hanya sebatas lulus SMA.

__ADS_1


"Tapi aku terlanjur mengatakan semuanya tadi di depan banyak orang. Aku ingin melihat bagaimana Aylin memimpin perusahaan. Lagi pula dia tidak sendiri. Aku akan membantunya!" Sadam sepertinya bersikeras dengan keputusannya.


Haris dan Erine sontak bertukar pandang. Haris memberikan kode gelengan kepala. Pertanda usahanya untuk membujuk Sadam sepertinya berujung kegagalan.


"Baiklah jika itu keputusanmu, Tuan..." Haris akhirnya hanya bisa menurut.


Sementara Erine tampak mendengus kasar. Ia tidak tahu bagaimana jadinya dirinya memimpin perusahaan nanti. Erine benar-benar takut. Kalau semua orang tahu kalau dia bukanlah Aylin, maka kemungkinan dirinya bisa saja dimasukkan ke penjara.


"Antar aku ke ruang kerjaku. Setelah itu bawa istriku untuk berkeliling!" titah Sadam.


"Lihat apa yang terjadi sekarang? Bagaimana kita bisa mengatasinya? Kalau semua orang tahu aku bukanlah Aylin, kita bisa di penjara kan?" tukas Erine. Dia berjalan bolak-balik tak karuan. Sambil gigit jari karena begitu kebingungan.


"Tenanglah. Aku akan secepatnya menemukan jalan keluar," kata Haris seraya memegang pundak Erine. Berusaha menenangkan gadis tersebut.

__ADS_1


"Jalan keluar kau bilang? Bagaimana caranya? Mengatasi masalah Saka saja kau belum bisa menuntaskannya? Sekarang kita harus menghadapi masalah lebih besar! Harusnya sejak awal aku tidak menerima tawaranmu!" Erine menghentakkan salah satu kaki. Matanya juga terlihat sudah berkaca-kaca.


"Erine, tenanglah..." kini Haris memegangi kedua bahu Erine.


"Bagaimana aku bisa tenang? Aku disuruh menggantikan posisi CEO, Ris! Ijazahku saja hanya sebatas SMA!"


"Tenanglah! Kumohon!!" Haris terpaksa memekik karena sedari tadi Erine tak berhenti mengeluh. Gadis itu seketika terdiam. Menatap Haris dalam keadaan bibir bergetar.


"Kita bisa mengatasi ini, oke? Percayalah padaku. Karena semua ini adalah rencanaku, maka biarkan aku yang mengatasinya. Jika sesuatu terjadi padamu, maka aku akan bertanggung jawab. Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu terlibat. Tapi aku janji akan membayar semua kerepotanmu ini dengan bayaran tinggi." Haris mengguncang tubuh Erine.


Erine menatap serius pada Haris. Dia terdiam dan akhirnya memutuskan untuk percaya pada lelaki tersebut.


"Baiklah. Aku mempercayaimu..." lirih Erine. "Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanyanya.

__ADS_1


"Sakit. Aku ingin kau berpura-pura sakit. Jadi selama itu, kau bisa bersiap. Di sisi lain, aku akan berusaha lebih keras menemukan pendonor jantung untuk Sadam. Sehingga kita tak perlu lelah lagi dengan semua sandiwara ini," cetus Haris yang tampak meyakinkan. Erine lantas menganggukkan kepala.


__ADS_2