
Semua karyawan terlihat khawatir saat melihat Sadam. Mereka tentu ragu bagaimana jadinya perkembangan perusahaan jika Sadam seperti itu.
Sadam tentu tahu apa yang akan dipikirkan orang terhadapnya. Dia juga sudah memikirkan cara untuk menghadapi semuanya. Sadam berniat akan membiarkan Erine menggantikannya untuk menjadi CEO sementara.
Sebenarnya Sadam ragu untuk melanjutkan rencananya. Mengingat dia sudah mendengar pembicaraan aneh di antara Erine dan Haris tadi pagi. Namun setelah dipikir-pikir, Sadam merasa harus tetap melakukan rencananya karena sudah terlanjur berniat. Dengan rencana itu Sadam juga ingin melihat apakah Erine dan Haris bisa dipercaya.
Kini Sadam, Erine, Haris dan beberapa karyawan penting berada di ruang rapat. Kala itu Sadam dibiarkan untuk berbicara.
Selain menatap ke arah Sadam, orang-orang juga terus memperhatikan Erine. Sebab wajah gadis itu sangat asing bagi mereka. Erine kembali diselimuti perasaan gugup.
'Bagaimana ini? Seharusnya aku tidak ikut sejak awal.' Erine mengirim pesan pada Haris.
'Sejak awal Sadam sudah mengajakmu. Coba kau tanya pada Sadam, apakah kau bisa pergi.' Haris membalas pesan Erine.
Erine mengangguk. Dia segera melakukan saran yang diberikan Haris.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya aku pergi saja. Aku akan menunggu di luar," bisik Erine sembari berdiri. Akan tetapi Sadam sigap memegang lengannya.
"Jangan! Salah satu kita ke perusahaan ini karena dirimu," ujar Sadam.
Mata Erine terbelalak. "Apa maksudmu karena diriku?" tanyanya. Menuntut jawaban.
"Duduk dan dengarkanlah apa yang akan kusampaikan," ujar Sadam seraya tersenyum tipis.
Dengan terpaksa, Erine menuruti perkataan Sadam. Dia hanya bisa menunjukkan kekhawatirannya dengan menatap Haris. Berharap lelaki itu bisa membantunya jika ada kekacauan tak terduga.
"Aku tahu keadaanku sekarang pasti mengejutkan bagi kalian. Aku yakin kalian juga pasti meragukanku. Apakah orang buta sepertiku masih bisa memimpin perusahaan? Dalam keadaan begini aku juga bisa saja tertipu bukan? Oleh karena itu aku ingin membiarkan orang kepercayaanku menggantikan posisiku sebagai CEO perusahaan. Yaitu istriku, Aylin!" ucap Sadam sambil meraih tangan Erine. Menyuruh gadis itu untuk berdiri.
Panik! Itulah yang bisa dirasakan Erine. Bahkan Haris sekali pun. Keduanya tentu tak menduga kalau Sadam akan membuat keputusan begitu. Mengingat perusahaan masih bisa berjalan dengan baik atas kendali Haris selaku sekretaris Sadam.
Semua karyawan yang ada di ruang rapat terlihat saling berbisik. Mereka tentu membicarakan perihal wajah istrinya Sadam yang sangat berbeda. Meskipun begitu, tidak ada satu pun dari mereka yang berani bertanya. Mereka hanya akan mempercayai keputusan Sadam.
__ADS_1
Haris mendengus lega saat melihat tidak ada karyawan yang melakukan protes. Sungguh, dia akan kebingungan menjelaskan jika ada seseorang yang bertanya mengenai perubahan wajah Aylin. Haris benar-benar berusaha tidak mengungkap kebohongan itu pada Sadam.
"Kau bisa ucapkan sesuatu, Sayang!" saran Sadam.
"Tapi aku tidak tahu harus bicara apa? Ini begitu mendadak bagiku," sahut Erine.
Sadan terdiam. Itu karena dia sangat mengenal bahwa Aylin tidak hanya ahli memasak, tetapi public speakingnya juga sangat bagus. Sadam tahu istrinya tidak akan panik begitu walau disuruh bicara di depan orang banyak secara mendadak. Sekarang kecurigaan Sadam terhadap Erine semakin bertambah.
"Maaf sebelumnya. Sebenarnya aku melakukan ini tanpa sepengetahuan istriku. Aku rasa dia butuh waktu untuk mencerna semuanya," kata Sadam. Berbicara pada semua karyawan. Selanjutnya, dia mempersilahkan semua orang untuk meninggalkan ruang rapat.
"Tuan, bolehkah aku bicara berdua denganmu?" pinta Haris lembut.
"Ya, tentu saja," tanggap Sadam.
"Kalau begitu aku akan menyuruhmu meninggalkan kita sebentar," ujar Haris.
__ADS_1
Erine yang mendengar, hampir beranjak pergi. Namun Haris dengan cepat menahan kepergiannya. Dia menyuruh Erine tetap bersamanya dengan bahasa tubuh. Erine lantas mengangguk mengerti.