
Sadam perlahan merubah posisi menjadi duduk. Tanpa melepas pegangan tangannya dari Erine.
Saat itulah Erine tersadar. Mulai sekarang dia harus fokus. Jangan sampai perasaan cintanya untuk Sadam menghancurkan rencana yang telah tersusun rapi. Erine segera membicarakan apa yang harus dikatakan.
"Sayang, tadi Haris menelepon. Dia memberitahu kalau Saka dan yang lain akan menunggu kita pulang," ungkap Erine.
Wajah Sadam yang tadinya berseri, pudar begitu saja. "Aku sudah menduga," ucapnya.
"Lalu bagaimana? Haruskah kita pulang sekarang?" tanya Erine.
"Entahlah. Aku benar-benar belum siap, Aylin. Aku belum siap menghadapi dunia dalam keadaan begini," kata Sadam. Membicarakan perihal kebutaan yang dideritanya.
"Sadam..." Erine memeluk dari samping. 'Aku harus bisa meyakinkannya,' batinnya bertekad.
"Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi kau harus tahu. Ada aku di sisimu. Kau harus berani. Cepat atau lambat, Saka dan yang lain pasti akan tahu dengan keadaanmu sekarang," tutur Erine. Berupaya meyakinkan Sadam.
Sadam tidak mengatakan apapun. Dia hanya terdiam. Seolah memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Kita hadapi semuanya bersama. Apapun yang terjadi, aku ingin melihatmu tetap menjadi diri sendiri. Menjadi Sadam yang kukenal." Entah dari mana Erine merangkai kata itu, tetapi perkataannya tersebut berhasil mempengaruhi Sadam. Semuanya dapat terlihat dari senyuman yang mengembang di wajah Sadam.
Sayangnya senyuman Sadam tidak berlangsung lama. Lelaki itu tiba-tiba memegangi kepala sambil meringiskan wajah.
"Sadam!" Erine sontak khawatir. "Kau baik-baik saja kan?" tanyanya.
"Ingatanku mendadak mengingat perihal kecelakaan itu lagi. Tapi sesuatu yang kuingat itu masih sulit untuk kuingat," ujar Sadam sembari menahan sakit.
"Kalau begitu jangan mengingatnya. Lupakan saja semuanya. Ingatlah hal-hal yang membahagiakan!" seru Erine. Dia memegang dua tangan Sadam sambil menempelkan dahi ke jidat lelaki tersebut.
"Ingatlah betapa bahagianya saat kita menikah. Lalu saat kita berbulan madu di kamar seperti ini," kata Erine. Usahanya sukses menenangkan Sadam. Keduanya lantas saling berpelukan.
"Aku juga. Aku sangat berterima kasih dengan kehadiranmu sekarang," balas Erine bersungguh-sungguh. Sebab tanpa Sadam, dia tidak akan bisa membayar biaya rumah sakit ayahnya.
'Ah, benar! Ayah! Malam ini aku tak bisa menemuinya,' batin Erine. Akibat terlalu menikmati kebersamaannya dengan Sadam, dia bahkan sampai melupakan ayahnya sendiri.
"Ya sudah. Kau sebaiknya istirahat. Kalau kau memang belum siap menemui keluargamu, tidak apa-apa. Masih ada waktu lain." Melihat keadaan Sadam yang tak mendukung, Erine sadar kalau dirinya tidak bisa memaksa. Ia juga tak peduli jika harus kena marah Haris.
__ADS_1
"Tidak. Kita pergi sekarang saja. Haris pasti sangat kesulitan sekarang. Aku sudah banyak merepotkannya," imbuh Sadam.
"Apa kau yakin?" Erine memastikan.
Sadam mengangguk dan tersenyum. Dia dan Erine segera pergi meninggalkan hotel. Mereka pulang dengan menaiki taksi.
Di perjalanan, Erine menghubungi Haris. Dia memberitahukan mengenai kedatangannya dan Sadam.
"Kau berhasil, Erine! Terima kasih!" ujar Haris dari seberang telepon.
"Ya." Erine menjawab singkat sambil melirik Sadam. Dia tentu harus berhati-hati karena sedang duduk di sebelah lelaki itu.
"Apa teleponnya sudah tersambung?" tanya Sadam.
"Iya. Ini!" Erine segera memberikan ponselnya pada Sadam.
"Haris, apa Saka masih menunggu?" tanya Sadam.
__ADS_1
"Ya! Mereka keras kepala seperti biasa. Mereka bahkan berniat akan menginap jika kau tak kunjung pulang," jelas Haris.
Sadam mendengus kasar. Mimik wajahnya begitu serius. Dia mencoba memikirkan cara untuk menghadapi musuh terbesarnya. Yaitu Saka. Orang yang tidak lain adalah kakak tirinya sendiri.