
Haris memasang tatapan seriusnya. Tepat ke arah Erine.
"Kenapa kau menatapku begitu?" tukas Erine dengan dahi yang berkerut.
"Aku minta maaf sebelumnya. Tapi aku tadi tak sengaja melihat apa yang kau lakukan dengan Sadam di kamar," ungkap Haris.
Mata Erine membulat sempurna. Dia tertangkap basah.
"Maksudnya kau melihatku dan Sadam sedang..." Erine enggan mengakhiri kalimatnya.
"Ya, begitulah. Kau tidak terlihat melawan sama sekali. Jujurlah! Kau jatuh cinta dengan Sadam bukan?" tanya Haris.
Erine menghela nafas sambil menundukkan kepala. Ia sebenarnya juga frustasi dengan perasaannya sendiri.
"Aku tidak tahu bagaimana awal mula semua ini terjadi. Awalnya aku berusaha terus menyangkalnya. Tetapi perasaan begitu sulit dibohongi." Erine mengakui secara tidak langsung bahwa dirinya memang mencintai Sadam.
__ADS_1
"Aku akan secepatnya menemukan pendonor jantung untuk Sadam. Dengan begitu, kau tidak perlu berlama-lama lagi di sisi Sadam. Berusahalah menjaga dirimu sendiri. Cinta terkadang bisa mengalahkan segalanya. Bahkan logika sekali pun," pungkas Haris.
Tanpa sepengetahuan Erine dan Haris, Sadam sejak tadi mendengarkan. Dia sudah mendengar semenjak mereka membicarakan masalah perasaan Erine.
Dahi Sadam sontak berkerut. Selama ini dia memang sudah menaruh curiga dengan sosok Erine. Bahkan sejak awal bersama gadis tersebut. Setelah mendengar pembicaraan Haris dan Erine, Sadam semakin yakin kalau ada yang berbeda dengan istrinya. Selain itu, setidaknya dia tahu bahwa sekretarisnya kemungkinan juga melakukan sesuatu. Sadam berniat akan mencari tahu sendiri. Kemungkinan untuk sementara Sadam akan menyimpan kecurigaannya seorang diri.
Merasa yakin Haris dan Erine sudah selesai bicara, Sadam bukalah pintu kamar lebih lebar. Ia keluar dengan penampilan rapi karena akan pergi ke perusahaan.
"Sayang!" Erine segera menghampiri Sadam.
"Kau sudah datang rupanya," kata Sadam. Menyapa Haris. Selanjutnya mereka segera pergi meninggalkan rumah. Kini mereka telah berada di mobil.
"Tuan? Apa Tuan yakin ingin pergi ke perusahaan?" tanya Haris.
"Ya, tentu saja. Semua karyawan harus tahu bagaimana keadaanku. Aku juga tidak mau terus merepotkanmu," sahut Sadam.
__ADS_1
Dalam perjalanan, Sadam tenggelam dalam pikirannya sendiri. Setelah dipikir-pikir, terutama semenjak mengalami kebutaan, dia merasa Aylin sangat berubah. Bahkan aroma badan gadis tersebut juga berbeda. Namun Sadam yang mempercayai Haris sepenuhnya jadi mengabaikan semua itu.
Namun sekarang semuanya sudah berubah. Sadam bukanlah tipe orang yang mudah dibodohi. Bahkan saat dirinya menderita kebutaan sekali pun.
Jujur saja, pembicaraan di antara Haris dan Erine tadi memang masih ambigu. Akan tetapi tetap saja aneh bagi Sadam. Tentu aneh mendengar istrinya sendiri yang mengaku jatuh cinta kepadanya? Belum lagi perkataan Haris yang mengatakan, kalau dirinya akan secepatnya menemukan pendonor jantung agar Erine tak perlu berlama-lama di sisi Sadam.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang Haris dan Aylin sembunyikan dariku,' batin Sadam. Dia sangat curiga sekaligus penasaran. Namun bingung harus meminta bantuan siapa. Mengingat hanya Haris dan Aylin-lah orang yang bisa dipercayainya.
'Aku harus memikirkan cara untuk mencari tahu.' Sadam bertekad dalam hati.
Selang sekian menit, mobil berhenti. Sadam, Haris, dan Erine segera keluar dan memasuki area perusahaan.
Seluruh karyawan perusahaan sudah menyambut kedatangan Sadam di lobi. Semuanya sangat terkejut menyaksikan keadaan CEO yang sudah buta. Sosok Sadam sekarang menjadi pusat perhatian.
Erine menatap Sadam dengan rasa cemas. Dia menggenggam jari-jemari lelaki itu. "Sayang... Semua karyawanmu menyambutmu. Mereka sekarang menatapmu," ungkapnya.
__ADS_1
Sadam tersenyum simpul. Dia berkata, "Hai, semuanya! Kalian pasti terkejut melihat keadaanku sekarang. Tapi beginilah aku. Dan aku akan kembali!"