
Erine menceritakan segalanya mengenai ayahnya. Dia juga ingin mengajak Sadam bertemu dengan Drajat hari itu juga. Erine terpaksa mengaku kasihan karena masih berperan sebagai Aylin.
"Aku tidak sabar bertemu dengannya," ungkap Sadam.
"Nanti sore kita bisa bertemu dengannya," sahut Erine. Dia yang tak bisa menahan diri memberikan kecupan singkat ke pipi Sadam. Lelaki itu otomatis tersenyum. Ia sigap memegangi wajah Erine.
Dengan cepat Sadam mengecup singkat bibir Erine. Akan tetapi karena kebutaannya, dia jadi tidak sengaja mencium hidung Erine.
"Sayang!" seru Erine yang langsung tergelak.
"Astaga, Sayang. Kenapa bibirmu runcing begitu?" ujar Sadam bercanda. Ia tertawa bersama Erine.
"Enggak. Kau salah sasaran," terang Erine yang masih tergelak.
"Benarkah? Aku kira itu bibirmu," ucap Sadam. "Kalau begitu, bisakah kau membenarkannya?" pintanya.
__ADS_1
Erine tersenyum senang. Dia memegang wajah Sadan dengan dua tangan. Lalu memberikan ciuman singkat ke bibir lelaki tersebut. Sungguh, keduanya menjadi sangat mesra seperti pasangan yang baru menikah.
Dari kejauhan, sejak tadi Haris mengamati. Dia merasa aneh dengan sikap Erine akhir-akhir ini. Perempuan itu seolah menutupi sesuatu darinya.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" gumam Haris. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk bicara dengan Erine nanti.
Kini Sadam dan Erine duduk di teras belakang bersama. Erine beranjak sebentar karena ingin membuatkan Sadam kopi ke dapur. Saat itulah Haris menghampiri Erine.
"Aku lihat kau dan Sadam semakin mesra. Apa ada sesuatu yang terjadi?" tukas Haris dari belakang.
"Ti-tidak ada. Hubunganku dan Sadam hanya semakin membaik. Itu saja," jelas Erine terbata.
"Erine! Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Apa kau lupa? Tanpaku kau tidak akan bisa berada di posisimu sekarang!" timpal Haris.
Bersamaan dengan itu, Sadam beranjak dari teras belakang. Dia hendak membantu istrinya di dapur. Dengan langkah pelan Sadam melangkah. Ia harus berhenti ketika mendengar pembicaraan Haris dan Erine.
__ADS_1
"Baiklah! Aku mengaku. Aku dan Sadam melakukan hubungan intim," ungkap Erine.
Mata Haris membulat sempurna. Sedangkan Sadam yang menguping, hanya heran kenap istrinya berucap begitu. Seolah hubungan intim yang terjadi adalah sebuah kesalahan.
"Apa? Bukankah kau mengaku sedang pendarahan? Kenapa kau membiarkan itu terjadi?" Perdebatan Haris dan Erine berlanjut.
"Awalnya begitu. Tapi aku tidak bisa! Aku mencintai Sadam!" Erine bicara sambil memegangi dadanya. Ia bersungguh-sungguh.
"Kau gila! Harusnya kau sadar tentang siapa dirimu! Kau itu Erine dan bukan Aylin! Suatu hari Sadam akan tahu mengenai jati dirimu. Dia semakin membenci kita kalau mengetahui kita juga menyembunyikan fakta tentang kematian Aylin!" kata Haris dengan penuh amarah. Ucapannya memang tidak begitu lantang. Namun Sadam dapat mendengarnya dengan jelas.
Mendengar perkataan Haris barusan, Sadam memegangi dadanya. Dia tentu merasa syok. Segala dugaan bergejolak dalam kepalanya. Sadam mulai merasakan sesak yang hebat di dada.
Alhasil Sadam tak mampu menopang tubuhnya lagi. Dia ambruk ke lantai. Tongkat yang dipegangnya terjatuh dan terhempas.
Erine dan Haris tentu bisa mendengar suara dari Sadam. Keduanya buru-buru mendatangi sumber suara. Betapa terkejutnya mereka tatkala menyaksikan Sadam tak sadarkan diri di lantai.
__ADS_1
"Tuan!" pekik Haris yang bergegas menolong Sadam. Dia dan Erine langsung membawa Sadam ke rumah sakit saat itu juga.