
Sikap Erine begitu dingin. Membuat Sadam kesulitan untuk membuat pendekatan. Lelaki itu lantas terpikir mencoba membicarakan perihal dirinya.
'Aku ingin tahu reaksi Erine saat aku menyebut namaku,' batin Sadam. Ia membuatkan teh untuk Erine sebagai awal pendekatannya.
Erine tampak duduk di sofa sambil memegang buku khusus tunanetra. Perempuan itu sepertinya sudah cukup mahir membaca dengan huruf braille.
"Aku membuatkan teh untukmu," ujar Sadam sembari meletakkan teh ke meja.
"Seharusnya kau sudah pulang sekarang. Tapi terima kasih," tanggap Erine.
"Sama-sama." Sadam duduk di sebelah Erine.
Dahi Erine berkerut. Karena Sadam duduk di sebelahnya, dia dapat merasakan pergerakan lelaki tersebut.
"Ada apa? Kenapa kau duduk di sampingku?" tanya Erine.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," jawab Sadam.
"Apa?" balas Erine.
"Ini mengenai Sadam," ungkap Sadam.
__ADS_1
Mata Erine terbelalak. Jelas dia kaget saat mendengar nama Sadam disebutkan.
"Bagaimana kau tahu tentang Sadam? Apa kau mengenalnya? Atau Nadia yang bercerita padamu?" cecar Erine yang perlahan memutar tubuhnya menghadap Sadam.
Sadam mendengus kasar. Dia hendak menjawab, akan tetapi Erine terlanjur bicara lebih dulu.
"Tidak! Jangan membicarakannya lagi. Aku tak mau kita membicarakan perihal lelaki itu!" tegas Erine sambil bangkit dari tempat duduk. Ia buru-buru beranjak. Namun karena tergesa-gesa, Erine tak sengaja tersandung kaki meja dan terjatuh.
Sadam sigap menangkap tubuh Erine. Hingga perempuan itu tidak terjatuh ke lantai. Kini Erine berada dalam pelukan Sadam. Saat itulah lagi-lagi dirinya mencium aroma parfum khas lelaki tersebut.
Kecurigaan Erine yang tadinya pudar, sekarang muncul lagi. Terlebih sejak awal datang, Sadam bersikap sangat mencurigakan.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Sadam.
Sadam menatap lekat Erine. Jujur saja, bersandiwara membuatnya menggila. Apalagi sepertinya Erine sudah curiga. Padahal itu adalah hari pertamanya menemani perempuan tersebut.
Sadam memutuskan berhenti menggunakan suara palsu. Dia bicara dengan suaranya sendiri.
"Menurutmu aku siapa?" ujar Sadam.
Mata Erine membola. Dia kini bisa mendengar suara sebenarnya dari lelaki yang sejak kemarin mengganggu.
__ADS_1
"Sa-sadam?" Erine terbata. Dia memegangi mulutnya karena merasa terkejut.
"Sepertinya aku tidak akan bisa bersandiwara untukmu. Kau sangat mengenaliku dengan baik. Bahkan di keadaanmu yang seperti ini," ucap Sadam panjang lebar.
Erine melangkah mundur untuk menghindar. Air matanya perlahan mulai bercucuran. "Ke-kenapa kau ke sini? Apa kau ingin menuntut balas padaku? Aku benar-benar minta maaf dengan apa yang sudah kulakukan bersama Haris..." isaknya.
Sadam menghampiri Erine. Dia memeluk perempuan itu dengan erat.
"Kau salah jika berpikir begitu! Kedatanganku ke sini adalah untuk membawamu bersamaku," tutur Sadam.
Erine menangis tersedu-sedu dalam dekapan Sadam. "Apa kau tidak membenciku?" tanyanya di sela-sela tangisan.
Sadam menggeleng tegas. Ia juga mulai berderai air mata. "Aku justru merindukanmu... Aku rasa aku sudah jatuh cinta padamu," ungkapnya.
Erine melepas pelukan Sadam. Ia agak kaget mendengar pengakuan lelaki itu.
"Jatuh cinta?" Erine menuntut penjelasan.
"Ya. Meski kau berpura-pura menjadi Aylin, tapi kau tetap menjadi dirimu sendiri. Aku beruntung Haris mengajakmu untuk bekerjasama. Aku tidak seharusnya marah pada kalian, tapi harusnya berterima kasih!" kata Sadam bersungguh-sungguh. Atensinya segera tertuju ke arah perut Erine yang sudah membuncit.
"Dan anak yang ada dalam perutmu, apa dia anakku?" tanya Sadam.
__ADS_1
Erine tersenyum sambil tak berhenti meluruhkan air mata. Dia mengangguk untuk menjawab pertanyaan Sadam. Lelaki itu lantas tersenyum lebar.
Sadam memegang wajah Erine. Ia mencium bibir perempuan tersebut dengan lembut dan penuh ketulusan.