
Haris membulatkan mata tak percaya. Dia juga reflek membuang muka. Lalu buru-buru keluar dan menutup pintu. Haris berusaha keras menutup pintu dengan pelan agar tak ketahuan oleh Sadam maupun Erine.
Usaha Haris sukses besar. Dia pergi tanpa ketahuan Sadam dan Erine. Saat sudah di luar, Haris memegangi dadanya sambil menyandar di depan pintu.
"Erine! Apa-apaan itu..." Haris benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia sekarang semakin yakin bahwa Erine telah jatuh hati pada sosok Sadam.
Haris menggelengkan kepala berulang kali. Dia tidak tahu apakah dirinya harus tenang menerima kenyataan yang terjadi. Karena menurut Haris, perasaan cinta Erine akan memberikan dampak positif serta negatif.
Positifnya, sekarang Erine akan menjaga dan berada di sisi Sadam setulus hati. Namun sisi negatifnya, Erine bisa sakit hati suatu hari nanti. Apalagi ketika Sadam tahu siapa gadis itu yang sebenarnya.
Di dalam kamar, kegiatan Erine dan Sadam semakin intim. Erine memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya saat mulut Sadam bergumul di leher.
Sadam memberikan sentuhan yang begitu lembut. Tetapi sentuhan seperti itulah yang membuat darah di sekujur badan Erine berdesir hebat beberapa kali.
"Eumh..." Erine meremas seprei kasur tatkala Sadam mulai menanggalkan bra-nya. Kemudian segera bermain di antara buah dada Erine.
"Sadam..." lenguh Erine. Kedua kakinya jadi bergerak tak karuan. Sentuhan Sadam benar-benar membuat seluruh badan Erine bergejolak nikmat.
Sadam terkekeh. "Itulah yang aku rindukan darimu, Aylin. Dessahanmu..." desisnya di telinga Erine. Ia mulai meniup serta menempelkan bibirnya di sana.
__ADS_1
Erine membuka lebar matanya saat Sadam menyebut nama Aylin. Hanya dengan mendengar nama itu, Erine bisa sadar diri. Akan tetapi desisan nafas Sadam lagi-lagi membuat Erine terbuai. Terutama ketika jari-jemari lelaki itu mulai bermain nakal menyentuh perutnya.
Perlahan sentuhan Sadam meluncur ke bawah. Erine jelas tahu kemana arah tujuan tangan Sadam.
Erine sigap menahan pergerakan tangan Sadam. Dia kali ini berusaha menyadarkan diri. Semuanya sudah terjadi di luar kendalinya.
"Kenapa?" tanya Sadam.
"Kau pasti lupa kalau aku masih pendarahan," ucap Erine. Perlahan dia mendorong Sadam dan merubah posisi menjadi duduk. Erine segera mengenakan bra dan bajunya kembali.
"Sebaiknya kita lakukan nanti saja. Aku rasa tadi sudah cukup kan?" Erine memperbaiki handuk kimono yang dikenakan Sadam.
"Jujur saja, masih belum!" ungkap Sadam yang merebahkan diri dengan pasrah ke ranjang.
Sadam yang mendengar langsung tepuk jidat. Akibat tergoda dengan Erine, dia jadi lupa dengan apa yang akan dilakukannya hari itu.
"Kau benar! Aku sampai lupa," cetus Sadam.
Erine hanya tertawa kecil. Dia segera memberikan setelan pakaian rapi untuk dikenakan Sadam. Selanjutnya, Erine pamit keluar kamar karena ingin menghubungi Haris.
__ADS_1
Ketika keluar kamar, sosok Haris langsung menyambut. Lelaki itu sejak tadi menunggu dengan duduk di sofa.
"Kau sudah di sini ternyata!" kata Erine sembari menghampiri Haris. Dia terlihat sumringah sekali.
"Suasana hatimu sekarang pasti sedang baik," tukas Haris.
"Awalnya tidak begitu saat Saka tadi datang!" ungkap Erine.
"Apa? Saka datang?" Haris menuntut cerita lebih lanjut.
Erine mengangguk. Dia duduk dan menceritakan mengenai keanehan Saka terhadapnya. Erine juga bercerita kalau dia terpaksa menampar Saka karena lelaki itu nekat memeluknya.
"Kau tidak seharusnya bertindak begitu," tukas Haris.
"Kenapa? Apa maksudmu?" Erine tak mengerti.
"Aku tadi mendatangi apartemen Aylin. Aku menemukan foto ini di sana." Haris menunjukkan foto yang ditemukannya di apartemen Aylin.
Betapa terkejutnya Erine saat melihat foto yang ditunjukkan Haris. Apalagi kalau bukan foto mesra Saka dan Aylin.
__ADS_1
"Apakah ini berarti mereka..." Erine tak kuasa mengakhiri kalimatnya.
Haris yang tahu Erine berpikir ke arah mana, segera mengangguk. "Aku rasa begitu. Tapi foto ini tidak cukup memberikan bukti lebih jelas bagaimana hubungan mereka," jelasnya.