
"Salah tingkah? Tentu tidak!" Erine segera membantah. Dia menyembunyikan wajah merahnya dengan membuang muka.
"Sudah. Aku mau menyiapkan bathubnya. Nanti setelah pendarahanku berhenti, kita pasti bisa berendam bersama," sambung Erine sembari beranjak ke kamar mandi.
Sadam hanya tersenyum tipis. Membiarkan Erine pergi.
Setelah menyiapkan bathub untuk Sadam, Erine membantu lelaki itu berjalan ke kamar mandi. Erine meninggalkan Sadam usai melepaskan pakaian lelaki tersebut.
Kini Erine keluar dari kamar mandi. Dia segera memberitahu Haris mengenai rencana Sadam yang ingin datang ke perusahaan.
"Baiklah. Aku akan segera ke rumah secepatnya. Kita pergi ke perusahaan bersama," kata Haris dari seberang telepon.
Erine mendengus lega. Bersamaan dengan itu, pintu terdengar diketuk. Erine lantas membukanya. Ia menemukan seorang pelayan yang memberitahu bahwa ada tamu.
Dahi Erine berkerut saat mendengar kalau tamu yang datang ingin menemui Aylin.
"Siapa yang datang?" tanya Erine.
__ADS_1
"Tamu itu tidak membiarkanku memberitahu. Katanya temui saja dia langsung," jawab sang pelayan.
Erine jadi gugup. Terlebih Haris tidak sedang bersamanya sekarang. Sadam juga tengah mandi. Erine merasa tidak enak jika harus mendesak Sadam.
Dengan perasaan cemas, Erine temui tamu yang katanya ingin bertemu dengannya. Pupil mata Erine membesar saat tiba di ruang tamu. Dia melihat tamu yang menunggunya adalah Saka.
Erine berhenti melangkah. Dia ingat Haris pernah memberitahunya untuk menjauhi Saka sebisa mungkin. Mengingat fakta mengenai lelaki itu dan Aylin belum sepenuhnya terkuak.
Dengan pelan, Erine berusaha pergi menjauhi Saka. Dia berniat menyuruh pelayan memberitahukan Saka bahwa dirinya tak bisa ditemui.
"Aylin!" seru Saka.
Erine mendengus kasar. Dia benar-benar pada dirinya sendiri yang begitu ceroboh. Erine terpaksa berbalik badan dan menghadapi Saka.
"Mau apa kau menemuiku?" tukas Erine.
"Aku hanya memastikan apakah ini benar kau atau tidak," tanggap Saka. Dia memasang tatapan lekat untuk menatap Erine. Dengan lembut lelaki itu menyentuh pundak gadis tersebut. "Kau benar Aylin kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Pergilah! Aku harus mengurus Sadam." Erine melepas paksa pegangan Saka. Lalu menjaga, jarak dari lelaki itu.
"Ayolah... Kalau kau benar-benar Aylin, kau pasti merindukanku," ucap Saka seraya menarik lengan Erine. Lalu langsung memeluk gadis itu.
Mata Erine terbelalak tak percaya. Dengan cepat dia mendorong Saka. Kemudian memberikan tamparan ke wajah lelaki itu.
Di sisi lain, Haris sedang berada di apartemen pribadi milik Aylin. Dia sudah cukup lama berada di sana. Haris berusaha mencari sesuatu tentang hal yang mungkin saja dirahasiakan Aylin dari Sadam.
Saat baru mendapat panggilan dari Erine, Haris memutuskan pulang. Namun saat melangkah keluar, dia tak sengaja menabrak nakas. Sebuah map terjatuh dari sana.
Haris segera mengambil map yang terjatuh di lantai. Lalu memeriksanya. Di sana Haris menemukan selembar foto.
Haris dibuat syok saat menyaksikan foto yang ditemukannya. Dalam foto itu, dia melihat Aylin dan Saka bergandengan mesra. Mereka terlihat seperti pasangan kekasih. Tetapi di gambar tersebut, Aylin dan Saka tampak masih muda.
"Tunggu dulu. Ini tidak seperti yang kupikirkan kan? Jangan bilang Nona Aylin dan Saka..." Haris tak bisa meneruskan perkataannya karena merasa begitu kaget.
"Tuan Sadam..." lirih Haris. Dia merasa kasihan jika Aylin benar-benar berselingkuh dengan Saka. Untuk sekarang, Haris butuh bukti lebih banyak.
__ADS_1