Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 44 - Mual


__ADS_3

Kini Erine sedang berada di sebuah rumah kontrakan. Ia duduk di depan jendela. Memasang tatapan kosong ke arah luar.


Karena matanya sudah didonorkan untuk Sadam, sekarang Erine tak bisa melihat lagi. Hanya kegelapan yang bisa dilihatnya.


Dengan uang pembayaran dari Haris, Erine bisa membiayai kebutuhan hidup. Ia juga membayar seseorang untuk menyiapkan makanan serta kebutuhan lain. Semua itu Erine lakukan sampai dirinya terbiasa menjadi orang buta yang mampu hidup sendiri.


Jujur saja, semenjak ayahnya meninggal, Erine merasa kehidupannya menjadi hampa. Dia juga sadar bahwa dirinya tidak pantas mendapatkan cinta Sadam.


Merasa saking hampanya, seringkali terlintas dalam pikiran Erine untuk mengakhiri hidup.


'Aku merasa berada dalam kegelapan yang sebenarnya. Kesendirian membuatku merasa sangat tersiksa,' batin Erine. Tiba-tiba dia diserang rasa mual. Sebenarnya mual yang di alami sering terjadi dalam beberapa hari terakhir.


Erine benar-benar tak mengerti. Ia hanya menganggap mual yang di alaminya karena penyakit magh. Erine lantas mengatasinya dengan meminum obat magh. Namun anehnya mual yang dia rasakan tak kunjung reda.


"Kak Erine!" seru Nadia. Dia merupakan gadis yang dibayar Erine untuk membantunya setiap hari. Terutama dalam beraktifitas.


Nadia sendiri tinggal tidak begitu jauh dari kediaman Erine. Setiap hari dia selalu datang untuk memastikan keadaan Erine.

__ADS_1


"Nadia? Sejak kapan kau datang?" tanya Erine.


"Baru saja. Aku membawakanmu kue. Tapi kau baik-baik saja kan? Apa kau merasa sakit?" cecar Nadia yang khawatir.


"Tidak. Aku hanya merasa mual. Mungkin ini karena magh," jawab Erine sembari memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Magh? Bukankah tempo hari juga begini? Kenapa tidak sembuh-sembuh? Setahuku kau juga selalu makan teratur. Bagaimana kalau kita pergi ke dokter saja?"


"Tidak usah. Aku yakin ini bukan masalah besar."


"Bagaimana kau tahu? Kita setidaknya harus mencoba." Nadia mencoba membujuk Erine.


Alhasil Nadia tak bisa memaksa. Dia segera pergi setelah melihat Erine memakan kue bawaannya.


Hari demi hari berlalu. Mual Erine semakin parah. Perempuan itu mulai kewalahan. Bahkan Erine tak mau makan di beberapa waktu tertentu.


Sampai suatu hari Erine terjatuh karena tubuhnya terlalu lemah. Bersamaan dengan itu, untung saja Nadia datang. Dia bergegas membantu Erine.

__ADS_1


"Kak Erine!" seru Nadia sambil membantu Erine untuk bangkit.


"Kita harus ke rumah sakit! Aku nggak bisa biarin Kakak begini," ujar Nadia. Dia segera membawa Erine ke rumah sakit dengan menaiki taksi. Nadia bahkan tak peduli dengan penolakan yang diucapkan dari mulut Erine.


Setibanya di rumah sakit, Erine langsung melakukan pemeriksaan. Dia mendapatkan infus karena keadaannya terlalu lemah. Erine dipersilahkan istirahat terlebih dahulu.


Sekarang Erine baru saja terbangun dari tidur. Matanya terbuka lebar. Keputus asaan seketika menyerang pikirannya.


"Aku tidak tahan lagi..." isak Erine yang buru-buru melepas infus dan turun dari ranjang. Dia berjalan sambil berpegangan ke benda- benda yang ada di dekatnya. Hingga Erine sukses mendapatkan sebuah garpu.


"Lebih baik aku mati!" ucap Erine. Dia segera melayangkan garpu ke arah perut.


Pintu mendadak terbuka. Nadia datang bersama seorang perawat. Mereka bergegas menghentikan tindakan Erine.


Akan tetapi Erine tak terima. Dia berusaha memberontak dan tetap ingin menancapkan garpu ke badannya.


"Jangan, Kak! Kau harus pikirkan janin yang ada di perutmu!" ungkap Nadia. Membuat Erine membeku karena merasa terkejut.

__ADS_1


"Ja-janin? Apa maksudmu?" Erine menuntut jawaban.


"Iya, Kak. Ternyata mual-mual yang kau alami selama ini bukan karena magh. Tapi karena hamil," jelas Nadia.


__ADS_2