Istri Pengganti CEO Buta

Istri Pengganti CEO Buta
Chapter 42 - Tak Terduga


__ADS_3

Erine menenangkan diri dengan mendatangi Drajat. Di sana dia memberitahu ayahnya tentang keadaan Sadam sekarang.


"Aku harap Sadam segera mendapat pendonor jantung. Berdoa saja, Rin..." kata Drajat. Mencoba menenangkan Erine. Perempuan itu hanya bisa menangis di pundaknya.


"Ayah... Apakah aku boleh mendonorkan jantungku untuk Sadam?" tanya Erine.


Drajat sedikit terkejut. Dia segera bertanya, "Kau yakin? Kau tahu apa yang akan terjadi jika melakukan itu bukan?"


"Iya... Aku tahu..." sahut Erine.


"Kau sepertinya begitu mencintai Sadam," ucap Drajat sambil membelai kepala Erine.


"Aku hanya tidak ingin dia pergi. Setidaknya biarkan aku mengaku dan minta maaf padanya terlebih dahulu," kata Erine terisak.


Drajat tiba-tiba mengalami batuk. Erine sontak panik. Apalagi saat batuk Drajat semakin parah hingga mengeluarkan darah.


Erine langsung memanggil dokter. Drajat pun segera mendapatkan penanganan. Kini Erine disuruh menunggu di luar ruangan.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, ponsel berdering. Erine mendapat telepon dari Haris.


"Ya?" jawab Erine sambil menangis. Kesedihannya tentu bertambah parah ketika melihat keadaan Drajat memburuk.


"Aku menemukan pendonor jantung yang cocok untuk Sadam! Kau tidak usah cemas! Berdoa saja operasinya lancar agar Sadam bisa sehat kembali," ujar Haris dari seberang telepon.


"Benarkah? Syukurlah..." tanggap Erine. Setidaknya dia masih bisa berharap dengan kepulihan Sadam.


"Terima kasih untuk segalanya, Erine... Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau kau tidak ada. Aku harap kau bisa mewujudkan cintamu dan dapat berada di sisi Sadam pada setiap waktu," ucap Haris panjang lebar.


"Entahlah... Aku tidak yakin Sadam akan memaafkanku." Erine merasa pesimis.


Setelah lama menunggu, dokter yang menangani Drajat akhirnya keluar. Dia terlihat sendu sekali. Ekspresinya sudah memberitahu bahwa akan ada kabar buruk yang didengar.


Benar saja, dokter tersebut memberitahu Erine kalau Drajat tidak bisa diselamatkan lagi.


Erine menangis sejadi-jadinya. Dia bahkan sampai ambruk ke lantai. Kedua kakinya terasa lemah menanggung duka yang begitu mendalam.

__ADS_1


Untuk sekarang Erine fokus mengurus kematian ayahnya. Dia akan kembali demi melihat kondisi Sadam nanti.


Dua hari berlalu. Erine menghabiskan waktunya untuk meratapi kematian Drajat. Ayahnya itu sudah dikuburkan di pemakaman. Erine hanya berharap Sadam tidak mendapatkan nasib yang sama seperti sang ayah.


Setelah selesai dengan urusannya, Erine mencoba menghubungi Haris. Akan tetapi tidak ada jawaban sedikit pun dari lelaki tersebut. Nomor telepon Haris terus tidak aktif.


Erine lantas cemas. Dia pun mendatangi rumah sakit. Saat itulah Erine mendapat kabar mengejutkan. Yaitu tentang meninggalnya Haris.


"A-apa? Kalian pasti bercanda! Haris bahkan tidak sakit!" Erine tentu sulit untuk percaya.


"Dia memang tidak sakit, Mbak. Tapi kebetulan Haris mendonorkan jantungnya untuk pasien bernama Sadam," jelas perawat yang tengah menghadapi Erine.


"Apa?!" Erine kaget lagi. Dia tidak menyangka Haris menjadi orang yang mendonorkan jantung untuk Sadam. Mengingat lelaki itu tidak ada mengatakan apapun mengenai niatnya.


"Oh iya, Tuan Haris meninggalkan surat untukmu. Ini," ujar sang perawat. Dia segera pamit untuk pergi.


Erine menerima surat yang diberikan perawat. Dia memasang tatapan kosong sekarang. Sungguh, Erine merasa syok dengan fakta yang dirinya dengar. Alhasil dia hanya bisa menangis lagi.

__ADS_1


Kini Erine sadar akan pembicaraannya dengan Haris terakhir kali. Lelaki itu terkesan bicara seolah akan pergi selamanya.


__ADS_2