
Tom yang mendengar pernyataan Max, terlihat kecewa atas sikap pimpinannya ini. "Kenapa Anda begini, Boss? Bukan kah Anda benar-benar mencintainya?"
Max menatap dirinya dalam bayangan cermin yang amat besar di ruangan itu. "Aku memang mencintai dia, tetapi dia tidak mencintaiku," ucapnya dingin.
"Tapi dia telah mengandung anakmu, Boss. Kenapa setelah sekian lama kalian rajut hubungan ini, kau malah meninggalkannya setelah ia mengandung anakmu?"
Max menghunuskan tatapan tajam pada Tom. "Yang ada dalam rahimnya adalah anak Jodi. Laki-laki bayangan yang hanya ada di dalam kepala wanita itu. Selama mencoba menjalin hubungan dengannya, aku baru mengerti, seorang Maxim tak pernah ada di dalam hati dan kepalanya. Padahal, semenjak dulu, hanya dia yang ada di dalam seluruh hati dan pikiranku."
Suara Max bergetar penuh amarah. "Dia telah gagal dalam ujian menjadi istriku. Dia tak pantas lagi untuk aku pertahankan. Dia tak akan mengingat nama Max sebagai suaminya, tetapi nama Jodi akan terus terukir di dalam kepalanya." Rahang Max mengeras dan ia pun bangkit dari posisi duduknya.
"Sekarang, aku sudah tidak membutuhkannya. Kau buatkan surat perceraianku, dan kirim kepadanya secepatnya!"
Tom hanya bisa menundukan kepala. Setelah Max menjauh, Tom hanya bisa menggrlengkan kepalanya. "Dia sungguh membingungkan dan sangat keras kepala," gumam Tom prihatin.
Beberapa hari kemudian, Silka yang dilanda mual berat karena kehamilannya, mendapatkan sebuah surat yang dikirimkan oleh kurir. "Maximo Gonzalez?" gumannya melihat nama pengirim surat itu.
"Jadi, dia telah mengetahui keberadaanku? Bahkan mengirimkan gugatan cerai ini tepat di alamat aku tinggal." Tangan Silka menutup mulutnya yang tiba-tiba melongo.
"Jangan bilang, dia mengetahui perselingkuhanku ini?" Wajah Silka menjadi semakin pucat. Dia terduduk rapuh membenamkan wajahnya.
"Jodi, kau ke mana? Kenapa kau menghilang di saat aku sangat membutuhkanmu? Aku rela diceraikan oleh Max, tetapi aku sungguh membutuhkan kehadiranmu, Max. Kau di mana?" isaknya dalam pelukannya sendiri.
__ADS_1
Silka merasa hancur dan terjatuh dalam kesedihan. Hatinya dipenuhi dengan kekecewaan dan rasa kehilangan. Dia mencari jawaban dalam kehampaan yang melingkupinya, bertanya-tanya di mana Jodi berada dan mengapa dia menghilang di saat dia sangat membutuhkannya.
Dalam keheningan, Silka mengingat kembali momen-momen indah yang mereka bagikan. Dia mengingat senyuman lembut Jodi, dukungan yang tak tergoyahkan, dan kasih sayang yang begitu dalam. Tapi sekarang, semuanya tampak seperti ilusi yang hancur.
"Dia tak akan mengingat nama Max sebagai suaminya, tetapi nama Jodi akan terus terukir di dalam kepalanya," ucapan Max terdengar berulang kali di dalam minpinya. Rasa bersalah dan penyesalan mulai merayap di hati Silka. Dia menyadari betapa besar kesalahannya dalam menjalin hubungan gelap dengan Jodi, dan sekarang dia harus menghadapi konsekuensinya.
Dalam kebingungan dan kepedihan, Silka memegang perutnya yang semakin membesar. Dia merasakan dua kehidupan yang tumbuh di dalamnya, adalah anak yang tak bersalah dalam segala kekacauan yang terjadi. Air mata mengalir di pipinya, mencampur dengan rasa sakit dan keputusasaan.
"Dia telah gagal dalam ujian menjadi istriku," gema perkataan Max kembali menjadi mimpi buruk dalam tidurnya. Tapi apakah dia benar-benar gagal? Ternyata, cinta dan kepercayaan yang ia beri kepada Jodi, ternyata tak berarti apa-apa? Semua hanyalah hayalan, fatamorgana, ilusi, yang hanya meninggalkan rasa sesal yang teramat besar di dalam dirinya.
Dalam keheningan yang penuh penderitaan, Silka menyadari bahwa dia harus menghadapi kenyataan ini dengan kekuatan mencoba untuk bertahan. Dia harus menemukan jalan untuk melanjutkan hidupnya, untuk menjaga dua kehidupan yang ada di dalam rahimnya.
Dalam ketulusan hati, Silka berdoa untuk kekuatan dan ketenangan. Dia masih berharap, suatu hari nanti, mungkin Jodi akan hadir kembali untuk mendukungnya dalam perjuangannya yang sulit ini. Tapi saat ini, dia sadar, harus belajar mencari kekuatan di dalam dirinya sendiri.
Sambil mengusap air mata yang mengalir, Silka mengucapkan kata-kata terakhir dengan hati yang penuh harapan, "Semoga suatu hari, aku akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang sejati. Dan semoga cinta yang terabaikan ini akan menemukan jalan untuk mekar kembali."
*
*
*
__ADS_1
Enam tahun kemudian, Silka tengah menggandeng sepasang anak yang berjalan di sisi kiri dan kanannya. Kedua bocah itu terlihat menjadi pusat perhatian orang-orang yang lewat di sekitarnya. Kedua bocah itu, kini telah berusia lima tahun.
Anak perempuan bernama Jena, sementara yang laki-laki bernama Juno.
Silka melangkah dengan penuh kebanggaan, mengamati senyuman dan keceriaan di wajah anak-anaknya. Meskipun perjalanan hidupnya tak pernah mudah, dia tahu bahwa dia telah membuat keputusan yang tepat untuk melanjutkan hidupnya dan memberikan kehidupan yang terbaik bagi anak-anaknya.
Jena dan Juno adalah sinar matahari dalam kehidupan Silka. Mereka adalah bukti nyata dari cinta yang pernah ada antara Silka dan Jodi. Meskipun Jodi tidak lagi hadir dalam kehidupan mereka, Silka selalu menjaga kenangan tentangnya di hati dan menceritakan cerita indah tentang ayah mereka.
Kehidupan Silka dan anak-anaknya terus berkembang dengan kebahagiaan dan kasih sayang. Mereka membentuk ikatan keluarga yang kuat, mengisi hari-hari mereka dengan tawa dan canda. Silka berperan ganda sebagai ibu dan ayah bagi Jena dan Juno, memberikan mereka cinta tak terbatas dan mendukung impian dan aspirasi mereka.
Dalam perjalanan ini, Silka juga menemukan kekuatan baru dalam dirinya. Dia mengembangkan karir yang sukses dan menjadi panutan bagi anak-anaknya. Meskipun luka masa lalu masih ada, dia telah belajar untuk memaafkan dan melihat masa depan yang lebih baik.
Pada suatu hari, ketika Silka dan anak-anaknya berada di taman bermain. "Kalian bermain lah! Di sini Mommy akan menunggu kalian!" ucap Silka melanjutkan pekerjaannya menggunakan ponsel sebagai seorang yang menawarkan jasa sebagai ghost writer.
Kedua bocah itu menganggukan kepala. Lalu berpencar menuju tempat favorit mereka masing-masing. Juno memilih bermain di tumpukan pasir yang disediakan dalam taman itu.
Sedangkan Jena, memilih memandangi bunga-bunga yang tampak mekar dengan sangat cantiknya. Tak lama kemudian, ia melihat seorang pria yang tengah merenung dalam wajah yang terlihat hampa. Jena pun mendekati serta mengajaknya bicara.
"Halooo," sapa Jena dengan mulut kecilnya.
Pria itu tersentak dari lamunannya. Matanya beralih pada tubuh kecil, berambut coklat, sebahu.
__ADS_1
'Ah, wajah itu, kenapa terlihat begitu familiar?' gumam Max, pria yang disapa oleh Jena, di dalam hati.