Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
34.


__ADS_3

"Daddyyyy," teriak Juno serak menahan rasa sakit di tubuhnya.


Di seberang jalan, terlihat sebagian anggota berbaju hitam mengejar Max, dan sebagian lagi mengerumuni mobil yang baru saja melintas itu.


Perlahan, Max bergerak dan bangkit meski tubuhnya telah berlumuran d4rah dan luka. Juno bangkit dan mendekati Max. Padahal, ia baru saja merasa marah kepada sang ayah, tetapi setelah kejadian ini, Juno dengan begitu saja memeluk ayahnya itu.


"Daddy ... Daddy tidak apa? Apa yang sakit?" Akhirnya, anak laki-laki itu menangis memeluk ayahnya.


"Hmmfff ...." Max mengusap punggung anak lelakinya itu. "Jangan menangis! Kamu itu laki-laki. Daddy tidak apa-apa. Ini hanya lah hal kecil bagiku," ucap Max.


Juno melepaskan pelukannya. "Dad, kenapa selalu sombong?" celetuknya. "Padahal Daddy sudah banyak terluka," tambahnya lagi.


"Ini belum seberapa. Ada luka yang lebih sakit dibanding ini semua, meski ia luka itu tidak berd4rah, tapi bekasnya sungguh menganga di dalam hati. Itu jauh lebih perih dibanding ini."


Sementara itu, para anak buah Max yang mengepung kendaraan tadi, kini mulai menangkap sang pengemudi. "Berani sekali kau berbuat onar di tempat ini." Tom memberi kode kepada anggotanya yang lain untuk membawa pria pengemudi itu masuk ke halaman rumah.


"Daddy, Daddy, Daddy ..." Kali ini terdengar tangisan anak perempuan meski posisinya masih cukup jauh.

__ADS_1


Ia merasa takut melihat keadaan sang ayah, tetapi ia masih enggan mendekat karena teringat sang ayah baru saja membentak mereka.


Max mendengar tangisan Jena yang berada di pinggir jalan. Ia berusaha bangkit, meski tubuhnya sungguh terasa remuk karena seluruh tulang belulang dalam tubuhnya, baru saja terhempas di atas aspal.


Perlahan, ia berjalan mendekati Jena, sembari menggandeng tangan Juno. "Jena, ayo sini!" Juno membuka lebar kedua tangannya bersiap menerima pelukan sang putri.


Jena berlari langsung memeluk Max. "Daddy, maaf kan kami. Gara-gara kami, Daddy jadi luka-luka," tangisnya polos.


"Tidak apa, yang penting kalian berdua selamat," ucap Max, kali ini menenangkan Jena.


Sebuah teriakan terdengar datang dari arah halaman rumah mereka yang tertutup oleh pagar yang tinggi. Di sana, tampak seorang wanita memasang wajahnya yang panik.


Silka menatap para anak buah Max yang hanya terdiam di pinggir jalan. "Kenapa kalian diam saja? Cepat panggi 911!" titahnya.


Namum, para pasukan mafia itu hanya saling lirik dan menggelengkan kepala.


"Kenapa diam saja?" bentak Silka, kesal.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya. Kami tidak bisa memnggunakan jasa 911 untuk membawa Boss." ucap sang anak buah.


Silka memandang mereka dengan kebingungan. "Maksudmu?" tanyanya, mencoba memahami apa yang sedang terjadi.


"Boss Max adalah salah satu target utama dalam daftar hitam pemerintah. Jika kita melibatkan pihak kepolisian, itu hanya akan memperburuk situasi," jelas salah satu anak buah dengan cemas.


"Jadi, kalian tidak bisa membantu Max?" Silka merasa putus asa, tidak tahu harus berbuat apa.


Tom, salah satu anak buah Max, melangkah maju. "Nyonya, kami akan melindungi Boss Max dengan segala yang kami miliki. Kami tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya atau keluarganya. Namun, kami harus mencari cara lain untuk menanganinya."


Silka menghela nafas dan mencoba menguatkan hatinya. "Baiklah, lakukan apa yang bisa kalian lakukan. Tapi ingat, aku tidak akan tinggal diam jika ada yang terjadi pada suamiku atau anak-anakku."


Para anak buah Max mengangguk sebagai tanda pengertian. Mereka tahu betapa berharganya keluarga bagi Max, dan mereka siap melindungi mereka dengan nyawa mereka sendiri.


Sementara itu, Max berusaha mengumpulkan tenaganya untuk bangkit. Meskipun tubuhnya terasa lemah dan luka-lukanya sakit, tekadnya tidak pernah goyah. Ia tahu bahwa dia harus melindungi keluarganya dan mengungkap kebenaran di balik serangan ini.


"Daddy, apa yang terjadi? Siapa mereka?" tanya Jena dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

__ADS_1


__ADS_2