
Silka kembali berdiri tegak di tengah ruangan redup bagian pojok dari pusat perbelanjaan yang ia datangi saat ini. Ia menatap nanar orang yang telah mendorongnya barusan. Ternyata, orang itu adalah Beriel, salah satu anggota gengster Adel, pada masa kuliah yang dulu sering membulinya dengan semena-mena.
"Mungkin kau berpikir aku masih lemah seperti dulu, Beriel," ucap Silka dengan suara yang tenang tetapi wajahnya kali ini tak terlintas sedikit pun rasa takut.
"Tapi, ada yang perlu kau ketahui, aku yang sekarang bukan aku yang dulu. Kali ini, aku tak akan membiarkanmu menguasai hidupku lagi." Kepala Silka berputar mencari sosok yang lain.
Silka tersenyum sinis. "Tumben kau sendirian. Apa semua anggota geng-mu telah mencampakkanmu?" ucap Silka melipat kedua tangannya di dada.
Beriel memandang Silka dengan tatapan meremehkan. Dia tidak percaya bahwa Silka bisa melakukan apapun untuk melawan dirinya. "Kau pikir, kau ini seorang ratu? Jika kau memang jagoan, coba lah lawan kami dengan tanganmu sendiri! Bukan karena tangan gengster yang kau suruh itu," ucap Beriel menantang Silka.
"Apa maksudmu?" Silka tidak mengerti apa yang diucapkan Beriel.
Beriel tampak tertawa sinis. "Kau pura-pura lupa? Setelah Adel menghilang, kau pun tak pernah muncul lagi. Beberapa hari kemudian, kami mendapat kabar kondisi Adel sedang kritis di rumah sakit."
"Ada informasi yang mengatakan, Adel disiks4 oleh pria-pria kej4m setelah menguncimu di toilet kampus. Kami menunggu penjelasan darimu. Akan tetapi, kau tak pernah muncul lagi. Setelah sekian tahun, aku baru bisa melihatmu lagi, dengan laga kekuasaan telah berada di tanganmu," terang Beriel panjang lebar.
Silka tampak kebingungan dengan apa yang baru saja ia dapatkan. Karena, yang ia ingat usai disiram dan dikurung oleh Adel dan anggotanya yang lain, merupakan hari terakhirnya duduk sebagai mahasiswa. Hari itu, ia pulang dan kabur dari suaminya ke negara lain.
"Kau jangan mengada-ada! Lalu, sekarang keadaan Adel bagaimana?" tanya Silka.
"Kau ingin tahu bagaimana keadaannya?" Tanpa menunggu lebih lama, Beriel melangkah maju dengan penuh kepercayaan diri. Dia melancarkan serangan ke arah Silka, dengan niat ingin menghancurkan tulang belulang Silka, membalaskan dendam Adel.
__ADS_1
Namun, Silka dengan cekatan menangkis serangan Beriel dan dengan lincah menjatuhkannya ke lantai. Silka menggunakan teknik judo yang telah ia pelajari dengan penuh ketelitian dan kecepatan. Semua kemampuannya itu, tak hilang begitu saja meskipun ia tak pernah berlatih lagi setelah memiliki si kembar.
Beriel sangat terkejut dengan kemampuan Silka. Tubuhnya mulai oleng setelah ditumbangkan oleh Silka. Dia mencoba bangkit, tetapi Silka dengan cepat mengunci lengannya dengan kuat, membuatnya terjatuh lagi dengan kesakitan.
"Kali ini giliranku untuk menunjukkan siapa yang lemah," ujar Silka dengan nada tegas namun penuh dengan kepuasan.
Beriel berusaha meronta, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan kepiawaian Silka dalam beladiri judo. Silka terus menerapkan teknik-teknik yang ia kuasai, menjaga Beriel agar tidak mampu lagi untuk bergerak.
Di tengah keadaan itu, Silka melihat peluang untuk memberikan sebuah pelajaran kepada Beriel. Akhirnya, dia berhenti dan menatap Beriel dengan tajam.
"Mengapa kau tuduh aku atas apa yang terjadi dengan Adel?"
"Apa kau bisa menjawab pertanyaanku saja? Kenapa kau menuduh tak jelas seperti itu?" tanya Silka kembali.
"Karena beritanya, namamu selalu disebut oleh mereka! Siapa lagi gadis bodoh bernama Silka di kampus kita dulu? Hanya ada satu Silkana Aquela di kampus kita!"
Degh
Silka tersentak dengan berita tak terduga itu. Ia memang sangat membenci Adel dan seluruh kawanannya. Akan tetapi, tak mungkin seorang Silka yang hanya tahu belajar dan belajar bisa melakukan sesuatu yang buruk kepada orang lain.
Ia mencoba mengingat kembali apa yang terjadi. Dan, dalam kepalanya muncul sebuah nama. "Max? Apakah ini ulah dia?" gumamnya.
__ADS_1
"Siapa pun itu, yang penting aku harus membalaskan dendam Adel yang mati konyol karena ulahmu!" Beriel berlari cepat hendak melayangkan kakinya ke wajah Silka.
Namun, tubuh Silka masih cukup gesit dalam menghindari lawannya ini. Tubuh Beriel terus melaju menabrak rak barang super market yang ada di belakang Silka.
"Ini bukan hanya tentang melawanmu, atau pun Adel. Sepertinya, kepergianku saat itu meninggalkan banyak hal yang tidak aku ketahui. Namun, sepertinya mereka berhasil menghentikan siklus kekerasan yang diberikan Adel terhadapku. Meskipun aku mendapatkan kebebasanku, tetapi itu bukan keinginanku. Bahkan, aku sendiri tak tahu sama sekali apa pun yang terjadi dengannya," ucap Silka dengan nada santai.
Beriel, yang kesakitan dan merasa terhina, melihat Silka dengan penuh kebingungan. Dia mulai menyadari bahwa Silka bukan lah orang biasa seperti dulu menjadi bulan-bulanan anggotanya bersama Adel.
"Kau jangan terus mengelak, Silka!" kecam Adel tetapi suara semakin lemah.
"Sudah lah! Kenapa kau berlaku bahwa Adel itu adalah korban? Di sini, yang menjadi korban itu adalah aku! Aku lah orang yang selalu kalian remehkan, rendahkan, hina, dan sakiti! Jika memang dia sudah mati, maka silakan masuk neraka sekalian! Jangan bawa-bawa aku karena aku sama sekali tidak mengetahui itu!"
Silka mengeluarkan dompet dari tas yang masih rapi terpasang di bahunya. "Aku tak memiliki banyak waktu untuk adu kekuatan lagi denganmu. Sebentar lagi anak-anakku akan pulang dari sekolahnya."
Silka melemparkan segenggam uang tepat ke wajah Beriel. Uang-uang itu berhamburan dan melayang di udara menyisakan rasa terhina pada diri Beriel. "Itu bisa kau gunakan untuk pengobatanmu dan sekaligus uang duka terhadap Adel. Jika kau akan mati, tak perlu juga kau cari-cari aku! Karena aku sama sekali tak bersimpati padamu dan seluruh kawanan Adel yang lain!"
Silka melangkahkan kaki meninggalkan Beriel yang merasa sangat terhina luar biasa. "Awas kau cupu syialaaaan!"
Silka berjalan cepat keluar dari pusat perbelanjaan itu. Bibirnya tengah tersenyum puas melihat raut Beriel tadi. Sesaat kemudian, ia teringat kembali pada suaminya.
"Max, apa benar kau sudah mencintaiku semenjak dulu?"
__ADS_1