
"ZOMBIIIEEE!" teriak Jena dan Juno serempak membuat Silka yang masih lelap melompat dari tidurnya langsung memasang kuda-kuda pertahanan.
"Zombi? Mana zombi?" ucap Silka setengah sadar.
"Mommy, itu!" Jena berlari ke arah belakang tubuh Silka. Ia menunjuk tubuh berjalan terhuyung dalam suasana yang masih cukup gelap.
"Max?" tanya Silka.
Tubuh itu terlihat semakin jelas dan memang itu adalah Max, Daddy-nya anak-anak.
"Selamat pagi," ucap Max tampak lesu. Matanya terlihat merah, dan wajahnya terlihat cukup pucat.
Silka terkejut melihat Max berjalan terhuyung dan kondisinya yang terlihat lemah. Ia dengan cepat melupakan rasa kagetnya dan mendekati Max dengan penuh kekhawatiran.
"Max, apa yang terjadi? Kenapa kamu terlihat seperti ini?" tanya Silka dengan nada cemas.
Max mencoba tersenyum ke arah Silka, meskipun wajahnya terlihat pucat dan lesu. "Maaf, Silka. Aku tidak bisa tidur semalaman. Jena dan Juno terbangun berkali-kali dan membuatku sulit tidur kembali. Rasanya begitu sulit bagiku menunggu pagi di malam yang tak berujung."
Silka merasa iba melihat kondisi Max yang lelah. Ia menggenggam tangan Max dengan lembut. "Aku paham, Max. Kita perlu mencari solusi untuk masalah ini. Biarkan aku membantumu."
Mereka berdua saling pandang dengan tekad untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Silka kemudian melihat ke arah Jena dan Juno yang juga terlihat khawatir.
"Jena, Juno, tolong jaga Daddy sebentar. Mommy akan mencari cara untuk membantu Daddy mendapatkan istirahat yang cukup," kata Silka.
Anak-anak mengangguk serentak, memahami bahwa Daddy mereka butuh istirahat. Mereka berdiri di samping Max, memberikan dukungan dalam keadaannya yang lemah.
Silka pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa membantu Max tidur. Dia memilih minuman herbal yang dapat memberikan efek menenangkan dan membantu tidur, serta mengambil handuk kecil yang dibasahi dengan air dingin.
__ADS_1
Kembali ke ruangan, Silka memberikan minuman herbal itu kepada Max dan membantu mengusap wajahnya dengan handuk basah untuk memberikan sedikit kesegaran. Dia juga menenangkan Max dengan kata-kata lembut.
"Minumlah ini, Max. Ini akan membantumu rileks dan tidur lebih baik. Aku di sini untukmu, kita akan melewati ini bersama," ucap Silka sambil memberikan minuman herbal itu ke Max.
Max mengikuti instruksi Silka dan meminum minuman itu perlahan. Rasanya menenangkan dan mulai membuatnya merasa lebih rileks. Ia menghela napas panjang dan merasakan kesegaran dari handuk basah yang disentuhkan Silka ke wajahnya.
Perlahan-lahan, tubuh Max mulai merasakan kantuk yang datang. Matanya menjadi lebih berat, dan rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya mulai memudar. Dia merasa terbantu dengan kehadiran Silka yang peduli dan perhatian.
"Daddy, semoga Daddy bisa tidur nyenyak sekarang," ucap Jena dengan lembut.
Max tersenyum lemah kepada Jena dan Juno. "Terima kasih, Jena. Daddy akan berusaha tidur dan memulihkan energi. Kalian berdua adalah kekuatanku."
Tangan Max refleks menarik Silka membuat tubuhnya jatuh begitu saja pada tubuh Max. Jena dan Juno menutup mata akan tingkah orang tua mereka ini. "Jena, sepertinya kita harus segera bersiap untuk ke sekolah," ucap Juno menyiapkan diri sendiri.
Jena menganggukan kepalanya dan keluar dari kamar yang tidak besar itu.
Akan tetapi, tak ada sahutan sama sekali dari pria itu. Max telah pulas dalan tidurnya menjempit Silka bagaikan guling.
*
*
*
Setelah merasa cukup segar, Max terbangun dalam suasana rumah yang sangat sepi. Hanya terdengar suara air dari arah dapur. Ia bangkit dan bergerak pelan mengintip dari kamar.
Di sana ia bisa melihat seorang wanita yang sibuk mencuci piring. Ia baru sadar, saat ini sedang berada di apartemen tempat Silka tinggal bersama anak-anaknya. Kepala Sam bergerak mengelilingi ruangan, ia seperti kehilangan sesuatu.
__ADS_1
"Di mana mereka?" tanya Max.
Silka melirik ke arah sumber suara. "Kau sudah bangun? Mereka masih di sekolah."
"Di sekolah? Jadi tak ada pengganggu?" tanya Max mendekati Silka yang berada di dapur.
"Maksudnya?" tanya Silka.
Max langsung memeluk tubuh Silka dari belakang. "Kamu tahu, aku sangat merindukanmu?"
"Kau rindu? Bukan kah kau membenciku? Kau lah yang meninggalkanku dan menceraikanku dalam keadaan ha—"
Max membungkam mulut Silka dengan ciuman. Ciuman lembut semakin lama terasa semakin intens dan deru napas Silka jadi semakin memburu. Ditambah lagi, Max membelai benda yang ada di tubuh bagian dada milik Silka.
Max membelai benda yang ada di tubuh bagian dada Silka dengan lembut. Perlahan, jantung mereka berdetak seirama, menciptakan momen keintiman yang indah. Mereka terlibat dalam pelukan yang hangat, menggambarkan kerinduan dan cinta yang terpendam selama ini.
Dalam keheningan itu, Max melepaskan pelukan dan menatap mata Silka dengan penuh kasih sayang. "Silka, aku tahu banyak kesalahan yang telah terjadi di antara kita. Tapi saat ini, aku ingin kita memulai yang baru. Aku ingin memperbaiki semua yang telah rusak, mengisi kekosongan yang ada, dan membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu dan anak-anak kita."
Silka tersenyum lembut, air mata bahagia mengembang di sudut matanya. "Max, aku juga merindukanmu. Meskipun banyak hal yang telah terjadi, aku masih mencintaimu dengan sepenuh hati. Aku ingin kita bisa saling mendukung dan menemukan kebahagiaan bersama lagi."
Mereka saling memandang, terikat oleh ikatan cinta dan keinginan untuk memulai kembali. Tanpa kata-kata, mereka tahu bahwa saat ini adalah awal dari babak baru dalam hubungan mereka.
Max memegang tangan Silka dengan lembut dan membisikkan, "Mari kita menjalani setiap hari dengan saling mencintai, menghargai, dan mendukung satu sama lain. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik, yang selalu ada untukmu dan anak-anak kita."
Silka tersenyum sambil menggenggam tangan Max erat-erat. "Aku percaya padamu, Max. Kita akan menghadapi setiap rintangan bersama-sama dan membangun masa depan yang indah bagi keluarga kita."
Momen itu diisi dengan kehangatan dan harapan baru. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka tidak akan mudah, tetapi dengan cinta dan komitmen mereka, mereka yakin bahwa mereka dapat mengatasi segala hal.
__ADS_1
Max menggendong Silka ke kamar. Dari dalam kamar itu terdengar derit yang berbunyi dengan seirama. Mereka saling melepas rindu di masa dahulu. Kali ini dengan Max, bukan Jodi.