Istri Rahasia MAFIA

Istri Rahasia MAFIA
12. Siapa Jena dan Juno?


__ADS_3

Saat Max menatap Jena, dia merasa semakin yakin bahwa gadis kecil ini memiliki kemiripan yang mencolok dengan dirinya. Mata mereka memiliki warna yang sama, dan Max merasakan getaran aneh dalam hatinya saat gadis itu menatapnya dengan polos.


Gadis kecil itu tak berhenti memperhatikan Max dengan rasa ingin tahu. Dia tersenyum, membuat hati Max meleleh. Dia merasakan sesuatu yang spesial dalam momen itu.


Dengan rasa penasaran yang tumbuh, Max mendekati gadis kecil itu dengan hati-hati. "Hai, apa namamu?" tanya Max dengan lembut.


Gadis kecil itu mengangkat bahunya kecil. "Aku Jena," jawabnya dengan suara kecil.


Max tersenyum dan merasa seperti dunia berhenti sejenak. "Jena, namaku Max. Aku merasa seperti aku telah melihatmu sebelumnya. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"


Jena menggelengkan kepalanya, tetapi senyumnya tidak pernah hilang. "Aku tidak tahu. Mommy baru mengajak kami pindah ke tempat ini. Tapi aku senang bertemu denganmu, Tuan Max."


Max tersenyum kembali, terpesona oleh pesona dan kepolosan Jena. Dia merasa terhubung dengannya, seolah-olah ada ikatan yang tak terjelaskan di antara mereka.


Mereka berdua duduk bersama di taman, bercakap-cakap dan tertawa. Max mendengarkan riwayat hidup Jena, tentang keluarganya, sekolahnya, dan mimpinya di masa depan. Dia terpesona oleh kepintaran dan kecerdasan gadis kecil itu.


Waktu berlalu begitu cepat, dan Max merasa semakin tertarik pada Jena. Dia merasa seperti gadis kecil itu telah membawa kebahagiaan baru dalam hidupnya.


Saat Max sedang asyik mengobrol dengan Jena, tiba-tiba seorang bocah yang sangat mirip dengan Jena, tetapi rambutnya lebih pendek, menghampiri mereka dengan langkah ceria. Juno memiliki rambut cokelat yang sama dengan Jena, tetapi ada sesuatu dalam wajahnya yang membuat Max terasa seperti sedang melihat dirinya sendiri di masa kecil.


Max terpana sejenak, memperhatikan setiap detail wajah Juno yang mirip dengannya. Matanya yang penuh kepolosan, senyumnya yang menggambarkan keceriaan, dan ekspresi penasaran di wajahnya membuat Max merasa seperti sedang memandang cermin masa lalu.


Perasaan haru dan terharu meluap dalam hati Max. Dia tidak bisa menahan kekuatan ikatan emosional yang terbentuk dengan melihat kemiripan wajahnya sendiri pada Juno. Rasanya seperti takdir sedang memainkan permainan yang tak terduga, menghadirkannya dalam kehidupan dua anak yang begitu mirip dengan dirinya sendiri.


Max mengulurkan tangannya dan meraih bahu Juno dengan lembut. "Kamu sangat mirip denganku, Juno. Aku merasa seperti melihat diriku sendiri di masa kecil. Apa kamu tahu itu?"

__ADS_1


Juno mengangkat alisnya dengan rasa heran. "Benarkah, Tuan? Mommy selalu bilang aku dan Jena kembar identik, tapi aku tidak tahu apa artinya. Aku senang kita mirip, tapi aku juga ingin menjadi diriku sendiri."


Max tersenyum merasa lucu mendengar ucapan bocah sekitar lima tahun itu. "Tentu saja, Juno. Kamu adalah pribadi yang unik dan istimewa. Meskipun kita mirip secara fisik, kamu memiliki keunikan dan potensimu sendiri. Aku hanya terkejut melihat betapa besar kemiripan kita. Kamu akan menjadi seseorang yang hebat, Juno, dan jika diperbolehkan aku akan selalu ada di sini untuk mendukungmu."


Juno menatap Max dengan tatapan penuh curiga. "Terima kasih. Tapi Mommy bilang kalau kami tidak boleh mempercayai orang yang baru dikenal," ucap Juno sedikit ketus, dan bibirnya membulat.


Max tersenyum lebar melihat aksi yang sangat menggemaskan itu. "Apa yang dikatakan Mommy-mu memang benar. Tidak boleh gampang percaya, apalagi pada orang yang baru dikenal. Aku merasa sangat luar biasa bisa bertemu denganmu dan Jena."


Entah kenapa, Max merasa hadirnya Jena dan Juno dalam hidupnya membawa kebahagiaan tersendiri setelah rasa hampa berpisah dengan Silka. Meskipun masa lalunya penuh dengan rasa kecewa dan kehilangan, mereka mengingatkannya akan kenangan indah di balik kepalsuan itu.


"Ayo, Jena, kita harus kembali pada Mommy sekarang. Mommy pasti khawatir jika kita pergi terlalu lama."


Jena mengangguk dan memberikan senyuman manisnya. "Baiklah, Juno. Kita harus patuh pada Mommy ya."


Max melihat mereka berdua dengan perasaan campuran dalam hatinya. Meskipun rasa kecewa sedikit menyelimuti dirinya karena momen yang harus segera berakhir, dia juga merasa lega bahwa Juno mengingatkan Jena tentang tanggung jawab mereka pada ibu mereka.


Dia mengulurkan tangan dan menyentuh bahu Jena dengan lembut. "Baiklah, Jena, Juno. Kalian berdua harus kembali pada Mommy. Pastikan kalian berbicara dengan baik dan berjanji untuk menjadi anak-anak yang baik, ya?"


Jena dan Juno mengangguk dengan penuh semangat. Mereka berdua tahu bahwa mereka harus menepati janji itu dan memberikan kebahagiaan pada ibu mereka.


Dengan sedikit keberatan, Max melepaskan Jena dan Juno untuk kembali pada ibu mereka. Dia melihat mereka berjalan pergi, tangan mereka terjalin erat, dan hati Max dipenuhi oleh rasa haru campur bahagia.


'Dalam hidup mereka, aku hanya bisa berperan sebagai figuran yang sekedar numpang lewat dan menghilang,' pikir Max. 'Setelah itu, menjadi yang terlupakan seperti apa yang dilakukannya padaku.'


Max kembali merasakan sakit hati yang luar biasa atas pengkhianatan yang dilakukan Silka terhadapnya. Meskipun Silka bercumbu dengan dirinya sendiri sebagai seorang suami, tetapi di dalam kepala Silka dia bukan lah Max, tetapi Jodi, sang kekasih gelap.

__ADS_1


Seorang laki-laki menggunakan jas hitam dan kacamata hitam datang mendekat. "Boss, kita akan melanjutkan bisnis senjata api kepada kelompok Bruno. Mereka menanti kita dalam kurun waktu tiga puluh menit lagi."


Max menatap Tom dengan sedikit kesal merasa moment indahnya menjadi terganggu. Namun, kali ini ia tidak bisa berkomentar dan bangkit dari bangku taman yang mempertemukannya dengan dua bocah kembar menggemaskan tadi.


Sejenak, Max melihat Juno dan Jeni tengah berpegangan dengan seorang wanita. Mereka terus berjalan memunggunginya dan semakin menjauh.


Max pun beranjak menuju kendaraannya untuk bertransaksi dengan Klan Bruno.


*


*


*


"Juno, kenapa ya? Aku seneng banget ketemu Tuan yang tadi? Apa kamu mengenal dia?" tanya Jenis memasang wajah polosnya di rumah mereka.


Juno yang masih kecil memandang Jena dengan tatapan penasaran. Dia berpikir sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak tahu, Jena. Tapi dia terlihat familiar. Mungkin saja aku pernah melihatnya sebelumnya, tapi aku tidak ingat."


Jena mengangguk dengan wajah penuh kepolosan. "Aku juga merasa seperti itu. Tapi yang pasti, Tuan Max terlihat baik dan ramah. Aku senang bertemu dengannya."


Juno mengerutkan wajahnya. "Ingat kata Mommy! Jangan mudah untuk dekat dengan orang asing, dan jangan gampang percaya! Kata Mommy berbahaya!"


Jena mengangguk dan mereka berdua melanjutkan mengerjakan tugas sekolah mereka sebagai siswa di sekolah pendidikan usia dini, di negara itu.


Sementara itu, Max di dalam kamarnya selalu saja terngiang dengan wajah dua bocah kembar tadi. Ada rasa rindu yang tidak terbendung di dalam hatinya. Ia pun segera mengetuk-ngetuk ponsel miliknya.

__ADS_1


"Tom, coba kalian cari tahu anak kembar yang bernama Jena dan Juno. Cari tahu siapa orang tuanya dan di mana mereka tinggal!"


__ADS_2