
Max menatap Jena dengan penuh kasih sayang, meskipun wajahnya dipenuhi dengan rasa sakit dan kelelahan. "Sayang, Daddy akan menjelaskan semuanya kepada kalian. Yang pasti, kita sedang berada dalam bahaya, dan kita harus berusaha untuk melindungi diri kita sendiri."
Juno yang juga mencermati situasi itu berkata, "Daddy, kenapa mereka ingin melukai kita? Memangnya, apa yang kita lakukan?"
Max menghela nafas sejenak sebelum menjawab, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasi kompleks ini kepada anak-anaknya. "Intinya, ada orang-orang yang tidak senang dengan apa yang Daddy kerjakan, mereka sedang menjaga sebuah rahasia dan menutup rapat sebuah kebenaran. Mereka mencoba menghentikan Daddy agar tidak mengungkapkan kebenaran yang seharusnya diketahui oleh semua orang."
Jena menatap Max dengan penuh kebingungan. "Tapi Daddy, apa yang begitu penting sampai-sampai mereka ingin menyakiti kita?"
Max merenung sejenak, berusaha memilih kata-kata yang sesuai untuk menjelaskan kepada anak-anaknya. "Ada kebenaran-kebenaran yang dapat mengguncang dunia hitam yang kami geluti. Yang diprediksi, dapat mengubah segalanya. Dan bisa jadi kebenaran itu bisa menjadi ancaman bagi mereka yang berkuasa. Daddy telah menemukan jejak-jejak yang mengarah ke rahasia besar, dan itulah mengapa mereka ingin menghentikan Daddy."
Juno dan Jena saling pandang, mencerna informasi tersebut dalam pikiran mereka yang masih muda. Mereka merasakan adanya beban besar yang harus mereka hadapi, tetapi juga merasa semangat untuk melindungi keluarga mereka.
"Daddy, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Juno dengan mata yang terlukis jelas memiliki tekad yang kuat.
Max tersenyum bangga pada kedua anaknya. "Kita harus tetap bersama dan saling melindungi. Kita akan mencari cara untuk menghadapi musuh kita dan mengungkap kebenaran yang mereka sembunyikan. Kalian adalah kekuatan Daddy, dan bersama-sama kita bisa mengatasi ini."
Mereka berpegangan erat satu sama lain, saling memberikan dukungan dan kekuatan di tengah-tengah situasi yang sulit ini. Mereka adalah keluarga yang tangguh, dan mereka siap menghadapi apa pun yang datang.
Max berbalik kepada para anak buahnya yang setia berdiri di samping mereka. "Kalian semua adalah keluarga kami juga. Kita akan menghadapi ini bersama-sama. Bersiaplah, tidak akan ada kata mundur dalam kamus seorang Maximo Gonzalez."
Silka, yang telah menyaksikan semua kejadian ini dengan kekhawatiran yang mendalam, merasa tertekan oleh situasi yang semakin berbahaya bagi keluarganya. Namun, dia juga tidak akan tinggal diam dan membiarkan segalanya terjadi begitu saja.
__ADS_1
Silka mendekati Max, Juno, Jena, dan para anak buah Max yang setia. Dia menatap mereka dengan mata penuh tekad dan determinasi. "Kalian semua adalah bagian dari keluarga ini, dan saya tidak akan membiarkan apapun terjadi pada suami dan anak-anakku. Kita harus bersatu dan melawan mereka bersama-sama."
Silka memeluk Max yang tadinya sempat membuat dirinya kesal. Ia merasa sakit melihat keadaan Max yang buruk, tetapi ia terus berlaga kuat. "Aku akan membawamu ke rumah sakit," ucapnya merangkul Max dengan hati-hati.
"Sayang, kamu jangan membuatku malu di hadapan anak-anakku. Kalau hanya ini saja, bukan masalah besar bagiku. Selagi kalian baik-baik saja, maka sudah menjadi obat tanpa bahan kimia untuk seluruh luka di tubuhku ini." Max mengusap pipi Silka yang jelas menyemburatkan kecemasan yang cukup besar.
"Terima kasih, Sayang. Cintamu saja, sudah mengobati segala penyakit yang ada di dalam tubuhku," tambah Max lagi.
"Max? Ini bukan masanya main-main?"
Para anak buah Max memberikan hormat kepada Silka dan keluarganya yang terus melewati mereka, menunjukkan penghormatan dan kesetiaan mereka padanya sebagai keluarga yang membuat mereka tunduk. Mereka siap mengorbankan diri mereka sendiri demi melindungi keluarga Max.
Silka kemudian membalikkan pandangannya ke arah anak-anaknya yang masih penuh kekhawatiran. "Juno, Jena, kalian berdua adalah anak-anak yang kuat dan berani. Mommy tahu bahwa ini adalah situasi yang menakutkan, tetapi kita harus tetap bersatu dan melawan bersama-sama. Mommy akan melindungi kalian dengan segala yang Mommy miliki."
Silka kemudian mengajak anak-anak mengikuti langkahnya yang sedang memapah Max, dan mengangguk kepada para anak buahnya. "Mari kita mulai langkah berikutnya. Bersama, kita akan melawan musuh kita dan membawa kebenaran kepada cahaya. Tidak ada yang bisa menghancurkan keluarga ini selama kita masih bersama-sama."
*
*
*
__ADS_1
"Dasar tak becus! Bukannya menghancurkan mereka, malah tertangkap dengan b0d0hnya! Kenapa kalian semua b0d0h seperti ini?" teriak Jaguar murka.
Para anak buah yang ada di sisinya hanya bisa tertunduk dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Sekarang, setelah kalian tahu lokasi markas mereka, kalian harus bisa mengh4ncurkan mereka! Kita semua sudah tahu kelemahan Max. Anak kembarnya yang datang dari luar negeri dan wanita yang sangat dia jaga! Kalian sudah tahu keberadaan mereka bukan?"
Semua anggota mengangguk, tanpa memberi jawaban.
"Saya beri waktu hingga besok! Jika kalian tidak bisa menangkap anak-anak kembar itu, maka kepala kalian akan aku pengg4l!"
Keesokan hari, seperti biasa Silka mengantarkan dua anaknya ke sekolah tanpa khawatir sama sekali.
"Mommy, lebih baik Mommy pulang. Kasihan Daddy sedang sakit di rumah. Nanti, kami akan pulang barenga uncle Tom dan yang lain," ucap Juno dengan laga dewasa.
Silka tersenyum gemas dan mencubit dagu putranya yang selalu berkarakter jauh dari usia yang sebenarnya. "Nanti Mommy akan menjemput kalian. Jangan kabur seperti kemarin ya?" ucap Silka.
"Tidak usah, Mom. Kan ada uncle-uncle yang jagain. Mommy rawat Daddy aja. Kasihan Daddy, Mom," ucap Jena dengan mata berkaca-kaca.
Silka mengusap rambut panjang Jena. "Baik lah, berarti Mommy menunggu kalian di rumah saja kan?"
Kedua kembar itu mengangguk cepat.
__ADS_1
"Kalau begitu, Mommy pulang, seperti permintaan kalian." Silka melambaikan tangannya dan memutar badan hendak kembali ke rumah yang mereka huni.
Tanpa ia sadari, dari sebuah sudut jalan, beberapa orang dari kelompok lawan telah bersiap menunggu kedatangan Silka.