
"Keluar!" ucap Max pendek. Dari suaranya, jelas sekali adanya rasa kesal karena merasa terganggu, meskipun oleh anaknya sendiri.
Jena merasakan amarah dari ayahnya. Tubuhnya bergetar perlahan mundur hingga tubuhnya sampai di pintu. Juno menyadari gelagat kembarannya yang sedikit aneh.
"Jena, kamu kenapa?" tanya Juno.
Jena menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tak sanggup berkata-kata. Debaran jantungnya sungguh sangat cepat. Dia tidak ingin membiarkan kemarahan ayahnya merusak suasana kedua orang tuanya. Juno yang peka terhadap perubahan suasana hati saudaranya mencoba mendekati Jena.
"Tenanglah, Jena. Daddy pasti sedang mengantuk. Jadi Daddy merasa terganggu karena kita datang di saat mereka sedang tidur siang," kata Juno dengan suara lembut. "Ayo kita keluar saja."
Jena menghela nafas dan berusaha mengontrol dirinya. Dia sadar diri karena rasa ingin tahu mereka yang dalam, membuat pintu kamar orang tuanya menjadi rusak. Dia menatap Juno dengan sayu.
"Kamu benar, Juno. Ini memang salah kita berdua," ucap Jena dengan suara yang lemah. "Tapi, aku rindu denga Mommy. Aku kan penasaran. Ngapain siang begini pintu sudah dikunci, makanya yaa kita coba buka pintunya."
Juno mengangguk setuju. "Aku juga penasaran, tapi yaa ... Daddy jadi marah kan?"
"Ya udah, kita main ke luar aja yuk? Siapa tau ada sesuatu yang menarik," ajak Jena.
__ADS_1
"Ayo!" Juno menggenggam tangan kembarannya itu dan mereka berjalan beriringan menuju keluar mansion.
Sementara itu, di dalam kamar, Max dan Silka mulai menyadari bahwa anak-anak mereka sedikit shock karena perlakuan Max barusan.
"Apa yang kau lakukan kepada mereka Max? Kau membuat anak-anakku ketakutan! Kau ini sungguh sangat mengesalkan!" Silka beranjak keluar dari selimut memilih kembali pakaian yang berceceran di lantai.
"Tunggu! Permainan kita belum selesai!" ucap Max mencoba menarik Silka.
Akan tetapi, Silka menepis tangan besar milik lelaki itu. "Sepertinya kau hanya memedulikan dirimu sendiri?" Silka melanjutkan berpakaian dan keluar tanpa izin Max.
Max menarik napas dalam-dalam, menyugar kepalanya beberapa kali. "Hmmmfff!" erangnya kesal. Akhirnya ia menuju kamar mandi menyelesaikan perkara yang masih gantung sendirian.
"Apa kau melihat anak-anakku?"
Namun, sang anak buah terlihat bingung. "Maaf, Nyonya. Saya tidak melihat Tuan dan Nona Muda." ucapnya menundukan kepala.
Silka beralih lokasi dan menemukan anak buah Max lagi. "Aka kau melihat anak-anakku?"
__ADS_1
Reaksi yang ia berikan sama persis dengan orang pertama. "Saya tidak melihat mereka, Nyonya," jawabnya menundukan kepala.
Silka menggaruk kepalanya dengan gusar. "Kalian ke mana, Nak?" ringisnya beralih tempat mencari si kembar.
Sementara itu, ternyata Jena dan Juno sedang asik bergandengan di pinggir jalan. Mereka menikmati pemandangan suasana di sekitar tempat tinggal yang baru.
"Jena, di seberang jalan sana ada yang tanam anggur. Waaah, buahnya banyak. Apa kita boleh mengambilnya?" tanya Juno terlihat sangat bersemangat. Ia berlari begitu saja tanpa memperhatikan kendaraan yang ada di jalan.
"Junoooo!" Jena melihat sebuah mobil sedang melintas dengan sangat cepat. Jena berlari mengejar kembarannya itu dan menarik Juno.
Namun, posisi mereka berdua saat ini sama-sama berada di tengah jalan. Pengemudi yang terlanjur mengendarakan mobilnya dengan kecepatan tinggi, telah berusaha menginjak rem, tetapi lajunya masih cukup kencang.
Tubuh Jena dan Juno tiba-tiba saja menjadi kaku di saat melihat kendaraan roda empat itu terus mendekat. Mereka memejamkan mata. Sebuah dorongan membuat mereka terpental ke arah pinggir jalan.
Braaaak
Terdengar suara benturan yang cukup hebat dari sebuah mobil yang baru saja menghantam tubuh seseorang.
__ADS_1
"Juno," ringis Jena mencoba bangkit dari posisinya.
Juno perlahan bangkit dan melihat sosok yang baru saja menyelamatkan mereka. Matanya terbelalak tak percaya melihat tubuh yang terbaring di atas aspal, dengan lumuran cairan merah yang kental, terus mengalir di tubuhnya.