
"Kau? Kurang ajar!" Silka melayangkan bogem mentahnya, tetapi belum sempat mendarat di bagian yang ia inginkan, tangan Silka telah ditahan dengan kuat oleh Max.
"Kau sengaja melakukan ini semua? Apa yang kau inginkan dariku, keparat? Jadi, kau hanya menginginkanku dan tubuhku? Setelah kau mendapatkan segalanya kau tega mencampakkanku, manusia bajingan!" Silka yang tak bisa menahan emosinya hanya bisa meluahkan amarah lewat serangannya, kini hanya bisa menangis mengingat masa-masa itu.
Ia merasa malu dan sangat terhina. Ternyata, ia selingkuh dengan suaminya sendiri yang benar-benar tidak dikenalnya sama sekali. "Kenapa? Kenapa kau lakukan ini? Apa yang kau inginkan dariku?"
Max kembali menarik dagu Silka, menatapnya dengan penuh kebencian. "Kau tak pernah mengenalku! Kau hanya wanita bodoh yang tak bisa mengetahui siapa aku sebenarnya! Bahkan, kau tak bisa mengetahui aku sangat mencintaimu dan ingin menyelamatkanmu dari ayahmu yang ingin menjualmu pada bandar judi!"
Silka terperangah mendengar penjelasan Max. Ia menggelengkan kepalanya tak percaya. "Tak mungkin! Bagaimana mungkin kau bisa mencintaiku sedangkan aku tak mengenalmu?"
Max melepaskan jepitan pada dagu Silka. "Saat ini jangan kau tanyakan lagi! Sekarang yang tersisa hanya kah rasa benci! Kau tak pernah memikirkan, Max yang telah mencintaimu semenjak belasan tahun lalu!"
"Kenapa kau lebih memilih Jodi yang tak kau kenal sama sekali dan terus menghindariku yang nyata menjadi suamimu?" Mata Max merah penuh amarah.
Silka merasa sangat malu, dan menangis memeluk dirinya sendiri. Max menatap datar padanya yang terus tertunduk.
"Sekarang, kita lihat saja siapa yang akan memenangkan hak asuh ini. Meski nama Jodi yang kau lekatkan pada mereka, dia tetap lah darah dagingku!" Max membuka kunci toilet itu, meninggalkan Silka menangis yang menahan bermacam rasa.
Beberapa saat kemudian, persidangangan pun dimulai. Hakim telah hadir dan semua persiapan telah dilakuan.
__ADS_1
"Kepada Tuan Maximo Gonzalez, dan Nyonya Silkana Aquela, diharap berdiri!" ucap Hakim.
Max menyampaikan dengan tegas apa yang tersimpan dalam pikirannya. "Saya yakin jika hak asuh mereka dijatuhkan kepada saya merupakan hal yang terbaik untuk Jena dan Juno. Saya adalah ayah kandung mereka berjanji akan menjadi orang tua untuk berkontribusi dalam mendidik dan membesarkan mereka. Serahkan mereka kepada saya, masa depan mereka lebih terjamin dibanding jika hanya bersama Silka yang bekerja serabutan sebagai penulis bayaran."
Silka menjadi marah mendengar apa yang diucapkan oleh Max. "Hakim, saya ibu mereka. Tentu saja rasa cinta yang saya miliki lebih besar dibanding siapa pun yang ada di dunia ini. Meskipun dia mengaku sebagai ayah anak-anakku, tetapi selama ini dia ke mana? Apa kontribusinya dalam membesarkan mereka? Walau pekerjaan saya hanya serabutan, saya yakin bahwa saya dapat memberikan kehidupan yang layak bagi mereka."
Hakim telah mendengar informasi masing-masing dari mereka dengan seksama. "Saya mendengarkan argumen dari kedua belah pihak. Terlihat bahwa kedua orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi Jena dan Juno. Kesejahteraan anak-anak adalah prioritas utama."
Max dan Silka mendengarkan putusan yang akan dijatuhkan oleh hakim dengan seksama.
"Setelah mempertimbangkan semua bukti dan argumen yang disampaikan, pengadilan memutuskan untuk memberikan hak asuh bersama antara Tuan Maximo Gonzalez dan Nyonya Silkana Aquela. Ini akan memungkinkan keduanya berbagi tanggung jawab dalam membesarkan anak-anak."
Max melirik Silka dengan perasaan tidak puas. "Maaf yang mulia, saya keberatan. Jika harus mengasuh bersama, ini menandakan bahwa saya harus sering bertemu dengan wanita itu. Saya sungguh tak sudi!"
Tok
Tok
Tok
__ADS_1
Suara pukulan palu milik hakim bergema. "Ini adalah keputusan final. Mereka masih di bawah umur, tentu membutuhkan kasih sayang dari kedua belah pihak. Jadi keputusan ini tidak bisa diganggu gugat!" Hakim bangkit dari posisinya dan meninggalkan ruangan.
Max hanya bisa diam meskipun ia tak bisa menerima putusan hakim.
Begitu pula dengan Silka merasa sangat kecewa dengan putusan yang baru saja dinyatakan tidak bisa diganggu gugat. "Padahal aku sendiri bisa memberikan yang terbaik bagi mereka. Aku tak membutuhkan dia untuk bekerja sama membesarkan si kembar. Ah, aku tak tahu harus mengatakan apa kepada mereka bahwa ayah mereka adalah si keparat itu."
Dengan keputusan pengadilan yang memberikan hak asuh bersama kepada Max dan Silka, Max merasa akan sulit untuk menemui anak-anaknya.
Setelah sidang selesai, Max dan Silka duduk bersama di ruang tunggu pengadilan. Suasana tegang terasa di antara mereka.
Max kembali menatap Silka dengan wajah datarnya. "Sepertinya, kita harus berbicara. Walaupun ini di luar keinginanku, tapi apa boleh buat. Ingat, kau tidak boleh menghalangiku bertemu dengan mereka!"
"Kenapa baru sekarang kau begitu menggebu ingin mendapatkannya? Bukan kah selama ini kau hanya bungkam meskipun tahu aku sedang hami?" cecar Silka tak terima.
"Meskipun mereka hadir di saat kau tak memanggilku dengan nama Max, setidaknya tes DNA akan membuktikan aku adalah ayah biologis mereka!" ucap Max dengan tajam.
"Diam kau! Kau hanya sengaja menjebakku, menikmati tubuhku, dan saat kau tahu aku hamil, kau mencampakkanku! Mereka tidak membutuhkanmu sebagai ayah mereka! Kau hanya manusia egois yang merasa semua yang kau inginkan harus dapat kau genggam!"
Max menatap Silkana dengan penuh amarah. Rahangnya mengeras dan tangannya telah beberapa kali bergerak dan urat-urat di pelipisnya mucul menahan amarah yang sangat besar. "Aku tak seburuk yang kau katakan! Setidaknya aku pernah mencintaimu, dan kau telah mengkhianati! Aku rasa itu adalah pembalasan yang paling pantas untukmu!"
__ADS_1
Max bangkit dari posisinya, sejenak ia melirik Silka. "Saat aku menjemput anak-anakku, kau tak memiliki hak untuk menghalangiku!" Max beranjak meninggalkan sejuta kekesalan di hati Silka.
"Kurang ajar! Kau bukan manusia! Aku benci padamu! Keparaaat!"