
Beberapa hari kemudian, Silka baru saja menyelesaikan latihan judo-nya. berjalan menatapi anak-anak yang sedang bermain rugby. Silka melihat sebuah bangku taman yang terlihat kosong memilih duduk di sana memperhatikan permainan anak-anak itu.
Silka ikut tersenyum memandangi anak-anak yang asik melempar bola menggunakan tangannya. "Ah, masa kecil mereka sungguh sangat indah. Berbeda sekali dengan masa kecilku setelah Mommy pergi ke surga."
Silka merasakan ada getaran pada ponselnya yang terletak di dalam tas. Ia pun fokus pada tas dan merogoh tas mencari alat komunikasi yang tak begitu banyak diketahui oleh semua orang.
"Awaaaas!"
Silka dikagetkan oleh teriakan anak-anak yang tadi bermain. Tetapi saat ini di hadapannya terlihat sebuah tubuh tinggi menggunkana hem bewarna biru berdiri bagai benteng pelindung.
Pria itu melirik ke arah Silka. Kini, tangannya tengah memegang bola rugby yang tadinya dimainkan oleh anak-anak tadi.
"Kau tak apa?" tanya pria yang tak ia kenal.
Sejenak Silka tersentak mendengar suara bariton milik pria yang tak dikenalnya itu. Ia menatap laki-laki tersebut mencoba menebak apakah dugaannya itu benar atau tidak.
Tak lama kemudian, Silka menggelengkan kepalanya. "Tak mungkin. Tak mungkin itu dia." Silka bangkit dan melirik pria yang terlihat sangat tampan tampa ada satu pun bulu di wajahnya.
"Max itu memiliki jenggot dan kumis yang sangat menyeramkan," ucap Silka.
Anak-anak yang tadinya bermain, segera mengejar pria yang menggunakan hem bewarna biru si penyelamat Nona yang duduk di bangku taman. "Bisa kah kau kembalikan bola kamu, Tuan?" tanya salah satu anak tersebut.
Pria itu melirik pada wanita tadi. Ia telah cukup jauh dan berjalan bagai orang yang ketakutan. Bibirnya tersenyum miring dan menatap anak-anak itu dengan tajam. "Kalau kalian tidak ingin mati, kalian harus bermain dengan hati-hati!" ucap pria itu menyorot anak-anak tadi dengan wajah dinginnya.
Anak-anak tersebut tergidik ketakutan. Perlahan mereka melangkah kan kaki mundur saling memberi kode untuk pergi.
"Mau ke mana kalian?" tanya pria itu.
"Ka-kami mau pulang saja, Tuan."
Pria itu berjalan mendekati anak-anak yang terus berjalan mundur. Hal ini membuat para bocah tadi semakin ketakutan dan berlari.
"Tunggu! Kalian mau ke mana?" tanya pria itu. "Ini, ambil lah punya kalian dan lanjutkan permainan kalian kembali!"
Namun, tak ada yang mendengar ucapan pria tersebut. Ia hanya terlihat bingung sembari menatap bola yang berbentuk elips di tangannya.
Tak lama kemudian, seorang pria setengah berlari mendekatinya. "Ada apa, Boss? Kenapa Anda terlihat bingung? Kenapa Nona Silka malah kabur?"
__ADS_1
Pria itu tak lain adalah Max. Ia sedang mencoba mengubah penampilannya. "Aku tak tahu. Entah bagian mana yang salah," gumam Max menatapi bola itu kembali.
"Saya ingin bertanya pada Anda, Boss. Apakah Anda serius ingin mendapatkan hati Nona Silka?"
Max menatap Tom dengan dingin. "Kau pikir aku datang ke sini untuk apa?"
Max menghela nafas dalam. "Tentu saja aku serius, Tom. Semenjak kejadian itu, aku mencintai Silka dan aku ingin dia tahu bagaimana perasaanku. Aku tidak ingin kehilangan dia kembali."
"Jika memang demikian, Anda tentu harus bisa mengubah sikap juga, Boss. Jangan hanya penampilan saja yang berubah! Jika Anda memang berniat mengubah diri, kenapa tidak sekalian mengubah karakter?"
Max menatap Tom dengan dingin. "Kau pikir mengubah semua itu segampang membalikan telapak tangan?"
Max berjalan meninggalkan Tom yang sedari tadi menahan senyuman. Setelah ia rasa jarak di antara mereka sudah cukup aman, ia kembali memantau pergerakan Max sedari jauh.
*
*
*
Instruktur memberi informasi ada siswa baru untuk latihan Judo tempat Silka berlatih. Seorang pria yang menurut mereka terlalu dewasa, tampak berjalan berdiri di sisi instruktur.
Setelah instruktur meminta siswa baru berdiri di sampinya, Silka, teringat pada pria tersebut. Dia adalah orang yang kemarin memegang bola rugby. Silka melangkah maju ke tengah tatami. Dia memandang heran pada pria yang cukup berumur itu berdiri di samping instruktur. Suasana terasa berbeda dengan seketika, hening dan mencekam karena sorot matanya yang tajam.
"Halo, nama saya Jodi," kata pria itu dengan dingin.
Silka kembali tersentak mendengar suara itu, begitu sama persis dengan pria yang memaksa untuk menikah dengannya.
"Ekhem ...." Pria yang mengaku bernama Jodi itu, menyadari Silka terlihat cukup terkejut karenanya.
"Saya ikut bergabung berlatih di sini karena saya dengar orang-orang di sini berlatih dengan bersemangat. Karena itu saya tertarik belajar judo bersama kalian semua. Saya sangat terkesan dengan keahlian orang-orang yang pernah berlatih di sini." Kali ini, Jodi berusaha mengubah caranya berbicara, dengan lebih ramah dan sedikit sopan.
Para siswa menyambut Jodi dengan gembira, dan Silka mengangguk sambil memberikan senyuman dukungan. Meskipun dia masih penasaran dengan kehadiran pria ini, Silka memutuskan untuk memberikan kesempatan dan mendukungnya dalam perjalanan belajar judo mereka.
Instruktur kembali memberikan dasar-dasar gerakan judo bagi pemula. Akan tetapi, Jodi terlihat tidak begitu tertarik mendengar penjelasan pria yang menjadi guru di tempat itu. Jodi tak henti menatap gadis berkacamata itu tanpa berkedip.
"Jodi!" Instruktur memanggil Jodi yang kedapatan menatap Silka tanpa henti.
__ADS_1
Jodi melirik pria yang menjadi instruktur tersebut dengan tatapan dingin. "Apa?" tanyanya dengan datar.
Instruktur ikut tergidik menatap sorot dingin yang diberikan Jodi. "Ehmm, sepertinya kamu cukup penasaran pada Silka? Apa kau tertarik latihan berpasangan dengan Silka? Kebetulan sekali dia juga baru masuk dan belajar Judo di sini."
Mendengar tawaran instruktur barusan, membuat senyuman terulas dengan begitu saja di di bibir Jodi, alias Max. "Tentu ... Tentu saja aku mau," ucapnya spontan.
"Maksudnya?" tanya Silka bingung.
"Oh, maksudku tentu saja aku bersedia. Aku mau belajar denganmu," ralat Jodi.
Jodi dan Silka berpasangan dalam latihan kali ini. Jodi selalu melakukan kesalahan dan selalu mendapat serangan dan kunci dari Silka.
'Apa benar dia Silka yang aku kenal?'
Gadis itu tak memedulikan Jodi yang mengaku sebagai anak baru. Dia terus saja memberikan serangan pada Jodi. Namun, pria itu tak terlihat lelah sama sekali.
'Setidaknya, aku bisa merasakan sentuhan dari tangannya langsung,' Jodi masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
Keesokan hari, latihan dimulai kembali. Jodi tak segan mendekati gadis itu. "Hai, apa kamu bisa mengajarkanku bagaimana cara cepat menguasai judo? Kamu tahu, semalaman tubuhku terasa sangat sakit karena hadiah yang kamu berikan kemarin."
Silka merasa sedikit malu mendengar permintaan Jodi, siswa baru itu. "Kamu terlalu memuji. Aku hanya siswa baru di sini. Aku tak semahir yang lain."
"Sepertinya pelatih sengaja membuat kita dekat. Karena pelatih tahu, kamu adalah orang yang cocok untuk mengajariku," puji Jodi kembali.
"Baik lah, jika memang itu mau mu, aku akan mencoba berbagi ilmu yang tidak terlalu banyak ini," ucap Silka yang terpaksa setuju.
Silka kembali mengajarkan ilmu-ilmu dasar yang ia dapatkan dari isntruktur. Akan tetapi, Jodi masih terlihat tak berminat dengan materi. Ia terus saja menatap Silka hingga membuat gadis itu menjadi risih.
"Maaf, Jodi. Aku rasa kelakuanmu itu kurang sopan. Jangan menatapku seperti itu!" ucap Silka.
"Oh, maaf. Kamu terlihat cukup menarik di mataku, makanya aku tak bisa fokus dengan apa yang kamu sampaikan," ucap Jodi dengan gamblang membuat Silkan melongo.
"Aku harap, kamu tidak berlaku berlebihan," ucap Silka memperingati.
"Apakah kamu sudah memiliki kekasih? Atau mungkin seorang suami?"
__ADS_1